KERAJAAN BONE #PART 1

AWAL MULA TERBENTUK KERAJAAN BONE

Rumah Adat Bone

Pada suatu waktu ketika pertempuran menimbulkan kejenuhan di suatu daerah, maka terjadi kesepakatan dari berbagai pihak yang terlibat untuk hidup berdampingan dengan damai. Agar tujuan ini tercapai, maka dibentuklah persekutuan yang erat di antara pihak-pihak yang sebelumnya bertikai. Kerajaan Bone terbentuk melalui masa-masa sulit tersebut sampai akhirnya terdapat kesepakatan bersama di antara kerajaan-kerajaan terkait.

Terbentuknya Kerajaan Bone tidak lepas dari membaiknya kondisi sosial di Sulawesi Selatan pada abad ke-14. Dikabarkan bahwa sejak abad ke-7, keadaan kerajaan-kerajaan kuno di Sulawesi Selatan terlibat dalam kekacauan yang berkepanjangan, di mana semua saling berperang. Peristiwa mengerikan tersebut juga tercatat dalam I La Galigo sebagai babak/lembaran paling kelam dalam sejarah peradaban Sulawesi Selatan. Kemudian setelah periode yang melelahkan itu, suasana menjadi lebih tenang dan sebagian besar kerajaan kuno membentuk aliansi dengan tujuan untuk memperkuat diri. 

Masa Sebelum Berdirinya Kerajaan

Diperkirakan bahwa Kerajaan Bone pertama kali terbentuk pada tahun 1330 atau awal abad ke-XIV, di bawah pemerintahan To manurung ri Matajang yang bergelar MatasilompoE. Sebelum terbentuknya Kerajaan Bone dan sebelum datangnya To Manurung ri Matajang, terdapat kelompok-kelompok masyarakat kecil yang disebut anang yang dipimpin oleh seorang ulu anang yang bergelar matowa. Selain sebagai kepala pemerintahan, matowa juga bertindak sebagai pemimpin keagamaan.

Setiap wanua memiliki kedaulatannya sendiri dan tidak memiliki hubungan organisatoris dengan wanua lainnya. Mereka tidak terikat oleh sistem kekuasaan yang menghubungkan satu dengan yang lainnya. Sistem pengangkatan matowa dilakukan melalui pemilihan langsung secara demokratis dan tidak ada hubungan antara kampung yang satu dengan kampung lainnya yang dapat memicu konflik horizontal.

Selama tujuh generasi atau sekitar 70 tahun yang disebut sebagai Bone, awalnya hanya terdiri dari tujuh unit kampung (wanua), yaitu Wanua Ujung, Wanua Ta’, Wanua Ponceng, Wanua Tanete Riattang, Wanua Tanete Riawang, Wanua Tibojong, dan Wanua Macege. Ketujuh wanua tersebut terjerumus dalam konflik yang berkepanjangan, sehingga keadaan ini dalam Bahasa Bugis disebut Sianre Bale Tauwe (yang kuat memakan yang lemah).

Mereka sulit membedakan antara lawan dan kawan, begitu pula sudah tidak ada lagi ade’ (hukum) yang dipakai selain hukum rimba, di mana ‘yang kuat dialah yang menang’. Sebagaimana disebutkan dalam Lontara', "Orang saling memakan seperti ikan besar memakan ikan kecil, saling menyerang (bunuh membunuh), tidak ada aturan, tidak ada bicara di antara mereka, selama tujuh generasi lamanya tidak ada raja, tidak ada adat/hukum (ade'). Selama itu pula lamanya tidak saling mengenal orang Bone".

Konflik ini terjadi karena kekosongan kepemimpinan, karena tidak ada tokoh yang dianggap pantas menjadi pemimpin besar yang dapat mempersatukan visi dan misi ketujuh wanua tersebut. Hal ini dikisahkan dalam Lontara' secara implisit dijelaskan dalam Sure' La Galigo bahwa hal tersebut disebabkan sudah tidak adanya lagi keturunan-keturunan La Galigo di Bone.

Tujuh kepala suku (kalula) dari kelompok masyarakat (anang) saling bersaing untuk memperebutkan kepemimpinan wilayah Bone. Konflik antara mereka sudah berlangsung selama bertahun-tahun, di mana masing-masing mengklaim sebagai keturunan La Galigo, namun tidak dapat membuktikannya karena tidak memiliki silsilah yang lengkap. Mereka merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan kalula. Semangat kejahiliyahan semakin memuncak untuk saling serang, dan perang saudara sudah tidak bisa dihindari lagi.

