KERAJAAN GOWA-TALLO #PART 1

AWAL MULA LAHIRNYA KERAJAAN GOWA

Kerajaan Gowa-Tallo

Kerajaan Gowa-Tallo sebuah kerajaan yang tumbuh menjadi penguasa terbesar di Sulawesi, wilayahnya telah mencapai pesisir Kalimantan, Maluku dan Nusa Tenggara. Posisinya yang strategis menjadikan wilayah kerajaan ini sebagai salah satu jalur pelayaran dan pusat perdagangan terpenting di Nusantara. Dalam sejarah, pengaruhnya menurun ketika kalah dalam perang Makassar melawan Belanda (VOC) dan sekutunya.

Kapan dan bagaimana kerajaan Gowa itu berdiri belum ada orang yang dapat menentukannya dengan pasti. Di dalam sejarah atau buku-buku Lontara' hanya sangat singkat diuraikan "Awal Mula berdirinya Kerajaan Gowa" disitu hanya dikatakan: jauh sebelum "To Manurunga ri Tammalate" (Raja Gowa yang Pertama), Gowa pertama kali diperintah oleh Batara Guru. Siapa Batara Guru ini? Tidak dapat dinyatakan dengan pasti. 

Benjamin Frederik Matthes

Di dalam buku I La Galigo yang ditulis kembali oleh Dr. Matthes di dalam buku bunga rampainya yang berjudul "De Boegineesche Chrestomathie" disebutkan bahwa Batara Guru adalah putra sulung Patoto'E yakni kepala atau pemimpin para dewa di langit. Mula-mula Batara Guru dikirim oleh Ayahnya ke bumi untuk mengisi dan melengkapi bumi yang pada waktu itu masih kosong. Jadi, Apakah Batara Guru yang disebut dalam buku I La Galigo itu adalah Batara Guru yang memerintah di Gowa sebelum Tu Manurunga ri Tammalate (Raja Gowa yang Pertama)? Belum ada yang dapat mengatakannya dengan pasti. Akan tetapi, hampir semua kerajaan di Sulawesi Selatan mempunyai cerita sejarah atau Patturioloang tentang orang-orang dahulu kala yang mengisahkan bahwa raja pertama di kerajaan-kerajaan itu adalah Tu Manurung atau To Manurung.

Tu atau To berasal dari kata Tau yang artinya Orang sedangkan Manurung artinya yang Turun dari Langit atau dari kayangan seperti misalnya raja Gowa yang pertama ialah Tu Manurunga ri Tammalate atau sering juga disebut Tu Manurunga ri Gowa, raja Bone yang pertama disebut To Manurunge ri Matajang, raja Soppeng Riaja yang pertama disebut To Manurunge di Sekkanyili, raja Soppeng Rilau yang pertama disebut To Manurunge ri Libureng sedangkan di Luwu dikenal To Manurunge ri Attangware.

Tegasnya, banyak cerita-cerita tentang To Manurung di Sulawesi Selatan yang menyatakan bahwa raja-raja mereka adalah keturunan dari To Manurung yakni biasanya raja pertama yang turun dari langit atau dari kayangan. Cerita-cerita sejarah atau dalam bahasa Belanda sering disebut "Scheppingsverhalen" artinya cerita-cerita tentang tercipta atau terjadinya sebuah Kerajaan.

Sebelum Kedatangan To Manurung

kembali kepada sejarah Kerajaan Gowa. Dalam catatan sejarah tentang To Manurung versi Lontara' Gowa Kuno menceritakan sebelum datangnya To Manurung, rakyat Gowa hidup secara berkelompok-kelompok yang tidak dalam satu wilayah daerah Gowa. Mereka terdiri dari sembilan daerah otonom yang dikepalai seorang penguasa sebagai raja kecil atau gallarang atau yang lebih dikenal Kasuwiang Salapanga (Sembilan Kelompok Kaum) yang nantinya berubah menjadi Bate Salanpaga (Sembilan Orang Pemegang Panji).

Adapun Kesembilan Daerah itu, ialah:
1. Kasuwiang Tombolo,
2. Kasuwiang Lakiung,
3. Kasuwiang Saumata,
4. Kasuwiang Parang-Parang,
5. Kasuwiang Data',
6. Kasuwiang Agang Je'ne,
7. Kasuwiang Bisei,
8. Kasuwiang Kalling, dan
9. Kasuwiang Sero'.

Awalnya kesembilan Kasuwiang ini hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Akan tetapi, lama kelamaan karena adanya kecenderungan untuk menunjukkan keperkasaan dan semangat ekspansi, maka muncullah perselisihan. Untuk mengatasi perselisihan ini, kesembilan Kasuwiang kemudian sepakat memilih seorang pemimpin diantara mereka yang diberi gelar Paccallaya (Ketua Dewan Pemisah). Namun ternyata, rivalitas tidak berakhir dengan kesepakatan ini, karena masing-masing wilayah berambisi menjadi pemimpin Kasuwiang Salapanga. Disamping itu peran Paccallaya ternyata juga tidak mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi karena fungsi Paccallaya hanya sebagai lambang dan tidak mempunyai pengaruh kuat pada anggota persekutuan yang masing-masing memiliki hak otonom.

