SEJARAH DAERAH SOPPENG SULAWESI SELATAN

Negeri Soppeng

Asal - Usul Nama Soppeng

Mencari jejak nama Soppeng, secara pasti memang bukan pekerjaan mudah karena nama itu lahir sejak zaman prasejarah. Hasil penelitian para ahli sejarah seperti HR Van Heekeren membuktikan kalau di wilayah Soppeng, telah ada kehidupan prasejarah yang sangat tua dengan temukannya berupa fosil-fosil binatang vertebrata dan peralatan flek atau batu serpi serta alat-alat dari batu, penemuan ini memperlihatkan bahwa di wilayah Soppeng telah ada kehidupan pada zaman batu. Namun, sumber-sumber secara tertulis, mengenai penamaan Soppeng di zaman batu belum ditemukan.

Salah satu sumber sejarah lain yang bisa menelusuri asal usul nama Soppeng adalah Lontara'. Dalam Lontara', nama Soppeng selalu disebut-sebut meskipun tidak menguraikan pengertian dan asal mula nama Soppeng. Seperti diuraikan dalam Lontara' Soppeng sebagai berikut:
"Iyyanae sure' puada adaengngi tanae ri Soppeng. Nawalainna Sewo-Gattareng, noni mabbanua tauwe ri Soppeng, naiyya to sewoE iyyanaro ri yaseng to Soppeng Riaja, iya to gattarengE iyana poaseng Soppeng Rilau...".

"Inilah kitab atau bagian yang mewartakan tentang daerah di Soppeng. Pada saat ditinggalkannya negeri Sewo dan Gattareng maka turunlah orang-orang bermukim di suatu tempat yaitu negeri Soppeng. Adapun orang yang berasal dari Sewo disebut orang Soppeng Riaja, sedangkan mereka yang berasal dari Gattareng kemudian disebut orang Soppeng Rilau..."

Dari penjelasan dalam Lontara Soppeng', disebutkan bahwa penduduk Soppeng pada awalnya berasal dari dua wilayah yaitu Sewo dan Gattareng. Tapi tidak menyebutkan mengapa wilayah itu kemudian dinamakan Soppeng.

Dari cerita-cerita rakyat yang diperoleh secara turun-temurun menjelaskan bahwa pemberian nama Soppeng itu diambil dari nama pohon yang mempunyai buah seperti anggur, orang Bugis dan khususnya Bugis Soppeng menyebutnya pohon caloppeng atau coppeng. Pohon coppeng tersebut tumbuh besar di dekat istana kerajaan Soppeng.

Buah Caloppeng / Coppeng

Perubahan kata Coppeng menjadi Soppeng karena pengaruh dialek bahasa Bugis Soppeng. Banyak kata-kata yang diawali huruf "C" oleh orang Bugis Soppeng mengubahnya menjadi sebutan "S" dan sebaliknya, seperti kata salo menjadi calo-calo atau sappo menjadi cappo. Apalagi memang di wilayah Soppeng sampai saat ini masih banyak tumbuh pohon coppeng. 

Masa Hukum Rimba atau Masa "Siyanre Balei Tauwe" di Soppeng

Masyarakat Soppeng sudah mengenal kehidupan sosial budaya dimulai sejak zaman batu. Sebagaimana dibuktikan hasil penelitian di desa Beru (sekitar 5 km dari CabengE, Kecamatan Lilirilau) pada 1947. Di desa itu ditemukan sejumlah peralatan yang terbuat dari batu. 20 tahun kemudian, dilakukan penelitian serupa dan ditemukan sejumlah peralatan yang sama. 

Tidak ada bukti yang bisa menjelaskan secara rinci, Bagaimana suasana kehidupan zaman batu, hanya disebutkan dalam catatan Lontara' bahwa masa itu adalah masa kelam dan disebut sebagai masa Hukum Rimba "Siapa yang kuat maka dia bisa bertahan hidup". Dalam istilah orang Bugis masa ini disebut "Siyanre Balei Tauwe" (artinya Orang Hidup Bagaikan Ikan), siapa yang bisa mengalahkan yang lain maka dia yang bisa mempertahankan kelangsungan hidup diri dan keluarganya. 

Masing-masing orang hanya mementingkan diri dan keluarga atau kelompok. Orang tidak saling memberi kabar, masing-masing hanya memperhatikan kelompoknya sehingga kehidupan manusia adalah kehidupan kelompok. Manusia berkelompok-kelompok membina kehidupan dan menjaga kelangsungan dari pemusnahan kelompok lain.


Bagaimana kehidupan di masa Siyanre Balei Tauwe, digambarkan dalam Lontara' Soppeng:
"Dena gare' riaseng arung, aga tettassisenna tauwe si ewa ada, pada marana'-ana' mani tauwe. Nasianre balena, nasia belli-belliayyanna tauwe. Detoni ade'e apagide' arung siaganiro ittana siyanre balei tauwe. Tekkeada tekkebicara".

