KERAJAAN GOWA-TALLO #PART 2

Awal Mula Berdirinya Kerajaan Tallo

Dikisahkan sebelumnya, bahwa setelah Tu Manurung Bainea diangkat menjadi Raja Gowa yang pertama kemudian menikah dengan Karaeng Bayo yang kemudian melahirkan seorang anak bernama Tumassalangga Baraya yang kelak menjadi Raja Gowa yang ke-2. Siapakah Tumassalangga Baraya itu? dan Bagaimana masa pemerintahannya di Gowa pada masa itu?.

Dalam Patturioloang (cerita orang-orang dulu), dikisahkan bahwa anak yang luar biasa itu lahir setelah tiga tahun lamanya dikandung oleh Ibunya. Ketika anak itu lahir, ketika itu pula ia langsung dapat berjalan, bahkan berlari-lari dan berbicara. Anak ini cacat tidak seperti anak biasanya. Anak ini kemudian dinamakan Tumassalangga Baraya karena ia mempunyai bahu yang tidak rata yakni sebelah ke atas dan yang sebelah lagi ke bawah, daun telinganya Ma'buttu (berbonggol) dan daun telinganya yang sebelah lagi lebar, telapak kakinya sama panjang dengan tumitnya, pusarnya besar seperti baku' karaeng yakni sejenis bakul kecil yang terbuat dari daun lontar.

Walaupun terlahir cacat. Sang anak mempunyai keistimewaan, seperti yang dikatakan oleh Ibundanya; "Mengapa anakku cacat (sala'-salang)?, berkatalah ibunya: "bahwa anak saya cacat (iya na sala'-salang ana'ku) karena bahunya baraya (bagaikan pohon), telinganya seperti bukit yang melambai-lambai atau bukit yang tampak tinggi (Bulu' Mangape), rambut yang putus di Jawa didengarnya, kerbau putih mati di Selayar dapat diciumnya, merpati yang ada di Bantaeng dapat dilihatnya, kakinya seperti kaki timbangan, pusarnya seperti mata air besar dan tangannya pandai menikam. Dan juga, siapa yang menyembah kepadanya akan berlimpah emasnya, akan diberikan keselamatan dan akan menjadi rakyatnya".

Pada saat Tumassalangga Baraya telah tumbuh dewasa, Tu Manurung (Ibunya) memotong kalungnya menjadi 2 bagian, sebagian diberikan kepada anaknya dan sebagiannya dipegang sendiri. Setelah itu, Tu Manurung masuk ke dalam biliknya dan disanalah beliau menghilang. Dalam bahasa Makassar sering disebut dengan Istilah "Namantammo ni Bilika, Nataenamo ilalang" (Dan masuklah ia ke dalam bilik, dan tidak ada lagi ia di dalam). 

Jadi, Apa sebab dan bagaimana Tu Manurung wafat? Tidak diceritakan dalam buku Sejarah Gowa (Patturioloang). Hanya dikatakan bahwa sesudah Tu Manurung menyerahkan sebagian kalungnya kepada anaknya, maka Tu Manurung masuk ke dalam biliknya, lalu Tu Manurung menghilang. 

Adapun sebagian kalung yang diserahkan Tu Manurung kepada anaknya Tumassalangga Baraya disebut Tanisamang artinya yang tidak ada samanya atau yang tidak ada taranya. Kalung atau rantai Tanisamang ini juga kemudian menjadi benda pusaka atau kalompoang kerajaan Gowa yang penting.

Sama halnya dengan ayahnya Karaeng Bayo pun tidak diketahui keadaannya. Kemana ia pergi? dan Bagaimana cara atau dimana ia wafat? Tidak disebutkan sama sekali di dalam Patturioloang. Hanya dikatakan bahwa Karaeng Bayo, meninggalkan sebuah senjatanya yang disebut Tanru' Ballanga dan Sudanga kepada anaknya Tumassalangga Baraya.

Tumassalangga Baraya kemudian menggantikan Ibunya menjadi Raja Gowa yang kedua. Tentang raja Gowa yang kedua ini, tidak banyak diceritakan tentang siapa istrinya? Kapan dan dimana beliau kawin? Tidak diceritakan pula Bagaimana beliau wafat?.

Mengenai siapa istrinya? dan bagaimana Tumasalangga Baraya wafat? tidak dinyatakan dengan pasti. Akan tetapi, di dalam Patturioloang, dikatakan bahwa Tumassalangga Baraya juga menghilang sama halnya dengan To Manurung dan hanya diceritakan bahwa Tumassalangga Baraya hanya berkata kepada rakyatnya, beliau mengatakan:
"Mammempomako" (Duduklah kalian)

Kemudian Tumassalangga Baraya pergi menuju ke arah utara, ke bukit-bukit di sebelah utara Jonggoa. Tidak lama kemudian, halilintar menggelegar dan hujan pun turun di hari yang panas. Pada saat itulah, Tumassalangga Baraya menghilang dari pandangan.

