Lontara Wajo menyebutkan
bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan abad ke-17 dari Kota tengah,
Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama “Datuk TelluE'” (Bugis) atau
"Datuk Tellua" (Makassar), yaitu:
2. Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk
Pattimang atau Datuk Sulaiman.
3. Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih populer dengan nama
Datuk ri Tiro
Ketiga utusan tersebut tiba di Gowa pada tahun 1602. Akan tetapi,
Raja Gowa (saat itu I Manga'rangi Daeng Manrabbia, yang kelak masuk Islam
bergelar "Sultan Alauddin") yang masih sangat muda belum bersedia
diislamkan dan juga saat itu Gowa masih menjalin hubungan persahabatan dengan
Portugis sebagai penganut Kristen.
Gowa yang belum bersedia menerima utusan Aceh, disarankan oleh
Mengkubumi Gowa-Tallo "Karaeng Matoaya" agar ke Luwu, kerajaan yang
dihormati di Sulawesi Selatan. Raja Luwu "La Pattiware" adalah kakak
ipar Raja Gowa. Di sana pula telah lama berdiam kakaknya yang bernama "I
Mangarangi Tepu Karaeng". Atas saran itulah, maka ketiga ulama
tersebut berlayar ke Luwu. Mereka bertiga diantar oleh pedagang Melayu yang
bersimpati pada misi ulama tersebut.
![]() |
| Christian Pelras |
Menurut Christian
Pelras, sekitar tahun 1575, Abdul Makmur tiba di Sulawesi Selatan untuk pertama
kalinya dalam upaya menyebarkan agama Islam, namun misinya terhambat
berbagai hal seperti kegemaran masyarakat memakan dendeng babi, hati rusa
mentah yang dicincang dan disajikan dengan bumbu dan darah (lawa’ dara), serta
kebiasaan minum tuak.
Dia (Abdul Makmur) kemudian pindah ke Kutai, dimana dia telah
berhasil menyebarkan agama Islam bersama temannya Tuan Tunggang Parangan .
Kemudian Abdul Makmur kembali ke Makassar ditemani dua rekannya, Sulaiman
(Datuk Pattimang) dan Abdul Jawad (Datuk ri Tiro). Ketika dakwah mereka di
Makassar menghadapi tantangan besar, mereka pun meninggalkan Makassar menuju
Luwu.
Sebelum ketiganya pergi, mereka teringat akan pesan dari raja di
Pulau Kalimantan yang sempat mereka singgahi ketika menuju Pulau Celebes
(Sulawesi). Ketika itu sang raja menyarankan jika ingin menyebarkan agama Islam
di jazirah Sulawesi, maka yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah
mengislamkan raja Luwu. Karena menurut sang raja, Luwu merupakan kerajaan yang
tertua dan yang disegani di jazirah Sulawesi.
Berdasarkan data dari beberapa lontara’ mengenai
Islamisasi di kerajaan Luwu, menyatakan bahwa ketiga ulama itu meninggalkan
Makassar menuju Luwu setelah mereka mengetahui bahwa, “Meskipun kekuasaan ada
di Gowa, namun kemuliaan sebenarnya berada di Luwu (awatangeng ri Gowa,
alebbireng ri Luwu)”. Juga yang termulia adalah Datu Luwu, karena disitulah
asal semua arung atau raja di Sulawesi Selatan. Dengan kata lain, jika ingin
menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan, maka penguasa Luwu harus
diislamkan terlebih dahulu. Bukan semata karena prestise politik yang
pernah dipegang penguasa Sulawesi Selatan tersebut, akan tetapi juga karena
Luwu merupakan pusat mitos Sulawesi Selatan.
Dikisahkan, sebelum ketiga orang ulama ini tiba di pusat Kerajaan
Luwu di Malangke (Pattimang), perahu yang ditumpanginya (qimara) terlebih
dahulu berlabuh di daerah Bua tepatnya di Pandoso. Setibanya di daerah ini,
mereka bertemu dengan nelayan setempat yang bernama "Latiwajo", lalu
ketiganya meminta kepada nelayan tersebut untuk menyampaikan amanah kepada
pemerintah atau penguasa daerah Bua, bahwa ada tiga orang tamu yang ingin
bertemu dengan beliau. Mendengar permintaan ketiga orang tersebut, segeralah
Latiwajo menyampaikannya kepada "Maddika Bua" (Pemimpin daerah Bua).