Berdirinya Kerajaan Bone dan Kemunculan To Manurung 

Berdirinya Kerajaan Bone dimulai dengan kehadiran To Manurung tiba dan menjadi penguasa tunggal. Ia membuat perjanjian dengan penguasa lokal saat konflik sedang berlangsung. Namun, tiba-tiba terjadi bencana alam yang mengerikan di wilayah Bone dan sekitarnya Gempa bumi yang disertai dengan angin kencang yang hebat, disusul hujan lebat dan petir yang sambar menyambar silih berganti, gemuruh guntur dan halilintar tiada henti – hentinya seolah – olah bumi akan runtuh untuk selamanya. Kejadian tersebut berlangsung selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah keadaan mulai membaik, tiba – tiba di tengah lapangan terlihat sebuah cahaya terang yang menyilaukan mata di tempat yang disebut “Matajang”. Bersamaan itu pula muncullah seseorang yang mengenakan pakaian serba putih (pabbaju pute) sedang duduk di atas batu, tetapi tidak diketahui siapa nama dan dari mana asalnya. Tak seorangpun yang mengetahui dari mana asalnya orang misterius tersebut, di mana semua orang yang melihatnya mengira kalau orang itu pasti datang dari kayangan sehingga mereka menyebutnya To Manurung artinya orang yang turun dari langit.

Berita kemunculan To Manurung tersebut cepat sekali menyebar di kalangan wanua di tanah Bone, mereka yang tadinya berperang segera menghentikan peperangannya lalu membuat kesepakatan untuk meminta kesediaan To Manurung tinggal dan menjadi raja di Tanah Bone.

Aja’na tallayang (artinya tidak usah lagi menghilang), engkaulah yang akan kami angkat menjadi raja kami di Wanua (Tanah Bone) ini

Lalu dijawab oleh orang berpakaian serba putih tersebut:

Saya ini bukanlah To Manurung seperti yang kalian sangkakan kepadaku, saya ini hanyalah hambanya To Manurung itu, tetapi kalau memang benar–benar mau mengangkat To Manurung itu menjadi rajamu, aku bersedia akan mengantarkan ke tempatnya

Orang wanua (Bone) serempak berkata:

Tuan, kami sungguh berharap kepadamu kiranya memberi petunjuk pada kami

Lalu, orang yang sebelumnya diduga sebagai To Manurung benar-benar membimbing kerumunan orang tersebut menuju kampung Matajang. Pada saat itu, petir dan kilat muncul secara tiba-tiba, dan mereka melihat sosok To Manurung yang duduk di atas batu datar dengan mengenakan pakaian serba kuning. Dia duduk diapit tiga pelayannya, di mana satu memayunginya dengan payung berwarna kuning, satu lagi memegang wadah bekalan, dan yang lainnya memegang cerana. Kemudian, orang banyak tersebut mendekati To Manurung.

Berkatalah To Manurung:

Engkaukah itu, matowa?

Menjawablah Matowa:

Benar, ini aku Puang

Orang banyak baru juga paham kalau orang (pabbaju pute) yang awalnya mereka duga sebagai To Manurung itu ternyata hanyalah seorang matowa. Hingga berujarlah sang matowa itu yang awalnya diduga To Manurung:

Itulah tuanku yang sesungguhnya!

Kemudian, bergeraklah kerumunan orang banyak mendekati sang To Manurung yang mengenakan pakaian serba warna kuning. Kelompok orang itu berkata kepada sang To Manurung yang berpakaian serba kuning :

Puang, kami sengaja datang ke tempatmu ini, dengan penuh harap agar engkau mengasihi kami. Sudilah tinggal di tanahmu ini dan janganlah engkau menghilang. Menetaplah di sini dan engkaulah kami pertuan. Kehendakmu adalah kehendak kami, kami turuti segala titahmu. Jika anak dan istri kami engkau tolak, maka kami pun menolaknya. Jika Tuan tinggal di tanah ini, maka engkaulah menjadi pemimpin kami

Menjawablah To Manurung:

Aku yakin pikiran kalian tidak bercabang, apalagi berdusta"

Setelah itu, sosok yang disebut To Manurung yang serba kuning itu menerima permohonan para rakyat. Kemudian sang To Manurung itu berjalan diiringi menuju Bone. Inilah Manurung Sangianridie yang mula – mula memerintah sebagai raja (arung) di Bone yang bergelar Mangkau’ di Bone. Istana (langkana) kerajaannya pun didirikan untuk beliau tempati. Ketika istananya sudah rampung, maka dibawalah sang Manurung menempatinya.

