![]() |
| Bugis-Makassar |
Dewasa ini, orang Bugis umumnya selalu mengindetifikasikan diri mereka berdasarkan kerajaan - kerajaan Bugis besar yang pernah ada, seperti Bone, Wajo, Soppeng, dan Sidenreng, serta beberapa persekutuan kerajaan kecil seperti yang terdapat disekitar Pare - Pare dan Suppa (Pinrang) serta di pantai barat hingga ke Barru dan wilayah Sinjai serta Bulukumba di sebelah selatan. Pengelompokan ini dimaksudkan untuk membedakannya dengan etnis di Sulawesi Selatan lainnya misalnya Makassar, Mandar dan Toraja.
Dalam ungkapan sehari - hari, istilah Bugis sering digandengkan dengan etnis Makassar sehingga menjadi "Bugis - Makassar". Menurut Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah Guru Besar UIN Alauddin Makassar: "Pengungkapan seperti itu disebabkan karena kedua suku tersebut merupakan satu kesatuan etnik kebudayaan yang dikenal dengan nama Bugis - Makassar".
![]() |
| Prof. Dr. Hj. Andi Rasdiyanah |
Penggunaan istilah orang Bugis atau Bugis sendiri tidak ditemukan keterangan yang memadai. Sebab hingga saat ini, bagi orang yang disebut orang Bugis sendiri jika mereka menyebut dirinya, tidaklah menyebut dengan istilah Bugis atau orang Bugis tetapi menggunakan istilah Ugi atau To Ugi, demikian juga karya - karya orang Bugis masa lalu seperti dalam Lontara. Namun demikian, ada kemungkinan bahwa istilah Bugis adalah evolusi dari istilah Ugi.
PEMIMPIN TO UGI / TO CINA
Istilah Ugi berasal dari akhir kata nama seorang pemimpin wilayah
Cina yang disebutkan di dalam I La Galigo yakni "La Sattumpugi".
Menurut Lontara Attoriolonge Pammana disebukan bahwa pada awalnya suku yang
kemudian disebut Bugis atau To Ugi masih merupakan bagian dari suku To Luwu.
Dibawah pimpinan La Sattumpugi, kelompok suku ini pindah ke daerah Cenrana (Salah satu Kecamatan di Kabupaten Bone sekarang) dan sebagian lainnya pindah ke daerah Pammana (Salah satu Kecamatan di Kabupaten Wajo sekarang). Wilayah kekuasaan La Sattumpugi' yang masuk daerah Bone (Cenrana) kemudian dinamakan Cina ri Lau dan daerah yang masuk dalam wilayah Wajo (Pammana) kemudian dinamakan Cina ri Aja. La Sattumpugi sendiri adalah pemimpin pertama di wilayah daerah Cina yang dikenal dalam I La Galigo, sehingga ia diberi gelar Datunna atau Opunna Cina.
Pada masa I La Galigo orang Bugis disebut To Cina atau orang yang mendiami wilayah Cina, baik Cina ri Aja maupun Cina ri Lau' yang pemimpin pertamanya adalah La Sattumpugi. Sebutan "To" ini dimaksudkan untuk membedakan mereka dengan beberapa kelompok manusia yang mendiami wilayah - wilayah lainnya di Sulawesi Selatan yakni wilayah Luwu disebut To Luwu, wilayah Mandar disebut To Manre dan seterusnya. Walaupun secara umum, terdapat kesamaan budaya dan tradisi di antara orang - orang yang mendiami wilayah Sulawesi Selatan, namun berdasarkan fakta - fakta yang hingga saat ini dapat disaksikan bahwa pada masa - masa awal tersebut, lambat laun telah membentuk budaya dan tradisi tersendiri. Akhirnya, terbentuklah entitas - entitas etnis Sulawesi Selatan sebagaimana yang ada hingga saat ini.
