KERAJAAN GOWA-TALLO #PART 3

Awal Mula Koalisi Kerajaan Gowa & Tallo
(Dua Raja, Namun Hanya Satu Rakyat

Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo


Dari kisah sebelumnya, diketahui bahwa ternyata Kerajaan Gowa pernah terbelah menjadi dua, setelah masa pemerintahan Raja Tunatangka Lopi. Pada perjalanan abad ke-15, dua orang puteranya yakni Batara Gowa dan Karaeng Loe ri Sero saling berebut tahta kerajaan sehingga terjadilah perang saudara.

Dikutip dari tulisan William P. Cummings bertajuk "Islam, Empire and Makassarese Historiography in the Reign of Sultan Alauddin (1593-1639)"; Batara Gowa mengalahkan sang adik Karaeng Loe ri Sero, lalu kemudian sang adik turun ke muara sungai Tallo dan mendirikan kerajaan baru bernama Tallo. 

Adapun versi lain yang menyebutkan bahwa Tunatangka Lopi memang membagi wilayah Kerajaan Gowa menjadi dua untuk diberikan kepada dua anaknya Karaeng Gowa dan Karaeng Loe ri Sero. Jadilah ada dua kerajaan yakni Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. 

Masa Pemerintahan Raja Gowa Setelah Tunatangka Lopi

Setelah kakak beradik ini menjadi Raja di kerajaan mereka masing-masing. Pertikaian antara dua kerajaan ini pun tak bisa dihindari. Dikisahkan suatu hari, ketika pasukan perang Kerajaan Gowa ingin menaklukkan Malewang ternyata pasukan Kerajaan Tallo juga sedang melakukan perjalanan menuju Malewang. Kedua pasukan bertemu di Pa'bundukang sebuah Padang luas yang berbatu.
 
Dahulu kala, di daerah berbukit ini memang sering dijadikan tempat berperang. Batara Gowa yang mendampingi Panglima perang Kerajaan Gowa memimpin langsung pasukan Gowa untuk bertemu dengan saudaranya sendiri, Karaeng Loe yang juga memimpin pasukan Kerajaan Tallo. Hingga akhirnya, terjadilah perang di Malewang. Setelah 2 hari berperang, tidak ada yang berhasil menjadi pemenang yang ada hanya korban yang terus bertambah. Pada hari ketiga, kedua Raja itu memutuskan bahwa perang ini harus diakhiri sebelum korban semakin bertambah. 
 
Sejak perang itu, kerajaan Gowa dan Tallo terus berusaha saling menaklukkan, karena kekuatan keduanya selalu berimbang, yang menjadi korban adalah kerajaan yang sedang mereka perebutkan dan kerajaan yang hendak mereka rebut satu sama lain. Keadaan ini menimbulkan penderitaan bagi kerajaan-kerajaan yang ada disekitar Gowa dan Tallo. Pertikaian kedua kerajaan ini terus berlangsung, hingga pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 yaitu Karaeng Tumapa'risi Kallonna (1510-1546). 
 
Kronik Gowa dan Tallo memang menyebutkan bahwa perang antara keduanya terjadi sampai pada masa pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna. David bulbeck menyebutkan bahwa kemungkinan ini terjadi pada sekitar tahun 1535. Meski tidak ada yang yakin, akan penanggalan ini. Perang pecah ketika pengaruh Gowa bertumbuh dan menandai titik balik kebangkitannya yang mendominasi kekuatan-kekuatan utama saat itu, yaitu Maros, Tallo dan Polombangkeng. Sejak saat itu, seluruh wilayah ini menjadi bagian penting dari kerajaan Gowa.
 
Menurut penulis kronik Gowa dalam buku Walhoff dan Abdurrahim, penyebab perang antara Gowa dan Tallo tidak diketahui, lebih spesifik lagi penyebabnya tidak tercatat. Sebagaimana dinyatakan sang penulis tidak ada cerita tentang perang itu tercatat dalam Lontara', hanya dilaporkan bahwa mereka berperang. Sebaliknya, cerita tentang perang ini sendiri dituliskan secara panjang lebar dalam buku itu (Walhoff dan Abdurrahim). Pertempuran berlangsung di tiga medan dengan Gowa dan sekutunya bertarung dan mengalahkan persekutuan Tallo, Maros dan Palombangkeng dimasing-masing Medan pertempuran. 
 
Kronik Gowa juga menyebutkan kesepakatan damai yang dicapai antara Gowa dan Tallo sebuah peristiwa yang dimata orang Makassar menandai awal dari persekutuan panjang. Dalam buku Poelinggomang 2016Karaeng Tumapa'risi Kallonna memindahkan pusat Kerajaan yang semula berada di Tamalate, kemudian dipindahkan ke Somba Opu. Pemindahan pusat Kerajaan ini turut mengubah orientasi pemerintahan kerajaan Gowa dari agraris menjadi maritim. Semenjak perubahan orientasi tersebut, kerajaan Gowa kemudian menjadi kerajaan yang ekspansionis. 