Kemunculan To Manurung

Untuk meredakan peperangan, diperlukan seorang figur yang kharismatik dan dapat diterima oleh kesembilan kelompok tersebut. Hingga suatu ketika, terdengar kabar bahwa disuatu tempat yang bernama Taka Bassia di Bukit Tamalate, hadir seorang Puteri yang memancarkan cahaya dan memakai dokoh yang indah. Mendengar kabar tersebut, Paccallaya dan para Kasuwiang Salangapa mendatangi tempat itu, mereka kemudian duduk tafakkur mengelilingi cahaya tersebut. Lama kelamaan, cahaya tersebut menjelma menjadi wanita cantik yang tidak diketahui nama dan asal-usulnya. 

To Manurung Bainea (To Manurung ri Gowa)

Baik Paccallaya maupun Kasuwiang tak mengetahui nama Puteri tersebut, sehingga mereka sepakat memberi nama Tu Manurung Bainea artinya orang atau wanita yang tidak diketahui asal-usulnya. Mereka melihat Puteri tersebut memiliki keajaiban, maka Paccallaya dan Kasuwiang Salangapa sepakat untuk mengangkat Tu Manurung sebagai Rajanya. Paccallaya kemudian mendekati Tumanurung, seraya bersembah:
"Wahai Sombangku, kami semua datang kepada Sombangku, kiranya Sombangku sudi menetap di negeri kami dan menjadi Raja di negeri kami". 

Permohonan Paccallaya tersebut kemudian dikabulkan dan ia berseru:
"Sombai Karaengnu Tu Gowa" (Sembahlah Rajamu wahai orang-orang Gowa).

Setelah itu, baik Kasuwiang maupun warga yang ada di sekitar itu berseru:
"Sombaku"

Setelah mempunyai seorang raja, rakyat Gowa kala itu bersatu padu untuk membangun istana diatas Bukit Tamalate. Istana itu besarnya sembilan petak yang kemudian dinamakan Istana Tamalate yang artinya yang tidak layu, karena kayu-kayu yang dipakai untuk dijadikan tiang-tiang istana itu tidak layu. Setelah istana itu selesai dibangun, kemudian tempat atau daerah itu kemudian dikenal dengan nama Daerah Tamalate, letaknya kurang lebih 10 KM di sebelah selatan pusat Kota Makassar.

Awal Pemerintahan To Manurung

Pada awalnya, bentuk pemerintahan di kerajaan Gowa dibawah pimpinan Tu Manurung mengandung unsur-unsur demokrasi yang terbatas antara raja Gowa yang pertama (Tu Manurung) dengan Paccallaya bersama Kasuwiang Salangapa. Maka dibuatlah sebuah ikrar atau perjanjian, dalam perjanjian itu disebutkan tentang pembagian tugas dan batas-batas wewenang antara Raja dalam memerintah rakyatnya. Maka dibentuklah suatu lembaga yakni Dewan atau Majelis Sembilan orang untuk memilih Raja yang dalam bahasa Belanda disebut "Raad van Negen Kiesheren". Akan tetapi, lembaga ini tidak mempunyai arti yang lebih.

Para anggota Bate Salanpaga ini, tidak mempunyai wewenang untuk membuat undang-undang atau peraturan-peraturan, mereka tidak mempunyai wewenang untuk menjalankan pemerintahan di seluruh kerajaan, mereka harus taat dan menjalankan segala perintah Raja. Bahkan, merekapun tidak lagi merupakan badan penasehat. Dalam hal ini, Raja memerintah secara mutlak, sabda Raja merupakan undang-undang yang harus ditaati dan harus dilaksanakan.

Raja seolah-olah menguasai seluruh hidup dan matinya rakyat. Kehendak Raja Gowa adalah undang-undang dan tidak boleh dibantah, kehendak Raja harus ditaati dan dipatuhi. Hal ini dapat dilihat dengan jelas, dalam kata-kata bahasa Makassar sebagai berikut:
"Akkanama' Numammio", artinya aku bersabda dan rakyat harus mentaati sabdaku. 
Jadi, kata-kata Raja itu sangat menentukan segalanya.

Diriwayatkan, Tu Manurunga kemudian menikah dengan Karaeng Bayo yaitu seorang pendatang yang tidak diketahui asal-usulnya. Hanya dikatakan berasal dari arah selatan bersama Lakipadada. Dari hasil perkawinan dengan Karaeng Bayo tersebut lahirlah Tu Massalangga Baraya yang kelak menggantikan sang ibu menjadi Raja Gowa Ke-2.



  Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami

Comments