KISAH DATU' PATTIMANG

ULAMA PENYEBAR ISLAM DI KERAJAAN LUWU


Keberangkatan Dato’ Tallua (Datu’ ri Tiro, Datu’ Salaiman, Datu’ ri Bandang) ke pusat kerajaan Luwu dilakukan lewat perjalanan laut ke selatan. Lalu memasuki teluk Bone menuju utara. Dari cerita rakyat yang berkembang di Kampung Tiro, ada indikasi Dato’ Tallua dalam perjalanan ke Luwu sempat transit di Negeri Tiro. Saat itulah Datu’ ri Tiro mulai mengenali Negeri Tiro sebelum menetapkannya sebagai salah satu wilayah dakwah dalam perjalanan pulang dari Luwu. Dari Lontara’ Wajo diketahui bahwa setelah sampai di Pattimang (Luwu), Datu’ Tallua diwakili Datu’ Sulaiman melakukan serangkaian dialog panjang dengan raja Luwu, La Patiware Daeng Pare’bung (1585 – 1610).

Dialog Antara Datu' Luwu dengan Dato' Tallua

Di Pattimang, Datu’ ri Tiro dan Datu’ Sulaiman berhasil menyakinkan dan mengislamkan Datu (raja) Luwu La Patiware Daeng Pare’bung pada tahun 1603 M lewat serangkaian dialog kritis. Pada suatu kesempatan dialog, Datu’ Sulaiman yang mewakili Dato’ Tallua bertanya kepada raja Luwu: "Siapakah yang Paduka ketahui paling tinggi kedudukannya atau kuasanya di jagad raya ini?" 

Raja Luwu menjawab: “Yang saya ketahui paling tinggi kedudukan dan kuasanya ialah Dewata SewwaE”. 

Lantas Datu’ Sulaiman menyambung dengan berkata: “Jika demikian, pengetahuan Paduka sama saja dengan pengetahuan kami”

Dialog pembuka tersebut mencerminkan upaya Datu’ Sulaiman menemukan kesamaan prinsip agama Islam yang dibawanya dengan kepercayaan lokal di kerajaan Luwu sebagai prasyarat diterimanya hal – hal baru dan terjadinya perubahan sistem budaya sebagaimana dikemukan Koentjaraningrat (1958:446 – 450).

Setelah beberapa saat Dato’ Tallua berada di Luwu, maka berlangsung pulalah suatu dialog terbuka antara raja Luwu dengan Datu’ ri Tiro, Datu’ ri Bandang dan Datu Sulaiman yang dihadiri oleh pejabat – pejabat tinggi kerajaan dan disaksikan oleh segenap rakyat. Dialog dilaksanakan beberapa hari dalam suasana tenang dan mengupas mengenai soal kepercayaan, ibadah, pemerintahan dan lain – lain. Yang paling menarik dalam dialog tersebut ialah soal tauhid (Keesaan Allah).

Dalam dialog yang dihadiri Datu’ ri Tiro, Datu’ ri Bandang dan Datu’ Sulaiman sebagai juru bicara mempergunakan dalil penciptaan dan dalil keserasian serta pemeliharaan untuk menetapkan tentang ada dan Esanya Tuhan (Mattata, 1967:71).

Prof. Dr. Mattulada
Konsepsi Tuhan Yang Maha Esa atau keesaan Tuhan diperkenalkan Datu’ Sulaiman dengan mempergunakan istilah yang telah dikenal oleh masyarakat sebelum datangnya agama Islam, yaitu: Dewata SewwaE (Dewata yang Tunggal), TopalanroE (Khalik), PatotoE (Penentu nasib), dan sebagainya (Mattulada, 1976:27).

Penggunaan istilah tersebut disebabkan konsep ketuhanan dalam kepercayaan Dewata SewwaE mempunyai persamaan dengan konsep ketuhanan dalam Islam pada beberapa segi. Misalnya dalam soal penciptaan alam dan manusia menurut kepercayaan lama adalah Dewata SewwaE sedangkan menurut ajaran Islam adalah Allah SWT.

Begitu pula tentang sifat – sifat Tuhan dalam kepercayaan masyarakat bahwa Dewata SewwaE merupakan dewa tunggal, tidak berayah, tidak beribu, tidak makan dan minum dan maha kuasa atas segala sesuatu. Sifat – sifat ini terdapat pula dalam konsep ketuhanan agama Islam, bahkan jauh lebih lengkap. 

