AWAL MASUKNYA ISLAM DI NEGERI TIRO
![]() |
Kedatangan Datu' ri Tiro di Bulukumba, dilatarbekalangi oleh perbedaan pendapat tentang metode dakwah yang akan diterapkan di Gowa dengan Datu' ri Bandang setelah dalam perjalanan kembali dari Luwu. Dalam perjalanan kembali ke Gowa sesuai saran Raja Luwu, Datu' ri Bandang dan Datu' ri Tiro terlibat perdebatan kritis, topik yang mereka perdebatkan berkenaan dengan aspek Islam yang seharusnya diprioritaskan dalam Islamisasi.
Datu' ri Bandang berpendapat bahwa "aspek syariah
seharusnya dikedepankan dalam Islamisasi di Gowa, karena sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan masyarakat pada saat itu". Sebaliknya, Datu' ri Tiro
memandang bahwa "aspek tasawuf yang paling penting dikedepankan karena
sesuai dengan selera masyarakat". Oleh karena perbedaan itu tidak dapat dikompromikan
dan masing-masing sangat teguh pada pendirian, maka keduanya mengambi keputusan
untuk menjalankan dakwah di daerah yang berbeda.
![]() |
| Mattulada |
Alasan dan Metode Penyebaran Islam di Negeri Tiro
Datu' ri Tiro lantas memutuskan berlabuh di daerah Tiro yang sekarang di Kecamatan Bonto Tiro. Salah satu sumber cerita rakyat setempat, melukiskan kisah bahwa Datu' ri Tiro mendarat di pesisir pantai Limbua dan dari situlah ia memulai penyebaran agama Islam. Sebagaimana salah satu pola penyebaran dan pembentukan formasi sosial Islam di Asia Tenggara yang dirumuskan Taufik Abdullah (1988:83), Datu' ri Tiro terlebih dahulu berhadapan dengan suatu ujian ketinggian ilmu magis dari tokoh-tokoh lokal kharismatik. Datuk ri Tiro sebelum memulai pengajarannya, terlebih dahulu harus mengadu kesaktian dengan Karaeng Tiro, apalagi kedatangannya sangat menarik perhatian karena diberitakan memiliki kekeramatan yang luar biasa.
Tampaknya, pola permainan adu kesaktian (kekuatan spritual) sering dihadapi oleh para wali dan ulama pionir Islam di masa lalu, guna menegaskan jika perang tidak diperlukan. Hikayat Banjar misalnya, menceritakan bahwa "cahaya" Raden Rahmat sudah cukup untuk membuat penguasa dari Jipang menjadi Islam atau ketika penguasa Kutai dikalahkan Datu' ri Bandang lewat adu kekuatan magis (Reid, 2011b:179-180)
Ada dua hal pertanyaan yang mesti dijawab:
- Bagaimana Datuk ri Tiro menemukan negeri ini?,
- Mengapa Negeri Tiro dipilih sebagai tempat dakwah?.
Kedua pertanyaan ini penting, untuk melihat pertimbangan
strategis dakwah Islam masa-masa awal khusunya di Negeri Tiro (Bulukumba) pada khususnya dan
Sulawesi Selatan pada umumnya. Dari bukti arkeologis berupa keramik asing,
Negeri Tiro di masa lalu merupakan pelabuhan transit yang penting dalam menghubungkan
sejumlah pusat kerajaan di dalam kawasan Teluk Bone dan wilayah timur atau
barat Nusantara seperti Buton, Maluku, Ternate, Johor, Jawa dan lain-lain.
Dalam survei secara acak, ditemukan sejumlah fragmen
keramik dari abad ke-14 M serta koleksi hasil penggalian masyarakat yang
disimpan oleh keluarga keturunan Raja Tiro. Bukti arkeologis ini menunjukkan
adanya aktivitas perdagangan yang sudah dinamis di pantai Tiro,
sekurang-kurangnya sejak abad ke-14 M. Dengan demikian, pilihan menjadikan
negeri Tiro sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam juga berkaitan
dengan kedudukan pentingnya dalam pelayaran niaga di abad pertengahan.
