Awal Mula Koalisi Kerajaan
Gowa & Tallo
(Dua Raja, Namun Hanya Satu
Rakyat
(Dua Raja, Namun Hanya Satu Rakyat
Dari kisah sebelumnya,
diketahui bahwa ternyata Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua, setelah
masa pemerintahan Raja Tunatangka Lopi. Pada perjalanan abad ke-15,
dua orang puteranya yakni Batara Gowa dan Karaeng Loe
ri Sero saling berebut tahta kerajaan sehingga terjadilah perang
saudara.
Dikutip dari
tulisan William P. Cummings bertajuk "Islam, Empire
and Makassarese Historiography in the Reign of Sultan Alauddin (1593-1639)"; Batara Gowa mengalahkan sang adik Karaeng Loe ri Sero, lalu kemudian sang adik
turun ke muara sungai Tallo dan mendirikan kerajaan baru bernama Tallo.
Adapun versi lain yang
menyebutkan bahwa Tunatangka Lopi memang membagi wilayah
Kerajaan Gowa menjadi dua untuk diberikan kepada dua anaknya Karaeng Gowa dan
Karaeng Loe ri Sero. Jadilah ada dua kerajaan yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan
Tallo.
Masa Pemerintahan Raja Gowa Setelah Tunatangka Lopi
Setelah kakak beradik
ini menjadi Raja di kerajaan mereka masing-masing. Pertikaian antara dua
kerajaan ini pun tak bisa dihindari. Dikisahkan suatu hari, ketika pasukan
perang Kerajaan Gowa ingin menaklukkan Malewang ternyata pasukan Kerajaan Tallo
juga sedang melakukan perjalanan menuju Malewang. Kedua pasukan bertemu
di Pa'bundukang sebuah Padang luas yang berbatu.
Dahulu kala, di daerah berbukit ini memang sering dijadikan tempat berperang. Batara Gowa yang mendampingi Panglima perang Kerajaan Gowa memimpin langsung pasukan Gowa untuk bertemu dengan saudaranya sendiri, Karaeng Loe yang juga memimpin pasukan Kerajaan Tallo. Hingga akhirnya, terjadilah perang di Malewang. Setelah 2 hari berperang, tidak ada yang berhasil menjadi pemenang yang ada hanya korban yang terus bertambah. Pada hari ketiga, kedua Raja itu memutuskan bahwa perang ini harus diakhiri sebelum korban semakin bertambah.
Sejak perang itu, kerajaan Gowa dan Tallo terus berusaha saling menaklukkan, karena kekuatan keduanya selalu berimbang, yang menjadi korban adalah kerajaan yang sedang mereka perebutkan dan kerajaan yang hendak mereka rebut satu sama lain. Keadaan ini menimbulkan penderitaan bagi kerajaan-kerajaan yang ada disekitar Gowa dan Tallo. Pertikaian kedua kerajaan ini terus berlangsung, hingga pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 yaitu Karaeng Tumapa'risi Kallonna (1510-1546).
Kronik Gowa dan Tallo memang menyebutkan bahwa perang antara keduanya terjadi sampai pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna. David bulbeck menyebutkan bahwa kemungkinan ini terjadi pada sekitar tahun 1535. Meski tidak ada yang yakin, akan penanggalan ini. Perang pecah ketika pengaruh Gowa bertumbuh dan menandai titik balik kebangkitannya yang mendominasi kekuatan-kekuatan utama saat itu, yaitu Maros, Tallo dan Polombangkeng. Sejak saat itu, seluruh wilayah ini menjadi bagian penting dari kerajaan Gowa.
Menurut penulis kronik Gowa dalam buku Walhoff dan Abdurrahim, penyebab perang antara Gowa dan Tallo tidak diketahui, lebih spesifik lagi penyebabnya tidak tercatat. Sebagaimana dinyatakan sang penulis tidak ada cerita tentang perang itu tercatat dalam Lontara', hanya dilaporkan bahwa mereka berperang. Sebaliknya, cerita tentang perang ini sendiri dituliskan secara panjang lebar dalam buku itu (Walhoff dan Abdurrahim). Pertempuran berlangsung di tiga medan dengan Gowa dan sekutunya bertarung dan mengalahkan persekutuan Tallo, Maros dan Palombangkeng dimasing-masing Medan pertempuran.
Kronik Gowa juga menyebutkan kesepakatan damai yang dicapai antara Gowa dan Tallo sebuah peristiwa yang dimata orang Makassar menandai awal dari persekutuan panjang. Dalam buku Poelinggomang 2016, Karaeng Tumapa'risi Kallonna memindahkan pusat Kerajaan yang semula berada di Tamalate, kemudian dipindahkan ke Somba Opu. Pemindahan pusat Kerajaan ini turut mengubah orientasi pemerintahan kerajaan Gowa dari agraris menjadi maritim. Semenjak perubahan orientasi tersebut, kerajaan Gowa kemudian menjadi kerajaan yang ekspansionis.