Setelah menjadi kerajaan yang kuat, raja Gowa yang ke-9 inipun berhasil menaklukkan pemerintahan raja Tallo yang ke-3 yaitu Karaeng Tunipasuru. Sejak itu, terbentuklah Koalisi antara kerajaan Gowa dan Tallo, ditandai dengan sumpah keramat yang diucapkan di Baruga Kerajaan. Isi sumpah ini singkat, tetapi penuh makna, yakni:
"Siapa-siapa yang mengadu domba kerajaan Gowa dan kerajaan Tallo maka ia akan dikutuk oleh Dewata"
 
Sejak saat itulah, maka hubungan kekeluargaan dan kerjasama antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo makin erat. Kerajaan Tallo selalu terlibat dan mendukung ekspansi Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar hingga lahirlah semboyan dikalangan rakyat Gowa dan Tallo. Dalam peribahasa Rua Karaeng Se're Ata (Dua Raja, namun hanya Satu Rakyat)
 
Selama pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna, kerajaan Gowa-Tallo mengalami kejayaan dan kemakmuran. Di dalam Patturioloang disebutkan bahwa di bawah pemerintahan Karaeng Tumapa'risi Kallonna hasil panen dan nelayan melimpah. Saking makmurnya, masa pemerintahan Raja Gowa yang ke-9 ini tidak ada pencuri di dalam Kerajaan Gowa. 

Benteng Somba Opu

Karaeng Tumapa'risi Kallonna pula yang membuat benteng di sekeliling ibukota Kerajaan Gowa. Selain itu, di masa kepemimpinan Karaeng Tumapa'risi Kallonna tersebutlah nama Daeng Pammate selaku Tumailalang yang juga merangkap sebagai Syahbandar. Beliau telah berhasil menciptakan aksara Makassar yang terdiri dari 18 huruf yang disebut Lontara' Toriolo.

Setelah memerintah kurang lebih 36 tahun lamanya, maka Karaeng Tumapa'risi Kallonna pun wafat, beliau wafat karena menderita penyakit leher. Oleh karena itu, maka beliau diberi gelar Tumapa'risi Kallonna artinya orang atau Raja yang sakit lehernya. Karaeng Tumapa'risi Kallonna mewariskan takhta Kerajaan Gowa kepada anak laki-lakinya yang sulung yang bernama I Mariogau Daeng Bonto / Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng atau Karaeng Tunipalangga (Raja Gowa ke-10).

Pada waktu naik takhta Kerajaan Gowa, Karaeng Tunipalangga sudah berusia 36 tahun, beliau mewarisi sifat ayahnya sebagai penyusun siasat perang yang cerdas, seorang pekerja keras dan pemberani, beliau juga dikenal sebagai seorang yang pandai berdiplomasi. Selain itu, beliau juga memiliki kekayaan yang melimpah sehingga diberi nama Tunipalangga Ulaweng yang artinya Singgasana Raja yang berlapis emas, dibantu Mengkubuminya I Mappatakattana Daeng  Padulu' Karaeng Pattingalloang gelar anumertanya yaitu Tumenanga ri Makkoayang

Karaeng Tunipalangga Ulaweng pun melanjutkan pemerintahan ayahnya yaitu dengan menyempurnakan struktur Benteng Somba Opu, dari yang sebelumnya hanya tumpukan tanah liat menjadi dinding batu bata merah setengah matang. Selain itu, dia juga memperluas wilayah kekuasaan serta memperbesar pengaruh kerajaan Gowa. Beliau banyak menaklukkan negeri-negeri di Sulawesi Selatan yakni Bajeng, Lengkese, Lamuru, Cenrana, Salomekko, Bulo-bulo, Lamatti, Bulukumba, Kajang, Pannyikokang, Gantarang, Bira, Selayar, Wajo, Sawitto, Soppeng, Alitta, dan beberapa negeri di Mandar Kaili, Toli-toli di Sulawesi Tengah, beliau juga berhasil menaklukkan Luwu hingga akhirnya membuat perjanjian persahabatan dengan Raja Luwu. Karaeng Tunipalangga juga melakukan serangan terhadap wilayah kerajaan Bone yang saat itu dijabat oleh Raja Bone La Tenriawe  Bongkange MatinroE ri Gucina. Kira-kira hampir selama kurang lebih 7 tahun masa pemerintahannya yaitu pada pertengahan abad ke-16 dan hanya kerajaan Bone lah yang belum dikalahkan oleh Karaeng Tunipalangga.
 
Selain memperluas daerah kekuasaan dan memperbesar pengaruh Kerajaan Gowa, Karaeng Tunipalangga Ulaweng membentuk beberapa jabatan dalam kerajaan. Dari kabinet yang dibentuknya itu telah berhasil membuat beberapa produk seperti Industri Logam yang berhasil membuat senjata atau meriam serta pelurunya, juga batu bata yang nantinya akan digunakan untuk merenovasi Benteng Somba Opu, dengan batu batu yang sebelumnya telah dibangun oleh ayahnya dengan gundukan tanah.
 
Semasa pemerintahan Karaeng Tunipalangga Ulaweng, seorang Melayu bernama Nahkoda Bonang telah mendapat izin dari Raja untuk berdiam di Gowa. Beliau kemudian memberikan hak-hak istimewa kepadanya dan kepada pedagang-pedagang dari Pahang, Patani, Johor, Champa dan Minangkabau. 
 
Hingga suatu ketika, saat raja memimpin pasukan Gowa melawan Kerajaan Bone, beliau menderita sakit yang begitu parah. Beliau terpaksa dibawa pulang ke Gowa dan hanya berselang 48 hari lamanya di Gowa beliau wafat akibat penyakit yang dideritanya. Karaeng Tunipalangga wafat dalam usia 54 tahun.
 
18 tahun lamanya, beliau memerintah Kerajaan Gowa-Tallo. Sebelum wafat Karaeng Tunipalangga mengamanahkan kepada saudaranya untuk mewarisi takhta kerajaan Gowa sebagai raja Gowa yang ke-11. Beliau adalah I Tajibarani Daeng Marompa / Karaeng Data' Taua atau yang lebih dikenal Karaeng Tunibatta (Raja Gowa ke-11).

 

  Terima Kasih telah berkunjung di Website kami

Comments