Koentjaraningrat
Sekali lagi, Datu’ Sulaiman bersama Datu’ ri Tiro dan Datu’ ri Bandang mampu menunjukkan bahwa agama Islam yang dibawanya memenuhi prinsip fungsi bagi masyarakat Luwu, yang dalam teori Koentjaraningrat (1958: 446 – 450). Berarti kehadiaran sesuatu yang baru mampu menggantikan fungsi – fungsi anasir budaya lama.

Gambaran proses awal Islamisasi di Luwu menunjukkan bahwa sasaran pokok Dato’ Tallua ialah masalah tauhid dengan pendekatan kepercayaan Dewata SewwaE sebagaimana terdapat dalam kitab (sure’) La Galigo. Metode Islamisasi yang diterapkan terbukti berhasil dengan baik. Mattulada (1976:33) menggambarkan dengan tepat bahwa semangat keagamaan orang Bugis dan Makassar tersentuh dengan tepatnya karena sasaran utama dari para mubalig Islam (pada permulaan datangnya) hanya tertuju kepada soal iman dan kebenaran tauhid.

Berdasarkan kesaksian Lontara’ Sukku’na Wajo, akhirnya Dato’ Tallua berhasil mengislamkan raja Luwu ke – 15 bernama La Patiware’ Daeng Pare’bung dengan mengucapkan syahadat bersama segenap anggota keluarga istananya pada tanggal 15 Ramadan 1013 H (4 Februari 1603 M). Lontara’ Sukku’ na Wajo tersebut juga menyebutkan bahwa setelah resmi memeluk agama Islam La Patiware’ Daeng Pare’bung lalu diberi nama muslim Sultan Muhammad Mudharuddin.

Diterimanya Islam di Kerajaan Luwu

Penerimaan agama Islam oleh Datu' Luwu (La Patiware Daeng Pare’bung), selanjutnya diumumkan ke seluruh negeri agar rakyat mengikuti keyakinan baru Raja mereka. Setelah Datu (raja) Luwu menerima dan menganut Islam serta mengganti namanya, Dato’ Tallua memohon agar Datu (raja) Luwu bersedia membantu menyebarkan Islam secara aktif melalui birokrasi kerajaan kepada negeri – negeri Bugis dan Makassar lainnya. Namun, maksud tersebut tidak disanggupi raja Luwu, Sultan Muhammad. Datu' Luwu kemudian mengakui tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk menyebarkan agama Islam, raja Luwu menyarankan agar Dato’ Tallua mendekati penguasa Kerajaan Gowa Tallo yang pada saat itu memiliki kekuatan besar. Saran raja Luwu didasarkan fakta bahwa pada saat itu Luwu hanya memiliki kemuliaan, tetapi kekuatan dan kekuasaan yang diperlukan dalam perluasan pengaruh agama Islam secara efektif dimiliki oleh Kerajaan Gowa Tallo.

Sikap rendah hati Sultan Muahammad Mudharuddin dalam hal Islamisasi dipahami Datu’ ri Tiro dan Datu’ ri Bandang dengan mengikuti saran raja Luwu untuk kembali ke Gowa. Datu’ Sulaiman sendiri sudah berketetapan hati ingin tetap mendampingi Datu (raja) Luwu, mengajarkan Islam dengan metode pendekatan ilmu kalam yang berbasis pada pengajaran tauhid, yakni pemahaman tentang sifat – sifat Allah SWT. Sedangkan Datu’ ri Bandang dan Datu’ ri Tiro kembali ke kerajaan Gowa untuk mengajak rajanya memeluk agama Islam sekaligus membantu penyebarannya.

Strategi Dakwah Datu' Pattimang

Sejak raja Luwu resmi memeluk agama Islam, Datu’ Sulaiman selalu aktif mendampingi sebagai pembimbing agama kerajaan, bukan hanya untuk keluarga istana melainkan juga seluruh rakyatnya. Misi Islamisasi Datu’ Sulaiman berjalan mulus melalui jalan damai karena dukungan pemerintah kerajaan. Selain itu, kepatuhan rakyat terhadap raja juga sangat mendukung meskipun tidak jarang juga cerita rakyat memberitakan adanya sikap kritis komunitas pedalaman.

Sepanjang karier Datu’ Sulaiman di Luwu, diketahui adanya aktivitas penulisan manuskrip yang berisi tentang aturan dan tata cara peribadatan (ilmu fikih) dan berbagai perkara yang menyangkut syahadat (tauhid dan keimanan akan keesaan Allah). Manuskrip itu disebut – sebut sebagai hasil pemikiran Datu’ Sulaiman yang ditulis dengan huruf Arab Melayu atau huruf Serang. Bagi banyak orang manuskrip tentang ajaran fikih dan tauhid yang ditemukan dianggap sebagai kitab Islam tertua di Luwu, sehingga dinamakan Kitta Sinonnerenna Petta Luwu. Uraian dan pengungkapan aspek syahadat dalam kitab tua Islam di Luwu disebut penduduk sebagai Syahada’ Simulanna LinoE (syahadat yang keberadaannya semenjak tercipanya dunia ini).

