MASA KEJAYAAN KERAJAAN GOWA TALLO
![]() |
| Kerajaan Gowa Tallo |
Sikap
toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Alauddin pada masanya menimbulkan
keinginan pedagang – pedagang asing dan pedagang lainnya untuk menetap di
Bandar Makassar termasuk para pedagang dari Belanda (VOC). Akan tetapi, Belanda bercita – cita untuk memonopoli perdagangan di Sulawesi Selatan utamanya di
Bandar Makassar. Maka, Sultan Alauddin menyikapi usaha tersebut dengan
mengeluarkan deklarasi sebagai prinsip kebebasan yakni selama laut biru semua
orang sama kedudukannya dimata raja. Selama meraka mau berdagang, Makassar
terbuka untuk siapa saja. Jadi, siapa saja boleh berusaha tanpa perbedaan.
Belanda Sebagai Ancaman
Pada
tahun 1613 M, Sultan Gowa – Tallo membolehkan pendirian pabrik milik kongsi
dagang Inggris. Hal ini menimbulkan kebencian yang semakin dalam dari pihak
kongsi dagang Belanda (VOC). Sebenarnya Gowa sudah melihat Belanda sebagai
ancaman, untuk menghadapi musuh yang mengancam dari luar itu
maka kerajaan Gowa menyempurnakan benteng – benteng dan kubu – kubu pertahanannya.
Di dalam kerajaan Gowa banyak terdapat benteng – benteng dan kubu – kubu
pertahanan yang kokoh antara lain benteng Somba Opu, benteng Gowa, benteng
Ujung Pandang, benteng Tallo, benteng Ujung Tanah, benteng Panakukang, benteng
Galesong dan benteng – benteng lainnya.
Setelah
33 tahun masuk Islamnya dan 46 tahun lamanya menduduki tahta kerajaan Gowa,
Sultan Alauddin wafat pada tanggal 12 Safar 1049 H atau tanggal 15 Juni 1639 M.
Beliau kemudian diberi gelar atau nama Anumerta Tumenanga ri Gaukanga yang artinya
orang yang wafat dalam pemerintahannya. Sang Mangkubumi Karaeng Matoaya wafat
pada tanggal 1 Oktober 1636 M, kira – kira 2 tahun lebih dulu.
Sejak
abad ke – 16 kerajaan Gowa dengan pelabuhan utamanya yakni Somba Opu telah ikut
meramaikan jalur perdagangan di Nusantara. Perkembangan pesat ini antara lain
disebabkan karena jatuhnya Bandar Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M.
Sepeninggal Sultan Alauddin maka penerus tahta selanjutnya adalah Sultan
Muhammad Said (Sultan Malikussaid) yang menjad raja Gowa Tallo yang ke – 15 dengan Mangkubuminya
Karaeng Pattingaloang.
Dua Pemimpin Jenius dan Serasi Menuju Puncak Kejayaan
Sultan
Muhammad Said dan Mangkubumi Karaeng Pattingalloang merupakan pasangan yang
cocok dan serasi. Pada zaman pemerintahan beliau inilah kerajaan Gowa mencapai
puncak kejayaannya. Nama beliau berdua sangat termasyur sampai kemana – mana,
sampai ke beberapa negeri di Asia bahkan sampai ke Eropa. Hal ini terutama
disebabkan karena jasa – jasa Karaeng Pattingalloang yang sebagai Mangkubumi
kerajaan Gowa sekaligus Raja Tallo pandai menjalankan diplomasi dan hubungan persahabatan dengan raja
– raja dan para pembesar serta orang – orang terkemuka di luar negeri seperti
dengan raja Inggris, raja Castilia di Spanyol dengan Mufti besar Arabia, raja
Portugis dengan gubernur Spanyol di Manila, dan dengan raja muda Portugis di
Goa India.
Sikap
Sultan Muhammad Said kepada orang – orang Belanda (VOC), beliau selalu
berusaha mengadakan dan memelihara hubungan yang baik, perlu diketahui
sebelumnya bahwa pada tanggal 26 Juni 1637 M pernah diadakan perjanjian
perdamaian dan persahabatan antara Sultan Alauddin dan Gubernur Jenderal
Belanda Antonio van Diemen. Berdasarkan perjanjian itu pulalah Sultan Muhammad
Said berusaha memelihara hubungan baik dengan orang – orang Belanda (VOC).
