SEJARAH "ASAL USUL LELUHUR SUKU MANDAR"

Suku Mandar

Sebelum menceritkan Sejarah Asal Usul Leluhur Suku Mandar, perlu kita ketahui arti dan asal-mula kata Mandar. Kita akan sampai pada beberapa pendapat untuk mengulas arti dan asal mula kata Mandar, karena memang menuai banyak versi tentang arti dan asal-usul kata Mandar, kita akan membahasnya satu persatu.

Arti dan Asal - Usul Kata "MANDAR"

Kata Mandar sebenarnya berasal dari kata Sipamandaq yang berarti saling menguatkan. Seiring berjalannya waktu, Sipamandaq yang terkesan terlalu panjang, akhirnya mengalami pergeseran dalam penyebutannya. Banyak masyarakat yang menyebut Sipamandaq menjadi Mandar.

Berdasarkan penuturan Masyarakat Balanipa (Salah satu kecamatan yang ada di Polewali Mandar), kata Mandar berarti sungai. Maklum, di kabupaten Polewali Mandar memang terdapat banyak sungai seperti sungai Balanipa, Tinambung, Campalagiang, Mapili, Karama, Lumu, Buding-Buding, Lariang dan Binuang.

Adapun Istilah Mandar berasal dari bahasa arab yakni dari Fiil Madli Hadara dan Masdar Nadran kata tersebut akhirnya berubah menjadi Mandar. Sesuai penyebutan dalam bentuk Masdar Mim yang berarti wilayah yang jarang penduduknya.

Selanjutnya, kata Mandar jika dikaitkan dengan bahasa Belanda, terdiri dari dua kata yakni Man (Orang) dan Dare (Berani). Penyebutan Mandar sebagai "Manusia Pemberani". Memang pas dengan kondisi masyarakat yang sangat gigih dalam memerangi kolonialisme Belanda.

Menurut Muhammad Darwis Hamzah seorang ulama kelahiran Pambusuang, 12 Desember 1938. atau yang biasa dikenal sebagai" "Bapak Intelektual Mandar", kata Mandar berasal dari kata Mandaq yang berarti kuat. Pendapat ini senada dengan penyebutan orang Belanda terhadap Suku Mandar.

Adapula yang mengungkap, asal mula penyebutan Mandar tidak lain karena keberadaan suku tersebut yang ada di dekat sebuah sungai Mandar. Sungai tersebut bermuara di bekas kerajaan Balanipa. Seiring berkembangnya zaman, sungai itu tidak lagi disebut dengan sungai Mandar, melainkan sungai Balanipa.

Sejarah "Asal Usul Leluhur Suku Mandar"

Untuk membahas sejarah Suku Mandar, kita harus mengenal Pitu Ulunna Salu (Tujuh kerajaan di hulu sungai) dan Pitu Ba'bana Binanga (Tujuh kerajaan di muara sungai). Dua kerajaan itu berada dalam satu wilayah kesatuan.

Masyarakat saat itu, memakai istilah Mandar untuk menyebut ikatan persaudaraan antar keduanya. Masyarakat yang tinggal di dalamnya menemukan banyak bentuk persaudaraan yang kuat. Bagi mereka, semua orang adalah saudara. Secara persaudaraan, suku Mandar menganggap bahwa mereka masih mempunyai tali persaudaraan dengan suku Toraja, Luwu, Bugis dan Gowa-Makassar. Suku Mandar percaya bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yaitu Ulu Sa'dan.

Nenek moyang laki-laki bernama Tokombong di Wura dan nenek moyang perempuan bernama Towisse di Tallang. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga disebut To Manurung di Langi. Pernikahan antara Tokombong di Wura' dan Towisse di Tallang melahirkan seorang anak yang bernama Toanua Pong atau Tobanua Posi. Dari sinilah lantas lahir tujuh orang anak, namun hanya lima yang diketahui namanya yakni I Lando Belua', Laso Kepang, I Lando Guttu, Yusu' Sambamban dan I Paqdorang. Banyak yang menyakini mereka merupakan cikal bakal lahirnya  Suku Mandar.

