KISAH DATU' RI BANDANG

Penyebaran Islam di Kerajaan Gowa Tallo hingga ke seluruh Jazirah Sulawesi Selatan

Datu' ri Bandang

Abdul Makmur, Khatib Tunggal atau yang lebih dikenal dengan  nama Datu' ri Bandang. Menurut cerita rakyat Makassar, bahwa beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau, Sumatera Barat. (Chambair-Loir,:141-142). Beliau adalah salah seorang murid penting dari Sunan Giri di Jawa Timur yang mengajarkan hukum syariah dan ilmu kalam. Ia datang ke Tallo dengan menumpang sebuah perahu yang sangat tidak lazim di mata orang Gowa-Tallo.

Diterimanya Islam oleh Raja Gowa Tallo

Setelah mendarat, Datu' ri Bandang langsung melakukan shalat, kemudian berdzikir dengan tasbih dan membaca Al-Qur'an sehingga penduduk yang melihatnya menjadi terpukau. Beberapa orang yang melihat Datu' ri Bandang, kemudian segera melaporkan ke raja Tallo akan kedatangan orang asing yang berperilaku tidak biasa.

Mendengar laporan tersebut, raja Tallo lantas berangkat menemui Datu' ri Bandang. Ketika bertemu, raja Tallo menyapa Datuk ri Bandang, segera setelah melihat dan bertanya "Tuhan apa yang kamu sembah?", Datu' ri Bandang menjawab "Tuhanku adalah Tuhan Tuan juga", karena terkesan dengan penampilan dan tutur kata Datu' ri Bandang dalam menjelaskan ajaran Islam, maka dengan kesadaran dan keikhlasan sendiri raja Tallo bersedia memeluk agama Islam. Setelah menjadi muslim, raja Tallo meminta kesediaan Datu' ri Bandang untuk menetap di Tallo guna mengajarkan agama Islam kepada rakyatnya.

Berdasarkan analisis Noorduyn (1956: 247-266), atas Lontara' Bilang Gowa, dapat diketahui bahwa usaha Datu' ri Bandang berhasil mengislamkan raja Tallo yang bernama I Malingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya pada hari kamis tanggal 9 Jumadil Awal 1014 H (22 September 1605 M) dengan nama muslim Sultan Abdullah Awwalul Islam. Beberapa saat kemudian menyusul Raja Gowa ke-14 I Mangarangi Daeng Manrabbia dengan muslim yaitu Sultan Alauddin

Setelah kedua raja kerajaan kembar tersebut memeluk agama Islam, Gowa - Tallo kemudian menjadi pusat penyebaran agama Islam untuk seluruh jazirah Sulawesi Selatan. Gerakan Islamisasi berlangsung dari tahun 1605 sampai dengan tahun 1612 M, kemudian pada akhirnya segenap kerajaan Bugis dan Makassar telah menerima agama Islam sebagai agama resmi kerajaan.

Proses Islamisasi Datu' ri Bandang

Pada awal program Islamisasi di Gowa, Datu'  ri Bandang terjun langsung menjadi guru agama Islam bagi para kerabat istana kerajaan Gowa. Untuk kepentingan dakwah, Datu' ri Bandang memohon kepada raja Gowa agar bersedia membangunkan masjid di Kaluku Bodoa. Di masjid Kaluku Bodoa itulah Datu' ri Bandang memulai dakwah dengan menyampaikan aspek - aspek yang berkenaan dengan syariah. Aspek syariah yang bersifat mendasar disampaikan, antara lain meliputi rukun Islam, rukun iman, hukum warisan, hukum perkawinan, dan upacara-upacara keagamaan (hari-hari besar Islam). 

Setelah memeluk agama Islam, raja Gowa sendiri memainkan peran ganda. Raja Gowa, Sultan Alauddin, selain bertindak sebagai hakim agama (yudikatif), ia juga menjadi eksekutif yang menjalankan roda pemerintahan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, proses dakwah di Gowa mendapatkan hasil sesuai dengan harapan Datuk TelluE, pada saat pertama kali tiba di Sulawesi Selatan. Penguasa Gowa mulai terlibat aktif menyebarkan agama Islam yang diawali dengan momentum deklarasi agama resmi kerajaan Gowa - Tallo yang ditandai dengan Sholat Jum'at pertama. Sesudah itu, Sultan Alauddin mengirim utusan - utusan ke sejumlah kerajaan tetangga untuk mengajak mereka menerima dan menganut agama Islam serta menjadikannya sebagai agama resmi kerajaan.

Setelah mendeklarasikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, utusan - utusan Gowa kemudian melakukan muhibah ke sejumlah kerajaan. Utusan yang berangkat ke kerajaan tetangga, pada umumnya mendapat tanggapan yang baik dari penguasa setempat seperti Sawitto, Balanipa (Mandar), Bantaeng, dan Selayar. Sebagai pendukung setia Kerajaan Gowa, kerajaan - kerajaan etnis Makassar dan Turatea juga memberi tanggapan baik, khususnya Galesong, Pattalassang, Bangkala dan Binamu. Sementara Kerajaan Bone, Soppeng dan Wajo mula-mula menolak ajakan Gowa serta membentuk persekutuan bernama "TellumpoccoE" untuk membendung agresi yang pasti terjadi setelah penolakan yang mereka lakukan.

