FALSAFAH BUGIS
Suku Bugis merupakan salah satu suku tertua
yang ada di Indonesia, suku ini mendiami sebagian besar wilayah daratan di
Sulawesi Selatam. Dalam kesehariannya, masyarakat Bugis dikenal menganut
banyak prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang dijunjung tinggi oleh
masyarakatnya. Buku "Menguak Nilai Kearifan Lokal Bugis Makassar: Perspektif Hukum dan Pemerintahan", menyebut sorotan kultur Bugis-Makassar
penuh dengan nuansa religi, hikmah, etika dan estetika, perasaan dan kejujuran
yang dihajatkan kepada Tuhan. Selain itu kearifan lokal kelompok masyarakat
Bugis juga mengandung pelajaran tentang kejatuhan dan kebangkitan serta percaya
pada takdir dan perubahan nasib.
Berikut 6 Falsafah Hidup masyarakat Bugis yang dapat kita
jadikan pegangan dalam menjalani kehidupan
1. ININNAWA
Dalam memakanai sebuah kehindahan, masyarakat Bugis membagi
konsep keindahan menjadi 2 bagian yakni keindahan ideal (ininnawa) dan
keindahan berbentuk materi atau berwujud nyata yang biasa dikenal dengan
istilah watang.
Ininnawa berasal dari kata Nawa atau Nawa - Nawa, sesuatu yang ada di dalam fikiran. Dalam nawa - nawa, kenyataan di dunia ini (materi) dipersepsikan sebagai tiruan belaka, asli ada dalam pikiran. Dunia ideal tidak tersentuh oleh apa yang ada di dunia itu sendiri (materi). Jika Nawa - Nawa itu baik maka disebut Ininnawa, makanya Ininnawa merupakan hasil pikiran dari keharmonisan nalar dan kata hati yang tentu memiliki niat Luhur untuk mencapai harapan secara nyata sebelum berbuat.
Jika dihubungkan dengan pemaknaan tentang
keindahan, Ininnawa adalah bentuk keindahan ideal yang berada dalam pikiran,
orang Bugis memandangnya seperti itu. Sedangkan sesuatu yang berwujud atau
Watang hanyalah sekedar bayang bayang yang berwujud hanyalah bentuk atau
penjelmaan dari pikiran. Segala macam bentuk karya seni dianggap sebagai
sekadar bayangan yang nyata dari apa yang ada dalam pikiran seseorang ketika
membuat hal tersebut.
Semisal kapal Pinisi, keindahannya dianggap ada pada konsep
bukan dalam bentuk Pinisi itu sendiri. Pinisi hanyalah bayang-bayang dari ide orang-orang
mengenai konstruksi pembuatan kapal. Olehnya itu, seni pembuatan kapal perahu
di Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dunia atau
Intelgible Cultural Heritage oleh UNESCO pada tahun 2017, artinya warisan
budaya, ide dan keterampilan adalah membuat perahu atau kapalnya.
Hal ini sangat sangat cocok dengan konsep keindahan yang
diyakini oleh masyarakat Bugis. Orang Bugis beranggapan bahwa keindahan adalah
sesuatu yang sederhana, makanya tidak ada ukuran bagi suatu keindahan, sifatnya
tidak terbatas. Sesuatu yang indah dianggap tidak ternilai atau tidak dapat
dinilai serta tidak dapat digambarkan.
2. SITINAJA
Lain lagi tentang Sitinaja, ini adalah konsep kesederhanaan dalam keindahan bagi orang Bugis yang berarti pantas, wajar atau patut. Kewajaran dalam Sitinaja adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan porsinya. Seseorang yang bertindak wajar berarti mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kedudukannya, ia tidak mengambil hak – hak orang lain melainkan memahami hak – haknya sendiri apalagi untuk orang lain. Ia sadar orang lain mempunyai hak – hak yang patut untuk dihormati.
Dalam konteks indah yang lebih luas masyarakat Bugis menganggap indah sebagai persoalan cara memandang hidup dengan bertindak dan menerapkannya dalam pembentukan karakter. Bagi orang Bugis keindahan yang ideal tidaklah bersifat tunggal, ia didukung oleh bentuk – bentuk keindahan lain disekitarnya artinya suatu keindahan benar – benar mencapai idealnya ketika ia harmonis dengan lingkungannya.
Konsep – konsep keindahan inilah yang tercermin dari berbagai bentuk kesenian dan tradisi orang Bugis sebut saja arsitektur orang Bugis, rumah orang Bugis terdiri dari tiga bagian yakni Rakkeang, Ale Bola dan Awa Bola. Konstruksi ini bagi orang Bugis memiliki nilai tersendiri. Pandang kosmologis suku Bugis menganggap bahwa makrokosmos atau alam raya ini tersusun atas tiga tingkat yaitu Buktinglangi atau dunia atas, Alekawa atau dunia tengah dan Uliriwu atau dunia bawah. Segala pusat dari ketiga bagian itu adalah Botinglangi tempat Dewata SewwaE atau Tuhan Yang Maha Kuasa bersemayam. Makanya diciptakan Rakkeang atau Loteng, Ale Bola atau badan rumah dan Awa Bola atau kolong rumah atau kaki rumah.