"Tidak ada lagi penguasa yang dipertuan, sehingga orang-orang sama sekali tiada lagi saling memberi kabar berita, kecuali kepada sanak keluarga atau anak, istri. Hidup bagaikan ikan, saling makan antara satu sama lain orang-orang saling mengkhianati. Tidak ada saling mengharap, tidak ada aturan dan hukum, apalagi yang namanya peradilan. Dikatakan bahwa selama tujuh turunan, tidak dikenal adanya penguasa dan selama itu terjadi kekacauan tanpa ada aturan dan peradilan.

Masa Siyanre Bale diperkirakan berlangsung pada sekitar abad ke-14 atau tahun 1300-an, orang-orang hidup dalam kelompok kelompok kecil yang lama kelamaan jumlah orang dalam kelompok ini semakin lama semakin bertambah sehingga menjadi kelompok besar. Masing-masing kelompok ini hanya mementingkan kelompoknya dalam mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Setiap kelompok dipimpin seorang ketua yang lazim disebut Matoa.

Di wilayah Soppeng ada sekitar enam puluh matoa yang masing-masing matoa mempertahankan wilayah mereka dari penaklukan kelompok lain. Keenam puluh matoa ini sebagai cikal bakal lahirnya kelompok kelompok masyarakat Soppeng yang melahirkan komunitas tersendiri.

Para matoa ini yang patut disebut sebagai pahlawan yang menjaga wilayah Soppeng, baik karena serangan dari luar, maupun dalam membangun kehidupan peradaban secara perlahan-lahan di komunitasnya, sebelum datangnya To ManurungKetika masing-masing para matoa sudah mulai membangun peradaban di kelompoknya, mereka lalu membangun jalinan hubungan dengan kelompok lain secara perlahan-lahan. Hubungan antar kelompok masih sangat terbatas. Satu matoa tidak saling mempengaruhi dengan matoa lain.

 ASAL - USUL KEDATUAN DI TANAH SOPPENG

Disebutkan ada 3 periode turunnya To Manurung:
Periode pertama, disebut turunnya Tamboro' Langi, periode ini disebut pula turunnya PatotoE di puncak gunung Latimojong. Asal kedatangan Tamboro' Langi tidak diketahui pasti, hanya disebutkan berada di Boting Langi (Petala Langi).

Periode kedua, adalah turunnya Batara Guru yang biasa disebut dengan nama La Tonge' Langi di Luwu. Batara Guru merupakan putra sulung PatotoE. Proses kedatangan Batara Guru muncul dari sebatang buluh petung yang dalam bahasa Bugis disebut Ma' DeppaE ri Lappa Tellang. Istri Batara Guru bernama We Nyilittimo yang konon datang dari laut menjelma dari busa air, kemudian disebut ToppoE Busa Empong. Mereka inilah yang kemudian melahirkan keturunan sebagai cikal bakal lahirnya raja-raja di Sulawesi Selatan. 

Memasuki masa periode ketiga, To Manurung (Orang yang Turun dari langit). Di masa itu awal lahirnya kehidupan berpemerintahan, biasanya mereka yang dipercaya untuk menjadi pemerintah (raja) adalah orang yang dianggap berasal dari langit dan memiliki kemampuan supranatural dan mempunyai sifat bijaksana. Konon, mereka disengaja diturunkan ke bumi ini, diutus oleh dewa-dewa untuk menjalankan pemerintahan agar rakyat bisa hidup tentram, aman dan adil.

Dalam konsepsi masyarakat Soppeng, lahirnya To Manurung sebagai bentuk tingkat pemikiran masyarakat di masa itu. Suasana masa itu, cara berfikir masyarakat masih menghubung-hubungkan dengan hal-hal yang bersifat magis dan supranatural. Seorang yang dipilih sebagai pemimpin atau raja adalah yang dianggap memiliki hubungan dengan alam gaib, sehingga raja dan keturunannya selalu mendapat kehormatan dengan sebutan bangsawan.

Kehadiran To Manurung di Soppeng, sebagai bentuk atau cara orang-orang dulu dalam memilih seorang pemimpin diantara kelompok, memiliki karakter kepemimpinan, pemersatu, dan adil. Proses pemilihan yang berlangsung keras dan masing-masing memperlihatkan kelebihannya, sehingga siapa yang dinilai mempunyai kelebihan lebih dari yang lain, maka dia yang dipilih sebagai raja dan dianggap mempunyai hubungan dengan alam gaib karena kelebihannya tersebut.

