Sosok Pejuang Yang Menolak Disebut Pahlawan
Hampir setiap hari kita melewati ruas jalan dengan nama – nama tokoh. Nama – nama yang dipakai pada umumnya adalah nama tokoh yang memiliki sumbangsi besar bagi masyarakat dan negeri ini. Nah, seberapa tahukah kita dengan kisah para tokoh tersebut? Siapakah mereka dan apa saja peranan mereka bagi bangsa ini?. Salah satu tokoh yakni Abdullah Daeng Sirua atau biasa disingkat Abdesir adalah sebuah nama jalan yang ada di kota Makassar. Abdesir, istilah yang lebih sering digunakan itu tentunya merujuk pada nama seorang tokoh pejuang Sulawesi Selatan. Siapa sebenarnya sosok Abdullah Daeng Sirua?.
Kehidupan Abdullah Daeng Sirua
Abdullah Daeng Sirua dilahirkan pada tahun 1922, ia adalah tokoh masyarakat dari kampung Tidung, kota Makassar. Abdullah Daeng Sirua adalah anak dari Yusuf Daeng Ngawing dan ibunya bernama Yalus Daeng Te’ne. Yusuf, ayah Abdullah adalah kepala kampung di Mappala, ia adalah seorang yang berjuang menentang penjajah Belanda dan Jepang. Sikap anti – penjajahannya kemudian diwarisi oleh anaknya, Abdullah Daeng Sirua.
Saat itu, Abdullah Daeng Sirua baru menjelang naik ke kelas empat SD ketika jepang mendarat di Makassar, tahun 1942. Semasa remaja Abdullah pernah mengecap pendidikan di Mu'allimin Muhammadiyah di Jongaya, disinilah ia banyak menimba ilmu agama. Merasa tidak puas hanya bersekolah sampai di Muallimin, Abdullah Daeng Sirua kemudian melanjutkan pendidikannya ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), sebuah sekolah milik Belanda. MULO adalah sekolah khusus untuk anak – anak Belanda dan Pribumi yang keturunan bangsawan. Selepas menempuh pendidikan di MULO, Abdullah Daeng Sirua kemudian membagikan ilmunya kepada warga sekitarnya yang tidak dapat mengeyam pendidikan formal. Abdullah menggunakan kolong rumahnya sebagai kelas untuk mengajar. Hampir tiap sore, Abdullah mengajar mengaji serta ilmu agama.
Melawan Belanda dan Jepang
Pada
masa perang kemerdekaan, rumah Abdullah dijadikan sebagai markas dan tempat
mensuplai makanan dan obat – obatan bagi para pejuang. Abdullah yang melewati
masa penjajahan Belanda dan Jepang tumbuh menjadi sosok pejuang yang sangat
gigih melawan Belanda. Tak heran, bila Belanda kemudian menjadikannya target
buruan utama. Abdullah akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara
Pandangpandang di Gowa. Ia ditahan selama setahun dan akan ditembak mati. Namun, nasib baik berpihak kepadanya. Konon, ketika matanya telah ditutup dan ditembak tak satupun peluru yang
mengenai tubuh Abdullah.
Ketika
Jepang masuk ke Makassar, tahun 1942, Belanda meninggalkan Indonesia. Kepergian
Belanda diambil oleh Jepang yang kemudian melanjutkan penjajahan di Makassar.
Jiwa patriotik Abdullah kembali terpanggil untuk melakukan perlawanan, ia
bergabung ke organisasi Laskar Pejuang, Kesatuan Harimau Indonesia dan Keris
Muda untuk menyerang Jepang.
Abdullah
Daeng Sirua kemudian bertemu dengan tokoh – tokoh pejuang dari Sulawesi Selatan
seperti Wolter Monginsidi, Emmy Saelan, Raden Endang dan Siti Mulyati. Saat
itu, rumah Abdullah di kampung Tidung dijadikan sebagai markas para pejuang.
Basis perjuangan mereka menjangkau Takalar, Maros, Barru sampai ke Malino dan
Gowa.
Selama
berjuang, Abdullah sering ditangkap dan disiksa. Kadang penangkapan dan
penyiksaan yang dialaminya, justru oleh bangsa sendiri yang menjadi pasukan
KNIL kaki tangan Belanda. Sepanjang perjuangannya, Abdullah mengalami tiga kali
penangkapan. Ia pernah ditangkap dan disiksa bersama ayahnya oleh tentara KNIL.
Ibu jari tangan Abdullah dan Ayahnya, diikat dan diseret bersama dengan mobil.
Penyiksaan itu berlanjut dalam bentuk dipasung, dipukul dan digantung oleh
tentara KNIL.
Kabar
perlakuan kejam itu, kemudian menyebar ke seluruh kota Makassar. Bahkan telah
beredar kabar kalau Abdullah Daeng Sirua telah meninggal dunia. Masyarakat
kemudian membentuk gerakan untuk melakukan penyergapan kepada antek – antek
KNIL. Sehingga terjadi perlawanan besar – besaran dari masyarakat.
Menjadi sosok penceramah dan guru agama
Saat
Belanda meninggalkan Indonesia, Tahun 1949, Abdullah menjadi penceramah dan
mengajar agama di berbagai Sekolah Rakyat. Pada tahun 1970 – an, Abdullah
dikenal sebagai salah seorang Da'i di kota Makassar. Ia juga pernah menjadi
kepala urusan agama kecamatan Karuwisi selama tujuh tahun. Setelah, itu,
Abdullah ditugaskan sebagai kepala urusan agama kecamatan Panakkukang selama
tiga tahun. Ia kemudian dipindahkan ke kabupaten Gowa, di sana dia menjadi
kepala urusan Haji hingga pensiun pada tahun 1975.
Masa
pensiun Abdullah, lebih banyak dihabiskan dengan mengisi pengajian, ceramah dan
pelajaran agama bagi warga disekitarnya. Dia meninggal tahun 1979. Namun, ia
menolak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dan hanya meminta dikuburkan
di kampung kelahirannya dan tempatnya berjuang bersama ayahnya yaitu kampung
Tidung.
Sebelum wafat, Abdullah Daeng Sirua mengamanahkan agar kampung Tidung tetap dilestarikan, termasuk satu sumur di depan rumahnya. Ia meminta sumur itu tidak dibongkar, sebab pernah menjadi tempat persembunyian Wolter Monginsdi. Ketika itu, saat Belanda mengepung kampung, Monginsidi yang terjepit kemudian masuk bersembunyi ke sumur itu.
Konon, Abdullah Daeng Sirua menolak namanya dijadikan
sebuah nama jalan jika ia meninggal. Tetapi jasa besarnya, kepribadiannya yang
teguh, pengabdiannya yang tanpa pamrih, membuat warga Tamamaung dan Masale
bersikeras agar namanya dijadikan nama jalan di wilayah itu. Kini nama Abdullah
Daeng Sirua menjadi nama sebuah jalan di kota Makassar.
Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami
.jpg)
Comments
Post a Comment