PERSETERUAN DENGAN KERAJAAN BONE
Setelah Raja Gowa ke – 10 yaitu Karaeng Tunipalangga Ulaweng wafat. Beliau mengamanahkan kepada saudaranya yaitu Karaeng Tunibatta untuk mewarisi tahta kerajaan Gowa sebagai Raja Gowa yang ke – 11. Bagaimana masa kepemimpinan Karaeng Tunibatta?
Karaeng Tunibatta
I Tajibarani Daeng Marompa Karaeng Data’ Taua atau yang lebih dikenal dengan Karaeng Tunibatta, beliau lahir pada tahun 1517 dan diangkat menjadi raja pada usia 48 tahun. Beliau adalah putra kedua dari Raja Gowa ke – 9 yaitu Karaeng Tumapa’risi Kallonna, I Sambo Daeng dan Niasseng Karaeng Bainea Putri dari Raja Tallo ke – 4 Daeng Padulu Tumenaanga ri Mangkoyang. Selain mempunyai saudara laki – laki beliau juga mempunyai saudara perempuan bernama I Syafia Karaeng Sombaopu.
Karaeng Tunibatta menikah dengan adik perempuan Karaenga ri Jamarrang yang bernama I Daeng Mangkasara. Dari perkawinan ini, maka lahirlah empat orang anak yakni I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo yang kelak akan menjadi Raja Gowa ke – 12. Kemudian I Tamakebo Daeng Mate’ne Karaenga ri Botongang yang biasa juga disebut Karaeng Mape’dakka. Kemudian I Daeng Tonji Karaenga ri Bisei dan yang terakhir adalah I Daeng Biasa.
Masa Kepemimpinan Karaeng Tunibatta
Masa kepemimpinan Karaeng Tunibatta terbilang sangat singkat yaitu hanya selama 40 hari. Suatu ketika, tepatnya 20 hari setelah bertahta sebagai Raja Gowa ke – 11. Beliau kemudian melanjutkan perang untuk menaklukan kerajaan Bone seperti yang telah dilakukan kakaknya yaitu Karaeng Tunipalangga Ulaweng, dan beliau sendiri yang akan memimpin penyerangan tersebut.
Akhirnya penyerangan ke kerajaan Bone pun dilakukan, pertempuran antara pasukan kerajaan Gowa dan kerajaan Bone terjadi di daerah Pappolongan. Pada saat itu, pasukan kerajaan Bone berhasil dipukul mundur sampai ke benteng pertahanannya. Pasukan kerajaan Gowa terus mneyerang hingga jantung pertahanan kerajaan Bone, hingga Bukaka pun dibakar.
![]() |
| Ilustrasi perang bone gowa |
Atas usaha dari penasehat Raja Bone, Kajao Lalidong. Maka, Raja Bone ke – 7, La Tenri Rawe Bongkangnge mengizinkan jenazah I Tajibarani atau Karaeng Tunibatta dipulangkan ke Gowa didampingi pembesar dari Dewan adat Kerajaan Bone yaitu Arung Teko, Arung Biru, Arung Sanrego serta Arung Lamoncong. Beliau kemudian dimakamkan di Bukit Tamalate.
Ada kisah menarik antara Arung Lamoncong dengan Karaeng Tunibatta. Walaupun kedua tokoh ini saling bermusuhan. Akan tetapi, Arung Lamoncong sangat menghormati Karaeng Tunibatta, di mana ketika Raja Gowa ke – 11 itu dimakamkan, Arung Lamoncong sempat berpesan kepada orang Gowa dan orang Bone, Jika kelak beliau meninggal ia ingin jenazahnya dimakamkan di dekat Karaeng Tunibatta. Amanah ini rupanya dilaksanakan, ketika Arung Lamoncong wafat jenazahnya pun dimakamkan di tempat yang ia tunjuk yaitu di dekat makam Kareng Tunibatta.
Perjanjian Bone dan Gowa oleh Karaeng Tunijallo
![]() |
| Perjanjian bone gowa |
Berselang beberapa hari kemudian untuk meredakan ketegangan kedua belah pihak. Maka diadakanlah perjanjian perdamaian antara Gowa dan Bone di Caleppa. Bone diwakili oleh Raja Bone ke – 7 (La Tenri Rawe Bongkangnge) dan penasehatnya (Kajao Lalidong) sedangkan Gowa diwakili I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa atau lebih dikenal Karaeng Tunijallo dan I Mappatakattana Daeng Padulung sebagai Mangkubumi.
