KISAH DATUK TELLUE, TIGA ULAMA PENYEBAR AGAMA ISLAM DI SULAWESI SELATAN

Gambar Ilustrasi (Datuk TelluE)

Jauh sebelum agama Islam datang yang dibawa oleh Datuk TelluE, telah berkembang kepercayaan dalam masyarakat lokal yang diwariskan dari leluhur, baik animisme maupun dinamisme (Kepercayaan terhadap makhluk halus dan roh nenek moyang yang bersemayam di sutau tempat). Kepercayaan lokal dilaksanakan dalam berbagai bentuk upacara (Religious Ceremonies) yang berbeda antara satu  (komunitas) dengan komunitas lainnya. 

Meskipun beragam kepercayaan lokal memiliki kesamaan konsepsi Theogoni, yaitu hal-hal yang berkenaan dengan bayangan orang akan wujud alam gaib atau wujud dewa-dewa. Kepercayaan lokal yang telah tumbuh di Sulawesi Selatan sebelum kedatangan Datuk TelluE, di antaranya Dewata SeuwaE (Luwu), Patuntung (Kajang), dan Anton Laut (Pulau Salemo). 

Masyarakat Bulukumba, sebelum Datuk ri Tiro (Abdul Jawad, Khatib Bungsu) datang membawa ajaran Islam, terutama komunitas orang-orang Kajang yang bermukim di kawasan adat Ammatoa, sangat mempercayai adanya suatu kekuasaan tertinggi yang disebut Turi' Ara'na. Komunitas adat ini menyelenggarakan berbagai macam upacara agar hidup dapat menjadi harmoni seperti Kalomba, U'matang dan lain-lain. 

Komunitas Suku Kajang

Berdasarkan sumber Historiografi Lokal (Lontara' dan cerita rakyat), dapat diketahui bahwa pembawa ajaran Islam, sangat mempertimbangkan aspek Theogonik masyarakat lokal tersebut. Meskipun latar belakang kedatangan tiga ulama, tidak terkait langsung dengan kondisi budaya setempat. 

Khatib Bungsu, Datuk ri Tiro dan Datuk TelluE lainnya datang ke Sulawesi Selatan, lebih disebabkan oleh kondisi yang dialami oleh para pedagang Melayu muslim yang bersentuhan langsung dengan para misionaris kristen yang saling berebut pengaruh penguasa Kerajaan besar di Sulawesi Selatan seperti Gowa, Siang dan Suppa. Sebelum kedatangan Datuk TelluE (Datuk Pattimang, Datuk ri Bandang, dan Datuk ri Tiro), di Sulawesi Selatan telah ada penganut agama Islam dan Kristen yang saling berebut pengaruh dilingkungan istana kerajaan-kerajaan di wilayah pesisir barat seperti Gowa, Siang dan Suppa.

Di kerajaan Gowa, pedagang Muslim dan misionaris Kristen datang hampir bersamaan, meskipun penerimaan dan penyebaran agama kedua pihak tidak bersamaan. Misalnya, agama Kristen lebih awal mendapatkan kesempatan diterima di Kerajaan Suppa dan Siang, tetapi Islam lebih berhasil mendapatkan tempat di Kerajaan Gowa.

Agama Islam pada awalnya dibawa oleh para pedagang Muslim, kemudian disusul oleh Ulama, lalu disebarkan oleh raja-raja Makassar dan Bugis yang telah Muslim. Berbeda dengan agama Islam, agama Kristen Katolik dibawa oleh Kolonial (Barat) dan pedagang Portugis, selanjutnya disusul Kristen Protestan yang dibawa oleh orang-orang Belanda.

Pada masa pemerintahan Tumapa'risi' Kallonna (Raja Gowa IX), di bandar Somba Opu telah banyak bermukim berbagai kelompok suku dan etnis, serta warga negara asing. Suku dan etnis itu, ada yang datang dari pulau Jawa, Sumatera (Marangko/Minangkabau), dan Semenanjung Malaka.

