![]() |
| Komunitas Suku Kajang |
Gambaran paling dekat dengan kondisi
kepercayaan masyarakat di kawasan Bulukumba, sebelum masuknya Islam. Dapat
terefleksikan dari kepercayaan orang Kajang
Le'Leng (Kajang Dalam) sekarang.
PRINSIP HIDUP SUKU KAJANG
Kajang Dalam adalah
komunitas suku Kajang yang bermukim di dalam wilayah kawasan kamase-masea dan
masih sangat teguh memegang adat istiadat leluhur. Mereka memiliki prinsip
hidup kamase-masea yang intinya tidak mau menerima hal-hal yang bertentangan
dengan Pasang (yakni pedoman tertinggi komunitas Kajang Dalam yang mengatur
hubungan antara tuhan, manusia dan alam).
Pasang mengharuskan mereka untuk
tidak menerima apapun yang sebelumnya tidak pernah ada di wilayah mereka tanpa
pertimbangan yang matang.
"Ako kaitte-itte ri saha cinde tappanging, ri
caula ta’rimba-rimba"
artinya Jangan ikuti ular kekenyangan yang
tergantung di pohon yang ditiup angin. Kalau dia sudah kenyang dia malas
bekerja.
Jati diri orang Kajang tercermin
dari falsafah hidup kamase-masea, yakni manusia dituntut untuk tidak mengejar
kekayaan duniawi melainkan kebahagiaan di akhirat kekal. Falsafah hidup
kamase-masea mengajarkan nilai-nilai agar manusia bisa mengekang hawa nafsu,
jujur, sederhana, tidak merusak alam dan selalu berbuat baik sesama
manusia.
Kebutuhan ekonomi disikapi dengan
sangat hati-hati, karena mereka percaya keinginan menjadi kaya seringkali bisa
merusak moral seseorang. Beberapa pantangan yang harus dihindari orang Kajang
adalah mencuri (lukka), berzina (pangnga' di'), judi (botoro'),
menghina (tutturi), memakai pakaian selain warna hitam, dan
mengeksploitasi secara berlebihan hasil hutan seperti kayu, madu, damar dan
rotan.
Bentuk rumah dan perabot rumah
tangga suku Kajang Dalam hampir serupa di setiap keluarga/ tetangga.
Hal ini mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan sikap menolak teknologi atau
hal-hal baru yang dirasa bisa merusak jati diri mereka untuk tetap sederhana.
Pada malam hari, mereka membuat
penerangan dari obor atau pelita. Sampai sekarang, jaringan listrik belum
diperkenankan masuk ke wilayah mereka, bahkan kendaraan bermotor dan setiap hal
yang digerakkan oleh mesin dilarang memasuki kawasan adat Kajang
Dalam.
Mobilitas orang Kajang
Dalam dilakukan dengan berjalan kaki (telanjang kaki). Alat transportasi,
pengunaan kuda sebagai pembawa beban (hasil-hasil pertanian) terbilang
terbatas. Jika beban yang dibawa melebihi 40 kg, agar tidak menimbulkan rasa
sakit maka di atas kepala di alasi laka atau kain pelapis kepala.
KEPERCAYAAN SUKU KAJANG
Bagi suku Kajang, Ammatao adalah
bapak mereka. Amma (Bapak) yang memiliki peranan besar untuk mengatur segala
hal yang bersifat rohani atau supranatural. Dalam menjalankan tugas sehari-hari, ammota dibantu oleh 26 pemangku adat yang memiliki tugas tertentu yakni
karaeng tolu, galla lima, lima tanah loheyat, dan pemangku adat lain.
Kedudukan Ammatoa berlaku seumur
hidup. Bila Ammatoa meninggal dunia, tidak otomatis digantikan oleh anaknya
melainkan oleh orang yang terpilih. Orang yang bisa dipilih menjadi Ammatoa
hanya mereka yang berasal dari keturunan Tukantorang, Tawanang atau Taulima
dengan syarat - syarat:
1. Memahami sejarah Kajang dan amanat-amanat yang diberikan oleh Turi' Ara'na
(Tuhan)
2. Harus jujur, adil dan tidak boleh berbuat kesalahan selama hidup di dunia
3. Paseng sejak manusia ada
2. Harus jujur, adil dan tidak boleh berbuat kesalahan selama hidup di dunia
3. Paseng sejak manusia ada
Orang Kajang memandang Ammatoa
sebagai Manusia Suci, walaupun Ammatoa sudah meninggal dunia.
Namun, orang Kajang yakin ia hadir di sekitar mereka. Arwah Ammatoa hanya
berlindung (allingrung) dalam hutan dan akan muncul kembali ketika
kiamat tiba. Ammatoa yang meninggal dunia baru
dicarikan penggantinya setelah 3 tahun. Sebelum ada pengganti, pejabat
sementara ammatoa berasal dari keturunannya yang menjabat sampai ada pejabat
yang terpilih.