Kedatangan To Manurung di Soppeng dapat di baca dalam kutipan Lontara', yang dalam terjemahan bahasa Indonesia nya sebagai berikut:
"Inilah kitab yang menceritakan tentang Tana Soppeng, ketika penduduk meninggalkan Sewo dan Gattareng. Maka turunlah penduduk untuk bermukim di Soppeng. Adapun orang yang berasal dari Sewo disebut orang Soppeng Riaja, sedangkan mereka yang berasal dari Gattareng kemudian disebut orang Soppeng Rilau. Demikian terbagi dualah orang Soppeng pada waktu itu, tanpa ada raja sebagai penguasa. Hanya terdapat sebanyak 60 ketua/kepala untuk kedua wilayah daerah tersebut. Para ketua itulah yang mengayomi negeri Soppeng sampai datangnya Paduka Petta ManurungE di Sekkannyili".

Ketika para matoa serta segenap matoa-matoa wilayah persekutuan Soppeng Riaja, mengatur perihal datangnya seorang To Manurung di daerah Sekkannyili. Maka segeralah disampaikan hal tersebut kepada matoa Ujung, matoa Botto, dan matoa Bila bahwa ada To Manurung di Sekkanyili. Kemudian Matoa ujung, matoa Botto dan matoa Bila berkata:
 "Sebaiknya hal itu diberitahukan pula kepada ketua persekutuan Soppeng Rilau yaitu matoa Salotungo"

Perkataan/saran ketiga Matoa tersebut, ternyata diterima oleh para matoa-matoa persekutuan Soppeng Riaja. Maka disepakatilah untuk mengundang mereka (matoa-matoa daerah persekutuan Soppeng Rilau). Setelah itu, maka datanglah matoa-matoa daerah persekutuan Soppeng Rilau, lalu matoa Soppeng Riaja berkata:
 "sebaiknya kita (para matoa-matoa Soppeng Riaja dan Soppeng Rilau) berdatang sembah, semoga niat kita dirahmatinya, kiranya beliaulah yang berkenan memimpin dan mengayomi kita sekalian dalam segala hal. Kendatipun ada putusan kita, tetapi tidak disukainya, maka kita pun akan tidak menyukainya". 

Setelah itu pergilah ke enam puluh matoa tadi menemui To ManurungE. Kemudian Matoa ujung, matoa Botto, dan matoa Bila berkata:
 "Hanya saja kedatangan kami sekalian ini, tidak lain adalah untuk memohonkan rahmatmu. Janganlah hendak-nya Paduka kembali gaib / menghilang (kembali ke kayangan) dan Paduka lah hendaknya yang menjadi raja kami. Maka pimpinlah dan bimbinglah kami kepada keselamatan dan kesejahteraan, ayomilah kami semua dalam menghadapi setiap masalah. Padukalah raja yang berkuasa atas diri kami dalam segala hal. Kalau pun ada putusan/pendapat kami; namun paduka tidak berkenan menyetujuinya, maka kami pun tidak akan mempertahankannya lagi".

Berkata Paduka To ManurungE ri Sekkannyili:
 "Hanya apabila engkau semua tidak mengkhianati diriku, hanya apabila engkau semua tidak menserikatkan daku".

Maka bersepakatlah antara paduka yang Mulia To ManurungE ri Sekkannyili dengan ke enam puluh matoa. Berkata pula paduka To ManurungE: 
 "Kusampaikan pula kepadamu sekalian; Ada pula saudara misanku/atau sepupu sekali yang turun (Manurung) di Libureng. Lebih baik engkau bermufakat bersatu pendapat, agar kami berdualah yang mencarikan jalan kebaikan untukmu semua. Dialah ManurungE ri Libureng sebagai raja Datu Soppeng Rilau dan aku Datu Soppeng Riaja. Bersepakatlah engkau semua dan jemputlah ia".

Setelah itu beranjaklah ke enam puluh matoa tadi untuk menemui/menjemput ManurungE ri Libureng disuatu tempat yang dinamakan GoariE. Maka ditemukannyalah Sang To Manurung (ManurungE ri GoariE/Libureng) sedang duduk di atas gucinya. Berkatalah matoa Ujung, matoa Botto dan matoa Bila:
 "Hanya saja kedatangan kami semua kemari ini, adalah untuk semata mata memohonkan rahmatmu. Janganlah hendaknya paduka kembali gaib (menghilang ke kayangan), agar padukalah yang dipertuan untuk memimpin kami kepada jalan keselamatan dan kesejahteraan. Mengayomi/melindungi kami semua dari segala marabahaya, mempersatukan kami secara ketat dan penuh berkah. Engkaulah raja, penguasa kami dalam segala hal. Kalaupun ada anak keturunan kami, putusan kami yang engkau tidak sukai/kehendaki, maka kami pun rela untuk tidak menyukainya".

Berucap ManurungE ri GoariE: 
 "Hanya saja kalau engkau semua tidak menserikatkan daku"

Lalu, disepakatilah ikrar tersebut. Itulah yang dinamakan janji setia antara Raja dengan orang Soppeng, yang terus menerus berkelanjutan secara turun temurun sampai kepada anak keturunan kedua belah pihak. Demikianlah asal muasal ceritanya sehingga hadir dua Raja/Datu di Tana Soppeng.




Terima Kasih telah berkunjung di Website kami

Comments