Dari aspek geografis, wilayah Negeri Tiro dapat menjadi pelabuhan transit, baik ketika musim barat maupun musim timur sehingga ketika pelabuhan niaga Selayar tidak aman dari terjangan ombak, pantai Tiro dapat menjadi salah satu pilihan terdekat yang dapat ditemukan. Posisi strategis itu disebabkan pula, pantai timur pulau Selayar kurang baik untuk berlabuh karena secara geomorfologis kawasan tersebut didominasi tebing-tebing karang yang terjal. Sepanjang sejarah pelayaran, di pesisir timur Selayar hanya dikenal sedikit pelabuhan transit, di antaranya pelabuhan Balara' yang berhubungan dengan pusat kekuasaan Kerajaan Buki.
Dengan posisi tersebut, pelabuhan pantai Tiro agaknya dapat
menjadi alternatif para pelaut dan pedagang pada saat musim timur. Pelabuhan
alam di pesisir Negeri Tiro memang sangat baik untuk berlabuh, sebagaimana
sampai sekarang masih digunakan seperti pelabuhan alam Biropa' yang tampak
lebih aman dibandingkan dengan Bira.
Pemilihan wilayah Tiro sebagai salah satu pusat dakwah
Islam di abad ke-17 M oleh Datu' ri Tiro juga tampak berkaitan dengan pembagian
geografis. Kawasan Negeri Tiro (Bulukumba Sekarang) dapat diharapkan menjadi
salah satu titik strategis memperluas pengaruh di bagian selatan Sulawesi
Selatan, Gowa untuk penyebaran ajaran Islam wilayah bagian sisi barat dan
tengah Sulawesi Selatan, sedangkan Luwu untuk kawasan utara.
Selain itu, sistem pengajaran tasawuf yang menjadi dasar ajaran Datu' ri Tiro sebagaimana halnya tatanan surau di Minangkabau dan dayah di Aceh selalu dibangun di tempat terpencil, pedalaman. Dakwah di kawasan Negeri Tiro juga tepat mengingat kuatnya pengaruh kepercayaan Patuntung di dataran tinggi wilayah selatan Sulawesi Selatan. Penganut kepercayaan Patuntung memiliki orientasi kekeramatan pada Gunung Bawakaraeng, yang mengingatkan kita pada perkembangan awal kota Islam di Gresik yang juga bertetangga dengan "Bukit Suci" Giri (Reid, 2011b:204).
Patuntung adalah suatu kepercayaan yang memiliki roh peng-Esa-an Tuhan sehingga dipandang dapat dengan mudah melakukan dialog keagamaan yang memberi jalan perkembangan bagi ajaran Islam di wilayah selatan. Dalam ajaran Patuntung ditemukan adanya kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Pencipta Alam Semesta, mempercayai adanya kenabian, dan hidup setelah mati. Gambaran Islamisasi di Sulawesi Selatan oleh Dato Tallua memperlihatkan dua corak, yaitu:
- Corak pemahaman akidah yang masih sangat dipengaruhi oleh kepercayaan leluhur (magis), yaitu pemahaman dan pengalaman kelompok masyarakat di Cerekang, Kajang Le'leng, Tiro, dan Amparita.
- Corak pemahaman dan pengalaman yang sudah didominasi oleh syariat (hukum Islam) yang diintegrasikan ke dalam Pangngadareng, yaitu pemahaman dan pengalaman umat Islam di pusat-pusat kerajaan Luwu, Gowa, Bone, Wajo dan kerajaan-kerajaan lainnya di luar kelompok masyarakat yang tergolong masyarakat khusus.
Meskipun demikian, perbedaan pemahaman ajaran agama Islam
tidak dipersoalkan. Umat Islam yang beraliran tarekat, pada waktu itu leluasa
keluar-masuk kampung membangun basis pengikut baru. Murid-murid Syekh Yusuf
(Tarekat Khalwatiah) dengan leluasa mengamalkan pahamnya ke negeri-negeri Bugis
dan Makassar. Begitu pula murid-murid Datu' ri Tiro tidak memperoleh hambatan
dalam melaksanakan acara ritual pada masyarakat yang berdiam pada bagian
selatan Gunung Bawakaraeng.
Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami


Comments
Post a Comment