Makna yang diwakili dari tingkatan tersebut merupakan
cerminan akan tiga dunia yang diyakini manusia Bugis yaitu dunia atas, dunia
tengah dan dunia bawah. Sedangkan secara fungsional rumah Bugis memiliki fungsi
yang menjelaskan bagaimana kehidupan itu harus dibangun secara seimbang dengan
keluarga, masyarakat dan lingkungan..
Filosfi yang diyakini orang Bugis bukan hanya pada kesenian dan tradisi saja melainkan juga pada aspek kehidupan. Sesuatu yang indah adalah sesuatu yang memiliki nilai yang tidak hanya bisa dilihat dari bentuknya, estetika atau keindahan tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang sedap dipandang mata melainkan apa yang pantas dan memberikan dampak baik bagi kehidupan. Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa Bugis bukan hanya suku dan budaya, Bugis adalah bentuk dari keindahan itu sendiri.
3. SIRI’ NA PESSE
Siri’ Na Passe atau yang biasa dalam bahasa Makassar kita
sebut Siri’ Na Pacce. Secara harfiah siri’ artinya rasa malu sedangkan pesse
atau pacce artinya sedih. Secara istilaha falsafah ini artinya hidup dengan
menyinggung tinggi harkat martabat dan harga diri serta rasa kasihan yang
timbul dari dalam hati ketika melihat penderitaan orang lain.
Dalam buku “The Miracle of Pride” karya Venantius Riyanto
2014 Hal. 2 disebutkan bahwa masyarakat Bugis dan Makassar sangat menjunjung
tinggi budaya siri’, mereka sangat mengutamakan ideologi harga diri. Maka tak
heran apabila mereka sangat malu apabila harga dirinya tercoreng. Dalam
kebiasaan Sulawesi Selatan masyarakat Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja terdapat suatu istilah atau semacam jargon yang menggambarkan identitas serta watak
orang Sulawesi Selatan yakni Siri’ Na Pacce atau dalam bahasa Bugis Siri’ Na
Pesse. Secara lafaz siri’ berarti rasa malu atau harga diri sementara pacce
atau pesse disebut yang berarti pedih atau pedas. Berarti pacce atau pesse
semacam kepintaran emosional guna turut menikmati kepedihan atau kesusahan
pribadi lain dalam komunitas atau solidaritas dan empati.
4. RESOPA TEMANGINGNGI’ NAMOLOMO NALETEI PAMMASE DEWATA
Secara keseluruhan dapat diartikan hanya dengan kerja keras
dan ketekunan maka akan mudah mendapatkan Ridho oleh Tuhan. Orang Bugis memang
dikenal pantang menyerah dan gigih dalam berusaha, pepatah inilah yang selalu
dipegang kuat oleh mayoritas suku Bugis sebagai pemicu semangat dalam
keberhasilan dan dijadikan motivasi bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis
ke tempat perantauan.
Falsafah ini menegaskan bahwa untuk mencapai sebuah tujuan
diperlukan kerja keras dan ketekunan. Dengan begitu, maka dengan mudah akan
mendapatkan Ridho dari Yang Maha Kuasa. Pepatah ini selalu dipegang kuat oleh
sebagaian besar masyarakat Bugis untuk memacu semangat untuk mencapai
keberhasilan khususnya bagi mereka yang meninggalkan tanah Bugis menuju perantauan.
5. SIPAKATAU, SIPAKALEBBI DAN SIPAKAINGE
Sipakatau sendiri adalah sifat memanusiakan manusia artinya
sebagai menusia kita harus saling menghormati, berbuat santun dan tidak membeda
– bedakan dalam kondisi apapun tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan
kepada sesama manusia.
Sipakalebbi merupakan sifat saling memuliakan atau
menghargai. Sifat menghargai artinya manusia merupakan makhluk yang senang jika
dipuji dan diperlukan dengan baik dan layak. Sifat memuliakan memiliki arti
sebagai larangan untuk melihat kekurangan yang ada pada diri orang lain.
Sipakainge merupakan sifat saling mengingatkan sesama
manusia. Hal ini tidak terlepas dari kekurangan yang dimiliki oleh manusia itu
sendiri yang terkadang lupa. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita untuk
saling mengingatkan satu sama lain ketika mereka lupa.
Prinsip inilah yang selalu diamalkan masyarakat Bugis untuk
membangun pendidikan karakter khususnya di tengah derasnya arus globalisasi.
Sebab pendidikan karakter merupakan salah satu bagian terpenting dalam
kehidupan.
6. TARO ADA TARO GAU
Pepatah tersebut mengartikan apa yang terucap dari mulut
haruslah seiring dengan perbuatan. Maka dari pepatah ini mengajak kita untuk
senantiasa menjaga konsistensi antara perbuatan dengan ucapan. Bagi masyarakat
Bugis ketika perbuatan selaras dengan ucapan, maka orang lain akan semakin
memberikan kepercayaannya. Dengan kepercayaan itu maka tidak akan sulit
mendapatkan cinta dari orang lain.
DARI KEENAM FALSAFAH BUGIS ITU YANG MANA SUDAH KITA
TERAPKAN. JIKA ADA TAMBAHAN SILAHKAN ISI RUANG DISKUSI DI KOLOM KOMENTAR YAH:)
Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami
.png)
Comments
Post a Comment