Musu' Assellengeng

Penolakan kerajaan TellumpoccoE, tidak langsung ditanggapi dengan reaktif oleh raja Gowa. Beberapa waktu lamanya Sultan Alauddin masih terus mencoba jalan damai, dengan mendekati secara kekeluargaan kepada Raja Bone ke-10, We Tenri Tuppu. Meskipun demikian, raja We Tenri Tuppu tetap teguh pada pendirian, tidak menerima ajakan Sultan Alauddin untuk memeluk agama Islam. Penolakan yang dilakukan oleh Raja Bone ke-10 membuat Gowa memutuskan untuk menyebarkan agama Islam dengan cara mengobarkan musu' assellengeng atau perang untuk pengislaman.

Untuk tujuan strategis, musu' assellengeng Sultan Alauddin terlebih dahulu melakukan pendudukan pada kerajaan - kerajaan bagian barat, yaitu Sawitto di Pinrang. Setelah menduduki Sawitto, pasukan Gowa selanjutnya dengan mudah menguasai kerajaan Suppa dan mengislamkan raja Suppa yang sebelumnya sudah memeluk agama Kristen. 

Ekspansi Gowa terus meluas, dengan menguasai Sidenreng. Pasukan Gowa pada saat di Sidenreng lalu bertemu dengan pasukan aliansi TellumpoccoE, sehingga terjadilah pertempuran dahsyat yang dikenang dalam sejarah lokal dengan nama Perang Ajattapareng. Perang ini pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan persekutuan TellumpoccoE, sehingga memaksa pasukan Gowa kembali ke Somba Opu. 

Kegagalan pasukan Gowa menembus barikade (pertahanan) persekutuan TellumpoccoE, tidak mematahkan semangat Islamisasi Sultan Alauddin. Pada tahun 1608, Ia kembali melancarkan serangan ke sejumlah kerajaan Bugis dengan mendaratkan pasukan di tiga tempat sekaligus, yaitu Akkotongeng, Maroangin, dan Padaelo. Ekspansi Gowa babak II ke wilayah TellumpoccoE tampaknya berhasil dengan baik. Beberapa kerajaan kemudian memihak Gowa, menerima dan menganut agama Islam, yaitu Akkotengeng, Kerajaan Rappang, Bulu' CenranaE, Utting, dan Maiwa. 

Diterimanya Islam di Negeri Soppeng dan Wajo

Soppeng sebagai salah satu pilar utama persekutuan TellumpoccoE mendapat giliran diserang oleh Gowa pada tahun 1609. Serangan pasukan Gowa ke Soppeng juga berhasil dengan baik. Datu Soppeng, berhasil di-Islamkan tepat pada tahun 1609 M. Jejak Datu Soppeng menganut agama Islam diikuti oleh Arung Matoa Wajo, La Sangkuru Mulajaji dengan nama muslim Sultan Abdurrahman pada tanggal 10 Mei 1610 M.

Setelah memeluk agama Islam, Arung Matoa Wajo La Sangkuru Mulajaji lantas berperan aktif juga melakukan Islamisasi kepada rakyatnya, bahkan Arung Matoa Wajo sudah sampai ke Wani pada tahun 1666 M untuk mengajak masyarakat menganut agama Islam. Akan tetapi, komunitas Wani atau To Wani menolak sehingga mereka harus menerima konsekuensi Mallekke'dapureng (migrasi) ke Amparita yang merupakan wilayah kekuasaan Addatuang Sidenreng. 

Dengan takluknya dua pilar utama persekutuan TellumpoccoE, yakni Kerajaan Soppeng dan Wajo. Gowa pada akhirnya hanya tinggal menghadapi satu lawan berat, yakni Kerajaan Bone. Kondisi persekutuan TellumpoccoE yang menyisakan Bone sebagai satu kekuatan/kekuasan aliansi tampak sudah sangat memudahkan bagi Gowa untuk memenangkan perang dalam "musu' assellengeng". Meskipun demikian, Gowa tidak lantas menyerang sisa kekuatan persukutuan Bugis tersebut, melainkan tetap menempuh jalan damai dengan mengirim utusan untuk melakukan pendekatan, agar kerajaan Bone mau menerima agama Islam sebagaimana kerajaan tetangga lainnya.

Ajakan Gowa pertama - tama ditanggapi baik oleh Raja Bone, La Tenriruwa yang berkuasa pada waktu itu, tetapi keputusan beliau sangat ditentang oleh Ade' Pitue (Hadat Tujuh) dan mendapat dukungan rakyat. Akibatnya, La Tenriruwa diturunkan dari tahtanya dan digantikan oleh La Tenripale, Arung Timurung (Raja Bone ke-12) yang diangkat oleh Ade' Pitue. 

Gowa kemudian memandang penurunan La Tenriruwa dari tahta oleh Ade' Pitue sebagai bentuk penolakan atas ajakan memeluk agama Islam, sekaligus bermakna penentangan. Akibatnya, Gowa melakukan ekspansi ke Bone dengan sasaran mengalahkan La Tenripale dan memaksanya menerima Islam di Kerajaan Bone. Hasilnya, La Tenripale menerima agama Islam pada tanggal 23 November 1611 M.

Dengan penerimaan agama Islam oleh kerajaan Bone, dapat dikatakan jika seluruh wilayah di Sulawesi Selatan telah berada di bawah pengaruh dan kendali penguasa-penguasa muslim, kecuali di beberapa tempat di pedalaman seperti Toraja dan Kajang di Bulukumba.

 


Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami

Comments