Manurunge ri Matjang

Inilah Manurung yang tidak diketahui siapakah nama dirinya kecuali nama gelarannya saja yang disesuaikan dengan keadaan dirinya. Konon, apabila beliau sedang bepergian atau berkunjung ke suatu tempat. Lantas ia melihat sekerumunan orang, dengan cepat ia mengetahui jumlah kepala seluruhnya. Seperti itulah kemampuannya sehingga diberi gelaran Matasilompo’e.

Raja Baginda Manurung ri Matajang kemudian menikahi To Manurung ri Toro sebagai permaisurinya. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki enam orang anak bernama La Ummase, I Patanrawanua, I Bolonglela, I Tenri Ronrong, We Arttiga, dan We Tenrisolongeng. Setelah resmi menjadi raja (mangkau), Baginda Manurung ri Matajang pertama-tama melakukan hal berikut:

  1. Menetapkan hak – hak kepemilikan orang banyak (mappolo leteng),
  2. Membentuk keputusan atau penggarisan yang harus ditaati (mappolo bicara yaitu sebuah undang – undang peradilan),
  3. Membentuk tatanan hidup yang harus dipatuhi oleh semua pihak yang disebut ade’ (dengan mematuhi ade’, dimaksudkan untuk menerapkan ketaatan pada hukum yang berlaku demi menjaga ketertiban sosial).

Selain menetapkan tiga kebijakan serta aturan – aturan yang telah disebutkan di atas. Baginda menetapkan pula selembar panji lambang “arung mangkau (raja Bone) untuk seluruh wilayah kekuasannya yang diberi nama Worongporonge (berdasar warna biru, dengan kerumunan bintang – bintang berwarna keputih – putihan) kemudian ditetapkan sebagai bendera Kerajaan Bone.

Dalam melaksanakan pemerintahannya Raja Bone MatasilompoE dibantu oleh ketujuh matowa anang (Ujung, Ta, Ponceng, Tanete Riattang, Tanete Riawang, Tibojong dan Macege) dan seiring perkembangannya ketujuh matoa anang tersebut berubah nama menjadi matowa pitu.

Untuk menciptakan kerjasama yang baik antara Sang Raja dan matowa pitu, dibuatlah dasar-dasar aturan yang saling mengikat satu sama lain. Selain itu, posisi para matowa ini ditetapkan dalam struktur kekuasaan sebagai berikut:

  1. Posisi ketuju matowa anang ditempatkan dalam satu majelis dan yang bertindak sebagai ketuanya adalah Arumpone.
  2. Persekutuan dari ketujuh matowa tersebut terbentuk konfederasi yang disebut kawerang.
  3. Kawerang ini kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan yang didalamnya terdapat ketujuh matowa tersebut dan bertindak sebagai dewan pemerintahan.
  4. Para matowa tetap memegang pemerintahannya di dalam wanuanya masing – masing, tetapi tetap mengikuti aturan dari pemimpin Kawerang
  5. Matowa wanua dapat menerima penggabungan negeri – negeri baru yang ingin bersedia bergabung dengan kawerang.

Selama empat periode lamanya atau kurang lebih 32 tahun (1326 – 1358) memegang tampuk pemeritahan. Beliau telah meletakkan dasar – dasar pemerintahan Kerajaan Bone dengan baik. Pada suatu hari dikumpulkanlah seluruh rakyatnya, lalu bertitahlah beliau kepada mereka:

Duduklah kalian, semoga tidak berkekurangan sesuatu apapun. Adalah anak kami La Ummase To – Lawa, kami serahi tanggung jawab untuk meneruskan ikrar kita orang Bone

Setelah selesai mengucapkan titahnya, tiba – tiba meledaklah petir dan kilat sambung menyambung. Pada saat itulah Baginda beserta permaisurinya raib dari tempat duduknya. Begitu pula peralatan yang pernah menyertainya disaat kemunculannya yang pertama (payung emasnya, kipas yang berkilauan dan puan tempat sirih) raib pula bersamanya hingga tak seorangpun yang tahu dimana letaknya


Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami

Comments