Menurut tradisi yang berlaku di kalangan masyarakat Bugis dan Makassar, dipercaya awal pembentukan pemukiman masyarakat di Sulawesi Selatan, khususnya Bugis dan Makassar diawali dengan ditemukannya sebuah benda keramat yang dinamakan Gaukeng (Bugis) dan Gaukang (Makassar) oleh sebuah komunitas. Benda Gaukeng ini diyakini sebagai sosok makhluk halus penjaga komunitas itu.
Gaukeng menyerupai segala sesuatu yang bentuknya tidak biasa atau mempunyai ciri yang aneh seperti biji buah yang telah kering, tunggul pohon, bajak tua, namun lebih sering menyerupai batu.
Menurut sumber - sumber lisan, dipercaya bahwa pada masa
lampau terdapat sebuah komunitas yang di mana salah seorang anggotanya menemukan
benda keramat itu (Gaukeng). Kemudian benda gaukeng dan penemunya disediakan sebuah tempat, kebun, kolam dan pelayanan khusus untuk merawatnya. Adapun penemu gaukeng diangkat
menjadi pemimpin komunitas, baik dalam urusan keagamaan maupun sekuler, dan
juga sebagai juru bicara Gaukeng itu. Dengan demikian, melalui sumber – sumber
lisan inilah ditemukan permulaan adanya pemimpin - pemimpin dari komunitas
Gaukeng.
Dalam beberapa sumber yang ada, hampir tidak ada ditemukan pembahasan mengenai asal - usul gaukeng maupun arti pentingnya. Namun demikian, kita masih dapat memahaminya melalui contoh serupa di tempat lain di Asia Tenggara. Seorang ahli "Paul Mus" mengatakan bahwa kepercayaan terhadap dewa - dewa penjaga yang bersemayam di batu - batu dapat ditemukan di Asia Tenggara, India dan Cina dan salah satu kepercayaan tersebut dapat ditemukan di Champa (daerah Vietnam bagian tengah sekarang) yang terdapat batu - batu keramat yang diyakini tempat Dewa bersemayam.
![]() |
| Paul Mus |
Penyebaran Komunitas Gaukeng
Nampaknya, tradisi lisan di Sulawesi Selatan lebih eksplisit, menyangkut peran batu - batu keramat ini dalam evolusi menjadi sebuah pemukiman. Menurut tradisi lisan, komunitas gaukeng asli di Sulawesi Selatan secara perlahan mulai meluas. Daerah yang merupakan tempat asli gaukeng dijadikan sebagai batas - batas wilayah sebuah komunitas gaukeng baru yang telah meluas.
Meluasnya komunitas ini karena tidak mampu lagi mencukupi keperluan komunitas gaukeng asli. Bagian batu dari komunitas asli pun dibagikan,
setiap komunitas baru mendapatkan gaukeng masing - masing. Komunitas baru ini
dianggap sebagai "anak" oleh komunitas asli (ibu) dan gaukeng milik komunitas "anak" ini
dianggap sebagai "pembantu" bagi gaukeng asli itu.
Komunitas gaukeng tersebar luas dibanyak tempat di seluruh Sulawesi Selatan. Tidak lama, mereka mulai bersinggungan dan perselisihan pun tak terhindarkan, khususnya dalam memperebutkan hak terhadap tanah dan air. Kekuatan fisik sering digunakan untuk mengatasi perselisihan ini karena tidak ada cara lain untuk menyelesaikan pertengkaran antara komunitas gaukeng ini.
Kemunculan To Manurung dan Berdirinya Kerajaan Komunitas Gaukeng
![]() |
| To Manurung |
Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami



Mantap min untuk menambah pengetahuan sejarah, saran saya min selanjutnya ceritakan kepercayaan masyarakat sulawesi selatan pra Islam min.
ReplyDelete