Dahulu kala, di daerah berbukit ini memang sering dijadikan tempat berperang. Batara Gowa yang mendampingi Panglima perang Kerajaan Gowa memimpin langsung pasukan Gowa untuk bertemu dengan saudaranya sendiri, Karaeng Loe yang juga memimpin pasukan Kerajaan Tallo. Hingga akhirnya, terjadilah perang di Malewang. Setelah 2 hari berperang, tidak ada yang berhasil menjadi pemenang yang ada hanya korban yang terus bertambah. Pada hari ketiga, kedua Raja itu memutuskan bahwa perang ini harus diakhiri sebelum korban semakin bertambah.
Sejak perang itu, kerajaan Gowa dan Tallo terus berusaha saling menaklukkan, karena kekuatan keduanya selalu berimbang, yang menjadi korban adalah kerajaan yang sedang mereka perebutkan dan kerajaan yang hendak mereka rebut satu sama lain. Keadaan ini menimbulkan penderitaan bagi kerajaan-kerajaan yang ada disekitar Gowa dan Tallo. Pertikaian kedua kerajaan ini terus berlangsung, hingga pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 yaitu Karaeng Tumapa'risi Kallonna (1510-1546).
Kronik Gowa dan Tallo memang menyebutkan bahwa perang antara keduanya terjadi sampai pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna. David bulbeck menyebutkan bahwa kemungkinan ini terjadi pada sekitar tahun 1535. Meski tidak ada yang yakin, akan penanggalan ini. Perang pecah ketika pengaruh Gowa bertumbuh dan menandai titik balik kebangkitannya yang mendominasi kekuatan-kekuatan utama saat itu, yaitu Maros, Tallo dan Polombangkeng. Sejak saat itu, seluruh wilayah ini menjadi bagian penting dari kerajaan Gowa.
Menurut penulis kronik Gowa dalam buku Walhoff dan Abdurrahim, penyebab perang antara Gowa dan Tallo tidak diketahui, lebih spesifik lagi penyebabnya tidak tercatat. Sebagaimana dinyatakan sang penulis tidak ada cerita tentang perang itu tercatat dalam Lontara', hanya dilaporkan bahwa mereka berperang. Sebaliknya, cerita tentang perang ini sendiri dituliskan secara panjang lebar dalam buku itu (Walhoff dan Abdurrahim). Pertempuran berlangsung di tiga medan dengan Gowa dan sekutunya bertarung dan mengalahkan persekutuan Tallo, Maros dan Palombangkeng dimasing-masing Medan pertempuran.
Kronik Gowa juga menyebutkan kesepakatan damai yang dicapai antara Gowa dan Tallo sebuah peristiwa yang dimata orang Makassar menandai awal dari persekutuan panjang. Dalam buku Poelinggomang 2016, Karaeng Tumapa'risi Kallonna memindahkan pusat Kerajaan yang semula berada di Tamalate, kemudian dipindahkan ke Somba Opu. Pemindahan pusat Kerajaan ini turut mengubah orientasi pemerintahan kerajaan Gowa dari agraris menjadi maritim. Semenjak perubahan orientasi tersebut, kerajaan Gowa kemudian menjadi kerajaan yang ekspansionis.
Setelah menjadi kerajaan
yang kuat, raja Gowa yang ke-9 inipun berhasil menaklukkan pemerintahan raja
Tallo yang ke-3 yaitu Karaeng Tunipasuru. Sejak itu, terbentuklah
Koalisi antara kerajaan Gowa dan Tallo, ditandai dengan sumpah keramat yang
diucapkan di Baruga Kerajaan. Isi sumpah ini singkat, tetapi penuh makna, yakni:
"Siapa-siapa yang mengadu domba kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo maka ia akan dikutuk oleh Dewata"
Sejak saat itulah, maka hubungan kekeluargaan dan kerjasama antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo makin erat. Kerajaan Tallo selalu terlibat dan mendukung ekspansi Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar hingga lahirlah semboyan dikalangan rakyat Gowa dan Tallo. Dalam peribahasa Rua Karaeng Se're Ata (Dua Raja, namun hanya Satu Rakyat)
Selama pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna, kerajaan Gowa-Tallo mengalami kejayaan dan kemakmuran. Di dalam Patturioloang disebutkan bahwa di bawah pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna hasil panen dan nelayan melimpah. Saking makmurnya, masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 ini tidak ada pencuri di dalam Kerajaan Gowa.
"Siapa-siapa yang mengadu domba kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo maka ia akan dikutuk oleh Dewata"
Sejak saat itulah, maka hubungan kekeluargaan dan kerjasama antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo makin erat. Kerajaan Tallo selalu terlibat dan mendukung ekspansi Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar hingga lahirlah semboyan dikalangan rakyat Gowa dan Tallo. Dalam peribahasa Rua Karaeng Se're Ata (Dua Raja, namun hanya Satu Rakyat)
Selama pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna, kerajaan Gowa-Tallo mengalami kejayaan dan kemakmuran. Di dalam Patturioloang disebutkan bahwa di bawah pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna hasil panen dan nelayan melimpah. Saking makmurnya, masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 ini tidak ada pencuri di dalam Kerajaan Gowa.