Adapun 7 kerajaan yang masuk wilayah Pitu Ulunna Salu, yaitu :
1. Kerajaan Tabulahan,
2. Kerajaan Aralle,
3. Kerajaan Mambi,
4. Kerajaan Bambang,
5. Kerajaan Rantebulahan,
6. Kerajaan Matangnga, dan
7. Kerajaan Tabang.

Sementara 7 kerajaan yang masuk wilayah Pitu Ba'bana Binanga, yaitu:

1. Kerajaan Balanipa,
2. Kerajaan Binuang,
3. Kerajaan Sendana,
4. Kerajaan Banggae,
5. Kerajaan Pamboang,
6. Kerajaan Mamuju, dan
7. Kerajaan Tapalang.

Suku Mandar, selain menjadi suku yang kaya akan kerajaan, suku Mandar juga terbilang unik dalam pemberian gelar  terhadap masing-masing kerajaannya. Perlu diketahui, jika setiap kerajaan mempunyai sebutan masing-masing untuk pimpinannya.

Nama gelar Raja di kerajaan Suku Mandar:
1. Arayang adalah gelar untuk Raja Balanipa dan Raja Sendana,
2. Maraqdia adalah gelar untuk Raja Banggae dan Raja Pamboang,
3. Maradika adalah gelar untuk Raja Tappalang dan Raja Mamuju,
4. Arung adalah gelar untuk Raja Binuang,
5. Indo Lembang adalah gelar untuk Raja Rantebulahan, Raja Matangnga, Raja Tabang dan Raja Bambang,
6. Indo Kadaneneq adalah gelar untuk Raja Aralle, dan
7. Indo Litaq adalah gelar untuk Raja Tabulahan.

Kerajaan Mandar berbeda dengan kerajaan lainnya, ketika banyak kerajaan yang saling memperebutkan wilayah maka kerajaan di Mandar saling bekerja sama. Karena sistem pemerintahan mereka yang berada dalam satu kesatuan kerajaan, sehingga meminimalis adanya perpecahan atau saingan kekuasaan antar kerajaan. 

Proses lahirnya Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba'bana Binanga bermula saat terjadinya persekutuan Appe Banua Kaiyang yang berarti empat rumah besar, meliputi Napo, Sumasundu, Mosso dan Todang-Todang. Seiring berjalannya waktu, empat rumah besar itu ingin mendirikan satu kerajaan. Maka, berdirilah kerajaan Balanipa di daerah Mandar.

Raja Pertama Balanipa I Manyambungi 



I Manyambungi putra Tomakaka Napo diangkat sebagai raja pertama. Dibawah raja pertama inilah Balanipa Mandar berkembang menjadi besar dengan melahirkan persekutuan dengan tujuh kerajaan yang ada di hulu dan muara sungai. Balanipa Mandar sendiri adalah ketuka atau bapak dari kerajaan lain di Pitu Ba'bana Binanga. 

Salah satu naskah lokal (Lontara') Suku Mandar, di dalamnya terdapat keterangan bahwa orang yang menghuni hulu Sungai Saddanglah adalah orang yang pertama menjadi cikal bakal lahirnya Suku Mandar. 

Adapun versi lain tentang leluhur Suku Mandar, versi ini dinamakan To Manurung yang berarti orang yang turun dari langit atau orang yang muncul begitu saja tanpa diketahui dengan pasti asal muasalnya. Sebagaimana artinya, dalam versi ini berpendapat bahwa leluhur suku Mandar muncul begitu saja dan ia mempunyai kelebihan yang luar biasa. Maissi Paissangann(Sakti Mandraguna), demikian masyarakat mensifati leluhur mereka. 

To Manurung ditemukan di Sungai Saddang tepatnya di hulu sungai Sulawesi Selatan tersebut. Beberapa Lontara dari Suku Mandar menjelaskan ia turun dari langit. Kedatangannya dari kayangan ke bumi serupa titisan dewa untuk mendamaikan isi bumi. Suku Mandar yang mempercayai paham animisme (yaitu prinsip hidup yang menyakini adanya roh pada setiap benda). Sehingga cerita mengenai leluhur Suku Mandar sebagian dibentuk dalam cerita seorang dewa yang turun ke bumi begitu saja. Karena paham animisme ini juga yang melandasi suku Mandar mempunyai ketaatan lebih terhadap hal-hal yang berasal dari langit.