Lontara' Patturioloanga Gowa mencatat bahwa orang Melayu sudah mempunyai kedudukan resmi dalam Kerajaan Gowa pada masa pemerintahan Raja Tunipallangga Ulaweng (Raja Gowa X). Banyaknya orang Melayu yang berdatangan ke Gowa, mereka (orang melayu) kemudian  mengutus Nakhoda Bonang untuk menghadap Raja agar mereka diberi pemukiman tetap. Untuk menarik simpati raja, Nakhoda Bonang ketika menghadap raja, ia membawa persembahan berupa sepucuk bedil bernama Kamaleti beserta 80 perangkat pinancu, satu kodi kain beludru, satu koin kain sakalat, dan setengah kodi kain cindai (Sutera Berbunga).

 Raja Gowa saat itu berkenan memberi daerah pemukiman orang-orang Melayu, disertai 4 jaminan;
1. Daerah pemukiman Melayu diletakkan dengan layak,
2. Rumah mereka diberi rasa aman,
3. Mereka tidak ditekan atau nigayang, dan
4. Dipisahkan dari Nirappung (komunitas keramaian/kebanyakan).
Selain Melayu, suku dari daratan Asia yang juga telah datang dan menetap di Somba Opu terdiri dari orang-orang Patani, Pahang, Champa, dan Johor.

Sebagai tanda kemurahan hati pemerintah kerajaan Gowa, pada masa Karaeng Tunijallo (Raja Gowa XII) berkuasa, saudagar-saudagar asing juga diberi keluasaan menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya.

Lontara' Patturioloanga Gowa, melukiskan kebijakan Kareng Tunijallo yang membangun masjid di Mangallekana untuk pedagang warga muslim dengan harapan agar mereka mau tinggal dan menetap. Raja juga memberi kemudahan dalam berangkat menunaikan ibadah haji. Begitu pula bangsa Eropa sudah datang di Somba Opu. Tecatat sejak tahun 1538 M, orang Portugis sudah bermukim di Somba Opu yang difasilitasi oleh dua orang Makassar. 

Kelompok suku, etnis dan bangsa yang bermukim di Somba Opu menganut agama berbeda meski tetap dapat hidup damai dengan memelihara toleransi di antara mereka, bersama penduduk setempat atas fasilitas dan perlindungan Raja Gowa.

Raja Gowa sendiri ketika itu belum memperlihatkan keinginan menganut salah satu agama kelompok etnis pendatang. Walaupun demikian, Lontara' Patturioloanga Gowa mencatat Raja Tunijallo telah mampu membangun semangat toleransi dengan memberi dukungan bagi muslim menunaikan ibadah haji menggunakan jasa kapal-kapal Portugis.

Setelah pendekatan berjalan cukup lama, baru tercatat hasil usaha nyata Islamisasi di Sulawesi Selatan. Usaha Islamisasi secara formal dimulai dengan kedatangan Sultan Ternate ke Somba Opu pada tahun 1580 M. Sultan Babullah dari Kerajaan Ternate datang dengan tujuan mengajak Raja Gowa menerima, sekaligus memeluk Agama Islam, tetapi Raja Gowa pada saat itu, I Manggorai Karaeng Bonto Langkasa' Tunijallo masih ragu-ragu menentukan pilihan: Antara agama orang Melayu (Islam) atau agama orang Portugis (Kristen). Belum adanya pilihn Raja Gowa pada salah satu agama yang ditawarkan mengundang perhatian orang-orang Melayu yang telah bermukim di Somba Opu.

Orang-orang Melayu muslim sangat khawatir, apabila mereka terlihat ada kecenderungan Raja Gowa saat itu, bersimpati kepada agama Kristen. Melihat sikap Raja Gowa tersebut, pedagang Muslim Melayu memandang perlunya seorang guru (ulama) yang dapat membimbing dan menyakini raja Gowa akan kebenaran agama Islam. Lantas mereka berinisiatif mencari guru agama Islam dari pulau Sumatera yang tentu merupakan ulama yang dapat menyampaikan kebenaran agama Islam.

Ulama yang diharapkan akhirnya tiba pada tahun-tahun pertama abad ke-17 M. Ketiga ulama Sumatera yang dikenal dengan nama:
1. Khatib Sulung, Datuk Sulaiman, atau Datuk Pattimang,
2. Khatib Tunggal, Abdul Makmur, atau Datuk ri Bandang, dan
3. Khatib Bungsu, Abdul Jawad atau Datuk ri Tiro.