Akan tetapi, VOC memang memiliki maksud – maksud tertentu dan serakah. Oleh
karena itu, maka perjanjian antara kerajaan Gowa Tallo dan VOC tidak dapat
bertahan lama. Tanpa menghiraukan perjanjian yang telah dibuatnya, VOC terus
dengan giat meluaskan pengaruh dan kekuasaannya di Indonesia bagian Timur,
mereka sangat ingin menguasai perdagangan rempah di kepulauan Maluku yang sudah
sejak dahulu kala terkenal dengan hasil rempah – rempahnya.
Beralih
ke kondisi dalam negeri kerajaan Gowa Tallo, bandar Somba Opu kian semarak
sebagai pusat perdagangan rempah – rempah melalui jalur maritim dari dan menuju
Maluku. Pada abad ke – 17 seluruh pulau Sulawesi serta sebagian Nusa Tenggara
dikuasai oleh kerajaan Gowa. Masa kejayaan berlangsung di bawah pemerintahan
Raja Gowa ke – 15 I Mannuntungi Daeng Mattola alias Sultan Muhammad Said yang
menggantikan Sultan Alauddin bersama Mangkubuminya Karaeng Pattingalloang.
Bapak / Sosok Cendekia Berdarah Bugis
Karaeng
Pattingalloang terkenal sebagai seorang cendikia, pandai, sangat cerdas serta
luas pengetahuannya. Beliau sangat mahir berbagai bahasa asing, perhatian
beliau terhadap ilmu pengetahuan dan terhadap kemajuan kerajaan Gowa Tallo sangat besar. Beliau memperlihatkan keinginan tak habis – habisnya mempelajari
dunia baru yang telah dimasuki Gowa. Itu dilakukan tidak hanya demi memuaskan
rasa ingin tahunya tetapi juga diduga untuk menemukan kunci yang dapat membuat
kerajaan Gowa setara dengan bangsa – bangsa Eropa. Untuk mencapai tujuan ini,
maka kerajaan Gowa Tallo tidak boleh lagi mentolerir perang yang kelihatannya
cukup parah di daerah Sulawesi Selatan, sebab jika terjadi konflik tentunya itu
akan membahayakan kemampuan Gowa untuk memanfaatkan sumber – sumber daya dalam
usahanya memperoleh status dan kekuatan seperti yang dipunyai kerajaan –
kerajaan Eropa. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan utama Gowa memutuskan untuk
berusaha dengan segenap tenaga agar dapat menggenggam peran sebagai penguasa
atasan atau overlord satu – satunya di daerah Sulawesi Selatan.
Hambatan dan Tantangan Dalam Mencapai Tujuan
Ujian
berat pertama terhadap usaha memperoleh peran baru Gowa ini, muncul
dari kerajaan Bone. Tahun 1640 M, Arumponne La Maddaremmeg yang menggantikan La
Tenri Pale pada tahun 1630 menekankan versi Islam yang lebih ketat di
kerajaannya, versi ini tidak pernah dikenal di Bone sebelumnya. Beliau kemudian
mengeluarkan pengumuman resmi yang melarang siapapun dalam kerajaannya
menyimpan dan menggunakan budak yang sejatinya tidak dilahirkan untuk
diperbudak. Seluruh budak yang orangtuanya bukan budak diperintahkan untuk
dibebaskan atau diberi gaji sebagai imbalan pekerjaan meraka. Keputusan itu
tentunya mendapatkan perlawanan besar dari kalangan bangsawan kerajaan Bone
yang dipimpin oleh ibu La Maddaremmeng sendiri yaitu Datu Pattiro We Tenri
Soloreng. Beliau secara terbuka menolak jenis Islam yang dianut putranya karena
terlalu kaku dan sulit dan merujuk bahwa jenis Islam yang disukainya adalah
yang dipegang oleh keluarga istana Gowa Tallo.
Kemudian
Datu Pattiro dan banyak bangsawan Bone lainnya akhirnya meninggalkan Bone untuk
mencari bantuan ke Gowa, gengsi Gowa sebagai kerajaan yang membawa Islam ke
kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan kecuali Luwu dan kedudukan tak tertandingi
sebagai kerajaan terkuat di Sulawesi Selatan membuatnya memang pantas dijadikan
pelindung. Awalnya para penguasa Gowa hanya mengikuti perkembangan ini secara
sepintas lalu, namun perhatian mereka berubah ketika La Maddarammeng berusaha
menyebarkan aliran Islamnya dengan memaksa Wajo, Soppeng, Masseppe Sawitto dan
Bacukiki. Ini bukan lagi urusan keagamaan semata, namun juga menyangkut hegemoni
politik yang akhirnya mengundang Gowa untuk bertindak.
