SEJARAH "MASUKNYA ISLAM DI SULAWESI SELATAN"


Pengislaman Nusantara dimulai di Aceh. Negeri itu telah memeluk Islam pada tahun 1400, sehingga digelar Serambi Mekah. Dari keterangan sejarah disebutkan, dalam tahun 1400 armada Samarluka dari Sulawesi masuk ke Aceh. Mungkin saja dari Luwu, sebab kerajaan Bugis pertama itulah yang paling kuat masa itu.

Pada tahun 1600, Sultan Aceh mengirim 3 orang utusan (ulama) ke Gowa melalui Malaka, Malaka ke Johor terus ke Pulau Mindanau (Philipina). Dari Mindanau menuju maluku Utara menemui Sultan Ternate.

Lontara Wajo menyebutkan bahwa ketiga datuk itu datang pada permulaan abad ke-17 dari Kota tengah, Minangkabau. Mereka dikenal dengan nama “Datuk TelluE'” (Bugis) atau "Datuk Tellua" (Makassar), yaitu: 
1. Abdul Makmur, Khatib Tunggal, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Bandang.
2. Sulaiman, Khatib Sulung, yang lebih populer dengan nama Datuk Pattimang atau Datuk Sulaiman.
3. Abdul Jawad, Khatib Bungsu, yang lebih populer dengan nama Datuk ri Tiro

Ketiga utusan tersebut tiba di Gowa pada tahun 1602. Akan tetapi, Raja Gowa (saat itu I Manga'rangi Daeng Manrabbia, yang kelak masuk Islam bergelar "Sultan Alauddin") yang masih sangat muda belum bersedia diislamkan dan juga saat itu Gowa masih menjalin hubungan persahabatan dengan Portugis sebagai penganut Kristen.

Gowa yang belum bersedia menerima utusan Aceh, disarankan oleh Mengkubumi Gowa-Tallo "Karaeng Matoaya" agar ke Luwu, kerajaan yang dihormati di Sulawesi Selatan. Raja Luwu "La Pattiware" adalah kakak ipar Raja Gowa. Di sana pula telah lama berdiam kakaknya yang bernama "I Mangarangi Tepu Karaeng". Atas saran itulah, maka ketiga ulama tersebut berlayar ke Luwu. Mereka bertiga diantar oleh pedagang Melayu yang bersimpati pada misi ulama tersebut. 

Christian Pelras

Menurut Christian Pelras, sekitar tahun 1575, Abdul Makmur tiba di Sulawesi Selatan untuk pertama kalinya dalam upaya menyebarkan agama Islam, namun misinya terhambat berbagai hal seperti kegemaran masyarakat memakan dendeng babi, hati rusa mentah yang dicincang dan disajikan dengan bumbu dan darah (lawa’ dara), serta kebiasaan minum tuak. 

Dia (Abdul Makmur) kemudian pindah ke Kutai, dimana dia telah berhasil menyebarkan agama Islam bersama temannya Tuan Tunggang Parangan . Kemudian Abdul Makmur kembali ke Makassar ditemani dua rekannya, Sulaiman (Datuk Pattimang) dan Abdul Jawad (Datuk ri Tiro). Ketika dakwah mereka di Makassar menghadapi tantangan besar, mereka pun meninggalkan Makassar menuju Luwu.

Sebelum ketiganya pergi, mereka teringat akan pesan dari raja di Pulau Kalimantan yang sempat mereka singgahi ketika menuju Pulau Celebes (Sulawesi). Ketika itu sang raja menyarankan jika ingin menyebarkan agama Islam di jazirah Sulawesi, maka yang harus mereka lakukan terlebih dahulu adalah mengislamkan raja Luwu. Karena menurut sang raja, Luwu merupakan kerajaan yang tertua dan yang disegani di jazirah Sulawesi. 

Berdasarkan data dari beberapa lontara’ mengenai Islamisasi di kerajaan Luwu, menyatakan bahwa ketiga ulama itu meninggalkan Makassar menuju Luwu setelah mereka mengetahui bahwa, “Meskipun kekuasaan ada di Gowa, namun kemuliaan sebenarnya berada di Luwu (awatangeng ri Gowa, alebbireng ri Luwu)”. Juga yang termulia adalah Datu Luwu, karena disitulah asal semua arung atau raja di Sulawesi Selatan. Dengan kata lain, jika ingin menyebarkan agama Islam di Sulawesi Selatan, maka penguasa Luwu harus diislamkan terlebih dahulu. Bukan semata karena prestise politik yang pernah dipegang penguasa Sulawesi Selatan tersebut, akan tetapi juga karena Luwu merupakan pusat mitos Sulawesi Selatan.

Dikisahkan, sebelum ketiga orang ulama ini tiba di pusat Kerajaan Luwu di Malangke (Pattimang), perahu yang ditumpanginya (qimara) terlebih dahulu berlabuh di daerah Bua tepatnya di Pandoso. Setibanya di daerah ini, mereka bertemu dengan nelayan setempat yang bernama "Latiwajo", lalu ketiganya meminta kepada nelayan tersebut untuk menyampaikan amanah kepada pemerintah atau penguasa daerah Bua, bahwa ada tiga orang tamu yang ingin bertemu dengan beliau. Mendengar permintaan ketiga orang tersebut, segeralah Latiwajo menyampaikannya kepada "Maddika Bua" (Pemimpin daerah Bua).