Kedatangan ketiga ulama tersebut karena diutus Sri Ratu Aceh, seteleh menerima permohonan (undangan) penduduk yang bermukim di Makassar agar mengirim guru agama untuk menyiarkan ajaran Islam.

Permohonan orang Melayu kepada Sri Ratu Aceh cukup strategis karena dua kenyataan:
1). Peran Kerajaan Aceh selama paruh pertama abad ke-17 sebagai pusat utama pembelajaran Islam Nusantara, khususnya tempat peradaban ajaran dan praktik penganut sufi hingga sangat memungkinkan memperoleh guru atau ulama yang handal.
2). Kerajaan Aceh pada saat itu memiliki lembaga yaitu Syaikhul Islam, suatu lembaga ulama resmi yang secara khusus didesain untuk memberikan nasihat kepada Raja. Dengan posisi strategis lembaga ulama di Kerajaan Aceh, terbukti memudahkan menjalin komunikasi dan meloloskan permohonan komunitas Melayu di Makassar.

Permohonan kepada Sri Ratu Aceh berasal dari komunitas Melayu yang telah lama bermukim di Somba Opu, mereka bukanlah penduduk lokal yang masih buta atau masih kurang peduli akan agama Islam serta belum memiliki kaitan emosi keagamaan dengan ancaman misionaris Kristen, sehingga berpikir mengimbangi misi Portugis dengan memohon dan mengundang ulama.

Kedatangan Datuk ri Tiro dengan dua ulama lainnya untuk tugas dakwah menandai awal hubungan Kerajaan Aceh dan Sulawesi Selatan. Menurut Lontara' Luwu dan Wajo bahwa meskipun Datuk TelluE pertama kali tiba di wilayah kerajaan Gowa. Akan tetapi, upaya Islamisasi pertama kali dilakukan terhadap raja dan kalangan istana Kerajaan Luwu. 

Hal itu disebabkan Datuk TelluE dalam menjalankan misi dakwahnya, terlebih dahulu bertanya kepada migran Melayu yang telah lama bermukim di Somba Opu untuk merancang strategi Islamisasi. Untuk Merancang strategi Islamisasi, berdasarkan informasi yang sudah dipelajarinya, Datuk ri Tiro bersama Datuk Sulaiman dan Datuk ri Bandang telah memilih pengembangan agama Islam melalui jalur istana (Birokrasi Kerajaan).

Datuk TelluE pada saat itu, tiba di Gowa langsung mencari tahu raja yang bersedia menerima agama Islam, kemudian secara bersama-sama menyebarkannya. Oleh karena itu, Datuk Sulaiman bersama dua rekannya menjejaki informasi tentang raja yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Mereka lantas bertanya kepada para pedagang Melayu yang bermukim di Gowa:
"Siapakah raja yang memiliki kekuatan dan kekuasaan di daerah ini?". 

Pertanyaan Datuk TelluE tersebut berkaitan dengan keinginan mereka agar misi dakwahnya efektif, dengan dukungan raja yang memiliki kharisma kuat, kekuatan dan kekuasaan yang luas. Di Sulawesi Selatan kala itu, raja merupakan faktor penting karena konsep raja sebagai To Manurung (wakil kekuasaan dewa-dewa langit), sehingga diteladani rakyat serta pasti tunduk dan patuh atas perintahnya. Oleh karena itu, Datuk TelluE berkeinginan mendekati Raja agar terlebih dahulu memeluk agama Islam, dengan harapan bisa dalam waktu yang tidak terlalu lama akan diikuti oleh rakyatnya.

Ketika pertanyaan itu disampaikan kepada orang-orang Melayu, mereka senantiasa menjawab:
"Pajung Luwu". 

Diketahui bahwa Kerajaan Luwu pada saat itu dianggap sebagai kerajaan tertua serta diakui kemuliannya di kalangan raja-raja Bugis dan Makassar. Mendengar jawaban orang-orang Melayu di Somba Opu, Datuk TelluE lantas berangkat menuju ibu kota Kerajaan Luwu, Pattimang (Kecamatan Malangke, Kabupaten Luwu Utara Sekarang).




Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami

Comments