Perjanjian ini kemudian lebih dikenal dengan nama Perjanjian Caleppa, dalam bahasa Makassar dikenal dengan Ulukanaya ri Caleppa atau dalam bahasa Bugis Ceppae ri Caleppa yang mana isinya berbunyi:
- Bone meminta kemenangan – kemenangan yaitu kepadanya harus diberikan daerah – daerah sampai sungai WalanaE di sebalah barat dan sampai di daerah Ulaweng di sebalah utara.
- Sungai Tangka terletak diperbatasan Bone dan Sinjai. Akan tetapi, perbatasan daerah Bone dan Gowa yaitu sebelah utara masuk wilayah Bone dan sebalah selatan masuk wilayah Gowa.
- Agar negeri cenrana masuk daerah kekuasaan Bone, karena memang dahulu Cenrana telah ditaklukan oleh Raja Bone La Tenrisukki Mappajange atau Raja Bone ke – 5 sebagai hasil kemenangan dalam peperangan melawan Raja Luwu bernama Raja Dewa yang sudah sekian lama menguasai Cenrana.
Setelah perjanjian itu tercapai, maka utusan atau delegasi kerajaan Gowa kembali ke Kerajaan Gowa. Setibanya di Gowa, maka tidak lama kemudian dinobatkanlah Karaeng Tunijallo sebagai Raja Gowa ke – 12. Pelantikan Karaeng Tunijallo sebagai Raja Gowa ke – 12 dihadiri pula oleh Raja Bone La Tenri Rawe Bongkangnge yang datang ke Gowa bersama Kajao Lalidong.
Sejak Karaeng Tunijallo dinobatkan sebagai Raja Gowa ke – 12, beliau menggalang persahabatan dengan Raja Bone (La Tenri Rawe Bongkangnge) yang ditandai dengan perjanjian persaudaraan kedua belah pihak. Adapun isi perjanjian itu berbunyi:
“Musuh – musuh raja atau kerajaan Gowa adalah musuh – musuh raja atau Kerajaan Bone. Demikian pula sebaliknya, musuh – musuh raja atau kerajaan Bone adalah musuh – musuh raja atau kerajaan Gowa. Rakyat Gowa yang masuk ke wilayah kerajaan Bone adalah seperti mereka itu masuk ke negerinya sendiri. Sebaliknya pula, rakyat Bone yang masuk ke wilayah kerajaan Gowa adalah seperti mereka berada negerinya sendiri”.
Masa Kepemimpinan Karaeng Tunijallo
Semasa pemerintahannya, Karaeng Tunijallo telah banyak menjalin hubungan persahabatan dengan beberapa kerajaan di Nusantara antara lain Raja Mataram, Raja Banjarmasin, Kerajaan di Pulau Jawa, Blambangan, Raja – raja di kepulauan Maluku, Raja di kepulauan Timor, Raja Johor, Raja Pahang, Raja Malaka, Patani, Thailand dan masih banyak lagi.
Karaeng Tunijallo pula yang mula – mula mengizinkan para perantau dan pedagang yang beragama Islam mendirikan Masjid di Mangalle Kana atau Sombaopu agar para perantau dan pedagang tersebut dapat dengan leluasa menunaikan kewajiban – kewajiban agamanya.
Tidak lama kemudian, wafatlah I Mappatakattana Daeng Padulu’ setelah sebelas tahun lamanya menjabat sebagai Raja Tallo ke – 4 dan sekaligus sebagai Mangkubumi kerajaan Gowa. Ia kemudian digantikan oleh anaknya yaitu I Somba Daeng Niasseng Kareang Bainea yang juga istri dari Karaeng Tunijallo. Jadi pada saat itu, kedua suami istri ini menjadi raja yaitu suaminya menjadi Raja Gowa sedang sang istri menjadi Raja Tallo sekaligus Mangkubumi kerajaan Gowa.
Usaha – usaha untuk meluaskan pengaruh dan kekuasannya sampai ke daerah – daerah pedalaman yang dilakukan oleh penguasa kerajaan Gowa saat itu. Kemudian membangkitkan kekhawatiran bagi beberapa kerajaan Bugis. Untuk menentang supremasi kerajaan Gowa. Maka, Raja Bone, Raja Wajo serta Raja Soppeng membentuk satu persekutuan yang dikenal dengan nama Persekutuan TellumpoccoE yang diikrarkan di Daerah Timurung yang ditandai dengan penanaman batu.
![]() |
| Ilustrasi |
Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami
.jpg)
%20(1).jpg)
.jpg)
.jpg)
Comments
Post a Comment