Dalam sejarahnya, suku Kajang telah
mengalami suksesi kepemimpinan Ammatoa sebanyak tiga belas kali. Jika ammatoa
adalah bapak suku Kajang, ibu bagi suku kajang bergelar Anrong.
Meskipun demikian, anrong bukanlah suami ammatoa.
Ada dua orang Anrong dalam suku
Kajang, yakni anrong kanan dan anrong kiri. Tugas utama anrong adalah menemani ammatoa saat upacara adat besar dan menentukan ammatoa baru sepeninggal ammatoa
lama. Anrong tidak dipilih langsung oleh masyarakat, melainkan dipilih oleh
ammatoa.
Jika anrong meninggal dunia, maka
ammatoa akan melantik anrong baru, yang biasanya anak perempuan anrong lama
yang meninggal. Jadi, jabatan anrong diperoleh secara keturunan, tetapi tetap
dipilih orang yang benar-benar mengerti adat Kajang (Ammatoa). Walaupun
kedudukan anrong diperoleh secara keturunan, tetapi penentuan anrong tetap
menjadi wewenang ammatoa.
![]() |
| Adat Suku Kajang |
Seorang anrong, dipilih dari
perempuan yang dipandang pintar oleh ammatoa dan memahami adat istiadat Kajang.
Anrong memiliki tugas pokok yakni menemani dan melipatkan siri ammatoa saat
upacara adat besar. Tempat duduk anrong kanan berada disebelah kanan ammatoa
sementara anrong kiri duduk di sebelah kiri ammatoa.
Orang Kajang sangat percaya adanya kehidupan lain sesudah mati, kehidupan yang mereka kejar bukanlah kemewahan duniawi melainkan kehidupan akhirat yang kekal. Untuk itu, mereka senantiasa mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong kehidupan di akhirat. Sopan, rendah diri, sabar, menghargai sesama, menolong saat ada yang membutuhkan dan taat paat peraturan adalah merupakan bekal untuk kehidupan di akhirat.
Bagi orang Kajang, berbuat kebajikan
terhadap sesama adalah salah satu ibadah yang harus selalu diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Berbuat baik bagi mereka dapat dilakukan dengan cara:
tidak menggangu kepercayaan orang lain, tidak berdusta, berjudi, menipu dan
mencuri.
Orang Kajang menyebut Tuhan yang
Maha Esa sebagai Turi Ara'na yang diyakini sebagai Sang
Pencipta dan Penguasa Kehidupan. Mereka juga mempercayai bahwa adanya roh yang
mendiami tempat - tempat tertentu, misalnya hutan keramat.
Mereka percaya adanya "roh
baik" yang harus didekati karena mendatangkan berkah dan roh
jahat yang harus dihindari karena bisa mendatangkan bencana. Kepercayaan
pada roh halus yang bersemayam di tempat-tempat tertentu, tercermin dari
penyelenggaraan upacara ruwatan yang bertujuan untuk memuja sekaligus memberi
sejaji.
Selain mengkeramatkan hutan, orang
Kajang juga mengkeramatkan Ammatoa serta semua lokasi yang dianggap ditempati
makhluk halus. Orang Kajang mengenal pula Dewa Langit (purung-purung)
yang terdiri dari bintang, bulan dan matahari. Mereka memuja purung-purung saat
upacara meminta hujan, Dewa Bumi yang disebut Sihaona Butta (seperti
malaikat) pantang mereka melafalkan langsung, karena takut tanaman tidak tumbuh
subur.
Beberapa kali ammatoa merahasiakan
suatu keterangan yang dianggap tabu untuk dijelaskan ke masyarakat umum. Hal
ini diumpamakan seperti orang yang memakai baju, kemudian bajunya diambil orang
sehingga yang bersangkutan akan telanjang.
Orang Kajang menganggap diri dan
masyarakatnya pemberian "Turi Ara'na" yaitu Pemilik manusia, bumi dan
seluruh isi semesta alam. Ketika menciptakan suku kamase-masea untuk pertama
kali, Turi Ara'na bersabda bahwa orang Kajang haruslah berpakaian serba hitam,
menghargai kejujuran dan senano berjalan di atas aturan (rurungan).
Sikap religius suku Kajang tercermin dari upacara-upacara adat yang mereka
selenggarakan antara lain upacara kalomba, katerre', ru'matan, anganro andangini,
polesumarja, u'matang dan lain - lain.
Terima Kasih telah berkunjung di Website kami






Comments
Post a Comment