Tumassalangga Baraya kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama I Puang Loe Lembang sebagai raja Gowa yang ke-3. Lalu, I Puang Loe digantikan oleh puteranya yang bernama I Tuniatabanri sebagai raja Gowa yang ke-4. Tunianatabanri digantikan pula oleh puteranya yang bernama Karampang ri Gowa sebagai raja Gowa yang ke-5. Raja Karampang ri Gowa digantikan lagi oleh puteranya bernama Tunatangka Lopi sebagai raja Gowa yang ke-6. Selain dari raja Gowa yang pertama yaitu Tu Manurung, takhta kerajaan Gowa tidak pernah diduduki oleh seorang wanita.

Tentang raja-raja Gowa dari yang pertama hingga yang kelima, dari Tu Manurung sampai dengan Karampang ri Gowa tidak banyak diketahui informasi lengkapnya, tidak pula diketahui tentang peperangan-peperangan yang dilakukan oleh raja-raja itu. Berapa lama mereka memerintah, kapan, dimana dan bagaimana cara para Raja itu wafat dan sebagainya?.

Di dalam Patturioloang, hanya dikatakan bahwa sang Raja mewarisi pemerintahan dan kemudian menghilang. Ada yang menyebut, bahwa mereka (To Manurung, Tumassalangga Baraya, I Puang Loe Lembang, I Tuniatabanri, dan Karampang ri Gowa) kembali ke kayangan. Mulai dari Karaeng Tunatangka Lopi (Raja Gowa ke-6), barulah raja-raja Gowa mengalami kematian sebagaimana manusia biasa.


Konflik Internal Kerajaan Gowa

Singkat cerita, pada masa pemerintahan raja Gowa yang ke-6 Tunatangka Lopi. Kerajaan Gowa akhirnya mengalami konflik yang disebabkan oleh kedua puteranya Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero, mereka sama-sama ingin mewarisi takhta ayahnya. Hal-hal seperti inilah yang sering menimbulkan konflik diantara anak-anak raja, yang berambisi dan merasa dirinya yang berhak menjadi raja, maka timbul percekcokan dan pertikaian bahkan peperangan antara mereka yang berambisi dan merasa dirinya berhak menjadi Raja.

Ilustrasi

Setelah Tunatangka Lopi meninggal pada waktu beliau berlayar, perahu Karaeng Tunatangka Lopi mengalami kecelakaan karena pusaran air yang dahsyat dan beliau wafat ditelengkupi perahu yang ditumpanginya. Itulah pula sebabnya maka beliau diberi gelar Tunatangka' Lopi yang artinya Orang yang ditelengkupi Perahu. Dimana Raja tersebut mati tenggelam? Tidak diketahui dengan pasti lokasinya, ada yang memperkirakan peristiwa itu mungkin terjadi di sekitar lautan atau perairan antara Ujung Lassowa atau Ujung Bira dan Pulau Selayar.

Setelah Batara Gowa diangkat menjadi Raja Gowa ke-7 menggantikan ayahnya Tunatangka Lopi maka dengan paksa sebagian daerah Karaeng Loe ri Sero' diambil alih. Wilayah kekuasaannya meliputi Pacculekang, Pattalasang, Bontomanai Ilau, Bontomanai 'Iraya, Tombolo dan Mangasa.

Adapun daerah wilayah Karaeng Loe ri Sero yakni Gallarang Saumata, Gallarang Panammpu, Gallarang Moncong Loe dan Gallarang Parang Loe yang nantinya melebur menjadi Kerajaan Tallo, masih setia kepada Karaeng Loe ri Sero adik Batara Gowa. Mereka kemudian tetap menunggu sampai Karaeng Loe ri Sero kembali dari Jawa karena adanya pengambil alihan dari Batara Gowa.

Ketika Karaeng Loe ri Sero kembali dari Jawa, beliau mengetahui sebagian wilayahnya diambil alih oleh saudaranya, beliau pun tahu bahwa masih ada Gallarang yang masih setia kepadanya dan tetap menunggu kedatangannya. Beliaupun mencari tempat untuk menenangkan diri, tempat ini terletak di sebelah Utara Bangkala yang disebut Passanggaleang. 

Atas saran dari seorang Gallarang, maka Karaeng Loe ri Sero melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang kelak dijadikan sebuah Kerajaan. Akhirnya, semua rakyat yang masih setia kepadanya dikerahkan ke sebuah tempat yang agak tinggi kedudukannya (disebut Campagaya) untuk membuat pemukiman dan disanalah kemudian Kareng Loe ri Sero dan rakyatnya mendirikan Kerajaan. 

Ketika itu, kedua kerajaan yang memiliki hubungan saudara (berkerabat) ini ternyata tak pernah akur. Bertahun-tahun terjadi perang karena persaingan kekuasaan atau perluasan wilayah. Pertikaian pun berlangsung berpuluh-puluh tahun hingga awal abad ke-15.

 


Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami

Comments