Dengan demikian, istilah "Bugis" yang merujuk pada To Ugi atau To Cina pada masa I La Galigo tersebut adalah sebuah istilah yang dapat diduga kuat muncul belakangan. Menurut cerita - cerita yang ada istilah "Bugis" muncul ketika mereka berinteraksi dengan orang - orang di luar komunitasnya. Hal ini dapat diamati dari istilah yang digunakan oleh orang Mandar, mereka menyebut orang Bugis hingga saat ini yakni istilah To Bugis bukan To Ugi. Hal lain yang dapat dijadikan alasan untuk memperkuat kesimpulan bahwa istilah yang digunakan oleh Portugis ketika pertama kali mengunjungi daerah Sulawesi Selatan, pada abad ke - 16 adalah istilah "Bougius". Istilah ini, dapat dipastikan merujuk pada kata Bugis bukan Ugi'.
ASAL - USUL MANUSIA BUGIS
Asal - usul manusia Bugis hingga kini masih tidak
jelas dan tidak pasti, berbeda dengan manusia di wilayah Indonesia bagian
Barat. Sulawesi Selatan sama sekali tidak memiliki monumen Hindu dan Buddha
atau prasasti baik dari batu maupun logam yang memungkinkan dibuatnya satu
kerangka acuan yang cukup memadai untuk menulusuri sejarah orang Bugis.
Sejak abad pertama Masehi hingga masa ketika sumber - sumber tertulis Barat cukup banyak tersedia. Sumber tertulis lokal yang dapat diandalkan hanya berisi informasi abad ke - 15 dan sesudahnya. Oleh karena itu, umumnya para ahli menyebutkan bahwa masa antara abad ke - 1 hingga abad ke - 10 M adalah masa - masa gelap sejarah Sulawesi Selatan. Pernyataan ini mungkin benar jika dimaksudkan bahwa wilayah di Sulawesi Selatan belum ditemukan cukup bukti adanya sebuah komunikasi masyarakat yang terhimpun dalam satu kerajaan, lengkap dengan semua institusinya, seperti halnya di wilayah - wilayah lainnya seperti Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Mereka juga menyebutkan bahwa tidak ada bukti - bukti tertulis yang dapat diandalkan untuk menggambarkan masyarakat Sulawesi Selatan sebelum abad ke - 10 M.
Oleh karenanya, tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengungkap kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dalam masa milenium pertama bahkan beberapa milenium sebelum tahun Masehi. Akan tetapi, bukti - bukti arkeologi yang telah ditemukan oleh beberapa peneliti menjadi satu - satunya dasar pijakan. Para ahli menyebutkan, terdapat bukti - bukti kuat bahwa pulau Sulawesi khususnya Sulawesi bagian Selatan adalah termasuk daerah penyebaran manusia prasejarah. Para ahli purbakala menduga, pulau Sulawesi telah dihuni oleh manusia yang diperkirakan terjadi sejak 10.000 sampai 2000 tahun sebelum Masehi.
Menurut Van Heekeren, bahwa kemungkinan besar wilayah Sulawesi Selatan telah dihuni manusia sejak pertengahan atau penghujung periode pleistosen akhir yakni sekitar 50.000 hingga 30.000 tahun sebelum Masehi. Hal tersebut didasarkan pada hasil penelitiannya, pada tahun 70 - an yang dilakukan pada situs permukaan Lembah Sungai Walannae di Cabenge, Soppeng.
Disana, ditemukan berbagai bukti industri alat serpih, bersama fosil hewan yang sudah lama punah, seperti Stegadon (sejenis gajah kecil). Meskipun Van Heekeren kemudian beranggapan bahwa fosil tersebut tidak berhubungan dengan artefak baru yang ditemukan dan bahwa artefak itu berasal dari zaman yang jauh lebih ke belakang. Akan tetapi, ilmuwan lain lebih cenderung berpendapat bahwa aktifitas manusia mungkin telah ada di Sulawesi Selatan sejak kira - kira 40.000 tahun lalu. Dengan kata lain, penghuni awal Sulawesi Selatan dianggap se - zaman dengan manusia Wajak di Jawa Timur, manusia Goa Niah di Serawak (Kalimantan) dan temuan - temuan Goa Tabon di Palawan,Filipina Selatan.
![]() |
| Homo Wajakensis (Manusia Wajak) |
Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami



Comments
Post a Comment