Sungai Saddang

Cerita tentang To Manurung masih belum berhenti. Ada juga yang mengatakan, utusan dari langit yang menghuni Sungai Saddang itu akhirnya menikah dengan Towisse di Tallang yang tidak lain adalah sosok yang keluar dari kedalaman. Pernikahan mereka yang akhirnya melahirkan tujuh anak, di antara tujuh anak tersebut, ada nama Pongkapadang yang akhirnya menjadi cikal bakal Suku Mandar.

Pongkapadang menikah dengan Torijene', yakni orang yang dari kedalaman air. Versi lain mengatakan, Pongkapadang menikah dengan Sanra Bone. Pernikahan Pongkapadang melahirkan sebelas anak. Nama Taboninna Ana'Pong kapadang merupakan anak kesayangan Pongkapadang melebihi sepuluh anak lainnya. Seiring berjalannya waktu, Taboninna Ana'Pong kapadang menjadi sumber awal bertumbuhnya penduduk di Pitu Ulunna Salu (tujuh kerajaan yang ada di hulu sungai) serta Pitu Ba'bana Binanga. (tujuh kerajaan yang ada di muara sungai).

Sejauh ini belum ada yang pasti menjelaskan siapa istri dari Taboninna Ana'Pong kapadang. Namun. silsilah selanjutnya bisa ditelusuri, bahwa anak kesayangan Pongkapadang ini akhirnya mempunyai anak bernama Pa'doran dan Topali. Pa'doran anak pertama Taboninna Ana'Pong kapadang melahirkan Lamber Susu. Sementara Topali, anak kedua Taboninna Ana'Pong kapadang melahirkan To Dipatarung di Langi.

Cerita tentang To Manurung dan Pongkapadang, utusan dari langit yang akhirnya melahirkan keturunan di Suku Mandar belum berakhir. Sekalipun alurnya penceritaannya sedikit mirip dengan cerita-cerita sebelumnya, namun penyebutan nama tetap beda. 

Versi lainnya tentang leluhur Suku Mandar mengatakan, konon To Manurung yang turun di Sungai Saddang ada dua. Yakni To Kombong di Bura (To Manurung Laki-Laki) dan To Bisse di Tallang (To Manurung Perempuan) yang kemudian kedua utusan dari langit ini menikah. Alkisah, keduanya mempunyai anak yang bernama To Banua Pong yang berarti Orang di Kampung Tua. Di masa itu, To Banua Pong bermukim di Rantebulawang atau Rantebulahan. Hari berganti hari, To Banua Pong pun tumbuh dewasa. Ketika tiba masanya menikah, ia memilih menikah dengan sepupunya. Hingga lahirlah lima orang anak dari pernikahan keduanya. 

Versi kali ini juga menceritakan proses perjalanan kelima anak utusan langit tersebut. 

I Laso Belua menikah dengan seorang bangsawan yang berasal dari daerah Bone. Ia menikahinya pasca menelusuri sehelai rambutnya yang lepas dari sungai di saat mandi, ia lantas pergi ke daerah selatan dan kini menjadi leluhur orang Makassar.

Paqdorang salah satu anak To Banua Pong, ia meminang perempuan bernama Rattebiang. Pasangan ini melahirkan I Tasudidi, Sibannangang (akhirnya menjadi leluhur orang Mamasa), tidak ada data yang mengungkap nama dari anak ketiga. Akan tetapi, anak ketiga ini tidak lain adalah leluhur orang Masuppu. 

Dan, anak ke empat inilah yang bernama I Pongkapadang. Pongkapadang konon menikah dengan Sanro Bone dari Gowa. Pongkapadang memang sosok pelaut. Ia mengembara hingga ke pantai Ulu Manda' dan Mamuju. Mamuju akhirnya menjadi wilayah kekuasaan Pongkapadang. Pertemuannya dengan gadis Bugis dan Makassar inilah yang lantas mendasari bahwa Pongkapadang tidak hanya menjadi cikal bakal keturunan Suku Mandar, melainkan bangsa-bangsa di Sulawesi Barat, Tengah dan Selatan.

 

 

Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami

Comments