![]() |
| Benteng Somba Opu |
Karaeng Tumapa'risi
Kallonna pula yang membuat benteng di sekeliling ibukota Kerajaan Gowa. Selain
itu, di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa'risi Kallonna tersebutlah nama Daeng
Pammate selaku Tumailalang yang juga merangkap sebagai Syahbandar.
Beliau telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf
yang disebut Lontara' Toriolo.
Setelah memerintah
kurang lebih 36 tahun lamanya, maka Karaeng Tumapa'risi Kallonna pun wafat,
beliau wafat karena menderita penyakit leher. Oleh karena itu, maka beliau
diberi gelar Tumapa'risi Kallonna artinya orang atau Raja yang
sakit lehernya. Karaeng Tumapa'risi Kallonna mewariskan takhta Kerajaan Gowa
kepada anak laki-lakinya yang sulung yang bernama I Mariogau Daeng
Bonto / Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng atau Karaeng
Tunipalangga (Raja Gowa ke-10).
Pada waktu naik takhta
Kerajaan Gowa, Karaeng Tunipalangga sudah berusia 36 tahun,
beliau mewarisi sifat ayahnya sebagai penyusun siasat perang yang cerdas, seorang pekerja keras dan pemberani, beliau juga dikenal sebagai seorang yang
pandai berdiplomasi. Selain itu, beliau juga memiliki kekayaan yang melimpah
sehingga diberi nama Tunipalangga Ulaweng yang artinya
Singgasana Raja yang berlapis emas, dibantu Mengkubuminya I
Mappatakattana Daeng Padulu' Karaeng Pattingalloang gelar
anumertanya yaitu Tumenanga ri Makkoayang.
Karaeng Tunipalangga
Ulaweng pun melanjutkan pemerintahan ayahnya yaitu dengan menyempurnakan
struktur Benteng Somba Opu, dari yang sebelumnya hanya tumpukan tanah liat
menjadi dinding batu bata merah setengah matang. Selain itu, dia juga
memperluas wilayah kekuasaan serta memperbesar pengaruh kerajaan Gowa. Beliau
banyak menaklukkan negeri-negeri di Sulawesi Selatan yakni Bajeng, Lengkese,
Lamuru, Cenrana, Salomekko, Bulo-bulo, Lamatti, Bulukumba, Kajang,
Pannyikokang, Gantarang, Bira, Selayar, Wajo, Sawitto, Soppeng, Alitta, dan
beberapa negeri di Mandar Kaili, Toli-toli di Sulawesi Tengah, beliau juga
berhasil menaklukkan Luwu hingga akhirnya membuat perjanjian persahabatan
dengan Raja Luwu. Karaeng Tunipalangga juga melakukan serangan terhadap wilayah
kerajaan Bone yang saat itu dijabat oleh Raja Bone La Tenriawe
Bongkange MatinroE ri Gucina. Kira-kira hampir selama kurang lebih 7 tahun
masa pemerintahannya yaitu pada pertengahan abad ke-16 dan hanya kerajaan Bone
lah yang belum dikalahkan oleh Karaeng Tunipalangga.
Selain memperluas daerah
kekuasaan dan memperbesar pengaruh Kerajaan Gowa, Karaeng Tunipalangga Ulaweng
membentuk beberapa jabatan dalam kerajaan. Dari kabinet yang dibentuknya itu
telah berhasil membuat beberapa produk seperti Industri Logam yang berhasil
membuat senjata atau meriam serta pelurunya, juga batu bata yang nantinya akan
digunakan untuk merenovasi Benteng Somba Opu, dengan batu batu yang sebelumnya
telah dibangun oleh ayahnya dengan gundukan tanah.
Semasa pemerintahan
Karaeng Tunipalangga Ulaweng, seorang Melayu bernama Nahkoda Bonang telah
mendapat izin dari Raja untuk berdiam di Gowa. Beliau kemudian memberikan
hak-hak istimewa kepadanya dan kepada pedagang-pedagang dari Pahang, Patani,
Johor, Champa dan Minangkabau.
Hingga suatu ketika,
saat raja memimpin pasukan Gowa melawan Kerajaan Bone, beliau menderita sakit
yang begitu parah. Beliau terpaksa dibawa pulang ke Gowa dan hanya berselang 48
hari lamanya di Gowa beliau wafat akibat penyakit yang dideritanya. Karaeng
Tunipalangga wafat dalam usia 54 tahun.
18 tahun lamanya, beliau
memerintah Kerajaan Gowa-Tallo. Sebelum wafat Karaeng Tunipalangga
mengamanahkan kepada saudaranya untuk mewarisi takhta kerajaan Gowa sebagai raja
Gowa yang ke-11. Beliau adalah I Tajibarani Daeng Marompa / Karaeng
Data' Taua atau yang lebih dikenal Karaeng Tunibatta (Raja Gowa ke-11).



Comments
Post a Comment