Pemindahan Ibu Kota dan Penyebarluasan Agama Islam

Setelah Sultan Muhammad wafat, putranya Sultan Abdullah dilantik menjadi Raja. Dalam masa pemerintahan Sultan Abdullah, pusat kerajaan dipindahkan dari Pattimang (Malangke) ke Palopo. Kelihatannya, pemindahan pusat kerajaan berkaitan dengan usaha penyebarluasan dan dakwah agama Islam karena lokasi ibu kota kerajaan yang baru sangat strategis, tepat di jantung kota kerajaan. Dengan posisi demikian, tentu dapat diperkirakan pengaruh agama Islam dapat merata di seluruh wilayah kerajaan Luwu.

Masjid Jami Tua Palopo
Sultan Abdullah di Palopo lalu membangun masjid dan melakukan penguatan pemahaman agama Islam. Ia bersama Dewan Hadat Luwu mengintegrasikan perangkat Islam ke dalam struktur birokrasi kerajaan (Panngadareng). Dengan sebuah maklumat bersama, yaitu:

“Pattuppai ri ade’e; Pasanrei ri sarae; Muattangga ri rapang’e, mupattarette’I ri wari’r; mualai peppegau ri pabiasangnge”

Artinya Perhatikan keadaan masyarakat; sandarkan kepada sara’ (agama Islam); perhatikan keadaan masyarakat; tertibkan menurut aturan; bandingkan kepada kebiasaan.

Maklumat di atas mencerminkan tekad pemberlakuan aturan dan hukum Islam di wilayah kerajaan Luwu secara resmi pada masa pemerintahan Sultan Abdullah. Meskipun demikian, maklumat ini juga tetap menjaga agar adat – istiadat leluhur yang baik tetap diperhatikan agar saling mengisi dan saling mempengaruhi. Dengan demikian, tampak bahwa sejak itu agama Islam telah dapat membuktikan “Prinsip Konkret” yang berarti bahwa praktek – praktek keagamaan yang dibawa oleh Dato’ Tallua dapat dipergunakan dengan nyata dalam masyarakat karena tetap sejalan dengan adat kebiasaan leluhur yang pertama kali mereka kenal.

Strategi Dakwah Datu' ri Bandang dan Datu' ri Tiro

Dipihak lain, dalam perjalanan pulang Datu’ ri Tiro dan Datu’ ri Bandang terus berdiskusi mengenai strategi dakwah yang akan mereka gunakan untuk mengajak raja Gowa memeluk agama Islam. Dalam diskusi kedua khatib, terjadi perbedaan pendapat tentang aspek Islam yang akan menjadi prioritas pengajarannya. Datu’ ri Bandang berpendapat Islamisasi di Gowa harus memprioritaskan aspek syariah, sedangkan Datu’ ri Tiro memandang lebih efektif menekankan aspek tasawuf. 

Menurut Datu’ ri Tiro dalam pengembangan agama Islam, tasawuf sangat baik diajarkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebab menurut pengalamannya ajaran itu lebih mudah diterima. Sebaliknya, Datu’ ri Bandang berpendapat bahwa pendekatan syariahlah yang paling baik karena masyarakat kerajaan Gowa cenderung kepada perilaku yang bertentangan dengan hukum Islam, masyarakat Gowa pada saat itu sangat senang mengkonsumsi khamar (tuak) dan suka berjudi (abbotoro’).

Akibat perbedaan itu kedua khatib memutuskan untuk berdakwah di daerah yang berbeda, Datu’ ri Tiro untuk tinggal menetap berdakwah dilingkungan pedalaman Kampung Tiro, sedangkan Datu’ ri Bandang tetap meneruskan pelayaran menuju pusat kerajaan Gowa, Somba Opu. Ketetapan hati Datu’ ri Tiro untuk berdakwah di Negeri Tiro diperkuat oleh berita yang tiba padanya bahwa raja Tiro adalah seseorang yang berakal budi dan sangat antusias menerima kebenaran. 


Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami

Comments

  1. Akhirnya di ceritakan secara eksklusif...Lanjut kisah datuk ri bandang dengan datuk ri tiro

    ReplyDelete

Post a Comment