Pada saat menerima pesan/amanah tersebut, Maddika Bua memanggil salah seorang cendekiawannya yang bernama "Langkai Buku-Buku" dan sekaligus memerintahkannya untuk bertemu dan menyambut ketiga tamu yang masih berada di Pandoso. Beliau dengan serta merta memerintahkan seluruh perangkat adatnya berkumpul untuk menyambut tamu tersebut dengan menggunakan perahu perang yang diberi nama La Uli Bue, mereka berangkat ke Pandoso, muara Pabbaresseng melalui Sungai Bua.

Setelah bertemu dengan Langkai Buku-Buku, ketiga ulama tersebut memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke daerah ini yaitu membawa dan ingin mengajarkan Islam.

Setibanya Langkai Buku-Buku di hadapan Maddika Bua, segeralah ia menyampaikan maksud dan tujuan ketiga orang tersebut kepada Maddika Bua. Pada saat itu juga, Maddika Bua langsung teringat mimpinya beberapa hari sebelumnya, yaitu tiga matahari menyinari daerahnya (Bua). Maddika Bua memang telah memahami keunggulan agama Islam.

Jejak Islam di Pandoso

Maddika Bua pun berjanji bersedia mengantar mereka ke Malangke, pusat Kerajaan Luwu. Disampaikannya pula kepada utusan tersebut, bahwa dirinya bisa disyahadatkan asal tidak diketahui oleh "Datu La Pattiware Daeng Parrebung" (Raja Luwu pada saat itu). Sebab salah satu bentuk kedurhakaan apabila mendahului keputusan datu. Dari kejadian itulah sehingga Maddika Bua digelari Tandi Pau (artinya: tidak boleh dikatakan atau diucapkan).

Sebelum ketiganya berangkat ke Pattimang (pusat kerajaan Luwu waktu itu), ketiganya bersama masyarakat setempat membangun sebuah masjid di desa Tana Rigella. 

Masjid Jami Bua

Setelah mengislamkan penduduk Bua waktu itu, ketiganya pun diantar oleh Maddika Bua menuju Pattimang menghadap kepada sang Datu La Pattiware Daeng Parrebung. Setelah mereka merapatkan kapal di pelabuhan, Datuk Patimang, melihat situasi masyarakat Luwu yang masih menganut kepercayaan animisme dan banyak memuja benda-benda yang dianggap suci bagi mereka.

Namun, sang Datu Luwu tidak begitu saja mempercayainya. Datu Luwu pun bermaksud menguji kemampuan Khatib Sulaiman selaku pimpinan rombongan. Ia menganggap orang yang membawa agama yang besar pastilah memiliki kekuatan yang besar pula. Datu Pattiware pun mengemukakan keinginannya tersebut kepada Khatib Sulaiman, sang khatib pun menerima keinginan sang Datu. Sesuai dengan kesepakatan, apa pun yang dilakukan sang Datu juga harus dilakukan oleh Khatib Sulaiman begitupun sebaliknya dan apabila Khatib Sulaiman sanggup melakukan semua yang dilakukan sang Datu, maka raja dan seluruh masyarakat Luwu akan memeluk agama Islam, namun jika tidak maka ketiganya harus meninggalkan Tana Luwu.

Atas kehendak Allah SWT, Khatib Sulaiman dapat melalui tantangan yang diujikan La Pattiware kepadanya, Khatib Sulaiman pun sujud syukur karena telah melalui tantangan terbesar dalam mengislamkan jazirah Sulawesi.

Menurut teks Luwu dan Wajo, Datu Luwu La Pattiware Daeng Parabbung (memerintah 1585-1610) berhasil diislamkan pada tanggal 15 Ramadhan 1013 H atau 5 Februari 1603. Datu Luwu tersebut kemudian diberi gelar "Sultan Muhammad Mudharuddin" dan ketika mangkat diberi gelar "Petta Matiroe ri Ware’". La Pattiware menerima Islam sebagai agama bersama-sama dengan anggota keluarga istana dan para menterinya. 

Setelah mendapat izin dari raja, ketiganya lalu berangkat mengislamkan daerah lain di jazirah Sulawesi. Setelah melaksanakan tugasnya, Khatib Sulaiman kembali ke Tana Luwu dan menetap hingga akhir hayatnya dan diberi gelar Datuk Pattimang karena ia dikuburkan di desa Pattimang, sedangkan Khatib Bungsu menetap di Bulukumba dan diberi gelar Datuk ri Tiro dan Khatib Tunggal menetap di Kerajaan Gowa dan Tallo dan diberi gelar Datuk ri Bandang. 

 

Terima Kasih telah berkunjung di Website Kami

Comments

Post a Comment