Pada saat menerima pesan/amanah tersebut, Maddika Bua memanggil
salah seorang cendekiawannya yang bernama "Langkai Buku-Buku" dan
sekaligus memerintahkannya untuk bertemu dan menyambut ketiga tamu yang masih
berada di Pandoso. Beliau dengan serta merta memerintahkan seluruh perangkat
adatnya berkumpul untuk menyambut tamu tersebut dengan menggunakan perahu
perang yang diberi nama La Uli Bue, mereka berangkat ke Pandoso,
muara Pabbaresseng melalui Sungai Bua.
Setelah bertemu dengan Langkai Buku-Buku, ketiga ulama tersebut
memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke daerah ini yaitu membawa dan
ingin mengajarkan Islam.
Setibanya Langkai Buku-Buku di hadapan Maddika Bua, segeralah ia
menyampaikan maksud dan tujuan ketiga orang tersebut kepada Maddika Bua. Pada
saat itu juga, Maddika Bua langsung teringat mimpinya beberapa hari sebelumnya,
yaitu tiga matahari menyinari daerahnya (Bua). Maddika Bua memang telah
memahami keunggulan agama Islam.
![]() |
| Jejak Islam di Pandoso |
Sebelum ketiganya berangkat ke Pattimang (pusat kerajaan Luwu
waktu itu), ketiganya bersama masyarakat setempat membangun sebuah masjid di
desa Tana Rigella.
![]() |
| Masjid Jami Bua |
Namun, sang Datu Luwu tidak begitu saja mempercayainya. Datu Luwu pun bermaksud menguji kemampuan Khatib Sulaiman selaku pimpinan rombongan. Ia menganggap orang yang membawa agama yang besar pastilah memiliki kekuatan yang besar pula. Datu Pattiware pun mengemukakan keinginannya tersebut kepada Khatib Sulaiman, sang khatib pun menerima keinginan sang Datu. Sesuai dengan kesepakatan, apa pun yang dilakukan sang Datu juga harus dilakukan oleh Khatib Sulaiman begitupun sebaliknya dan apabila Khatib Sulaiman sanggup melakukan semua yang dilakukan sang Datu, maka raja dan seluruh masyarakat Luwu akan memeluk agama Islam, namun jika tidak maka ketiganya harus meninggalkan Tana Luwu.
Atas kehendak Allah SWT, Khatib Sulaiman dapat melalui tantangan yang diujikan La Pattiware kepadanya, Khatib Sulaiman pun sujud syukur karena telah melalui tantangan terbesar dalam mengislamkan jazirah Sulawesi.
Menurut teks Luwu dan Wajo, Datu Luwu La Pattiware Daeng Parabbung (memerintah 1585-1610) berhasil diislamkan pada tanggal 15 Ramadhan 1013 H atau 5 Februari 1603. Datu Luwu tersebut kemudian diberi gelar "Sultan Muhammad Mudharuddin" dan ketika mangkat diberi gelar "Petta Matiroe ri Ware’". La Pattiware menerima Islam sebagai agama bersama-sama dengan anggota keluarga istana dan para menterinya.
Setelah mendapat izin dari raja, ketiganya lalu berangkat mengislamkan daerah lain di jazirah Sulawesi. Setelah melaksanakan tugasnya, Khatib Sulaiman kembali ke Tana Luwu dan menetap hingga akhir hayatnya dan diberi gelar Datuk Pattimang karena ia dikuburkan di desa Pattimang, sedangkan Khatib Bungsu menetap di Bulukumba dan diberi gelar Datuk ri Tiro dan Khatib Tunggal menetap di Kerajaan Gowa dan Tallo dan diberi gelar Datuk ri Bandang.
Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami




Mantap admin
ReplyDelete