Salah
satu kronik utamanya Wajo dengan terang mengungkapkan motivasi non – religius
serangan La Maddaremmeng ke Wajo, menurut sumber ini La Maddaremmeng terlebih
dahulu menuduh orang – orang Peneki di Wajo telah melakukan banyak kesalahan
terhadap Bone. Sebelum kemudian membakar dan menjarah Peneki dengan izin Arung
Matowa Wajo. Namum, Atung Matowa mengeluhkan bahwa dia hanya mengizinkan
penghukuman bukan penjarahan dan meminta seluruh barang yang dijarah dari
Peneki dikembalikan. Alasan pembenaran La Maddaremmeng adalah bahwa yang
diambil itu hanya barang dari mereka yang mengangkat senjata melawan dia dan
Arung Matowa menolak alasan ini dan perang pun pecah antara Wajo dan Bone.
Stigma religius mungkin motivasi utama La Maddaremmeng, namun tetangga – tetangga
kerajaan Bone menafsirkan pergerakan ini sebagai persaingan politik yang sudah
berlangsung lama. Karaeng Gowa Sultan Malikussaid (Muhammad Said) kemudian merespon segera
kejadian ini dengan mengirim utusan untuk mengirim sepucuk surat kepada La
Maddaremmeng, di dalam surat itu La Maddaremmeng diminta untuk menjelaskan
Apakah tindakannya itu berlandaskan perintah Nabi Muhammad atau berdasarkan
pada adat lama atau pada kemauannnya sendiri. Jika tindakannya didasarkan pada
dua alasan pertama maka Gowa senang, namun jika dia hanya menuruti kehendaknya
maka itu tidak dapat diterima (Nurdin 1955:116, Abdulrazaq 1969 b:3).
Ketika
La Maddaremmeng tidak dapat menjelaskan hal ini, maka Gowa pun bersiap untuk
berperang pada tanggal 8 Oktober 1643 M, kerajaan Gowa Tallo dibantu Wajo dan
Soppeng menyerang Bone di Pasempe dan memaksa La Maddaremmeng dan saudaranya La
Tenriaji Tosenrima mundur ke Larompong, Luwu. Menurut penelitian terbaru, alasan
Gowa menyerang Bone untuk menjaga Ibu dari anaknya yaitu Datu’ Pattiro melawan
putranya La Maddaremmeng dan memulihkan ketertiban umum yang telah dihancurkan
oleh La Maddaremmeng dalam tindakannya membebaskan budak, ditulis di sejarah
Bone tanpa tahun halaman 122.
Mengikuti
kekalahan Bone, Karaeng Pattingalloang kemudian meminta Harum PituE yakni Hadat
tujuh kerajaan Bone untuk memilih seorang penguasa untuk menggantikan La
Maddarammeng. Setelah lima hari menimbang – nimbang Harum PituE pun melaporkan,
kami telah mencari seorang diantara keturunan penguasa Bone yang kami anggap
mampu mempertahankan tanah Bone. Namun ternyata tidak ada karena itu kami akan
berterima kasih, jika kami dapat menjadikan Karaeng Gowa sebagai pemimpin Bone.
Karaeng Gowa dan Karaeng Pattingalloang menolak tawaran Harum PituE untuk menjadi Arumpone. Ketika menolak Karaeng Pattingalloang menjelaskan adat adalah ketika kami orang Gowa memilih seorang penguasa maka orang Bone tidak boleh ikut campur begitupun sebaliknya jika orang Bone memilih seorang pemimpin kami juga tidak boleh ikut campur. Karena itu seorang bangsawan Bone, Tobala diangkat menjadi pemimpin Bone pada bulan November 1643 M dan bertanggunjawab pada seorang petinggi Makassar yaitu Karaeng Summana (Abduramin tanpa tahun : 71)
Ada
ketidaksepakatan antara sumber Bugis dan Makassar terhadap kedudukan di mana
Tobala ditugaskan, menurut dua sumber utama Makassar dari periode ini, Tobala
ditunjuk untuk menjadi kali atau tokoh utama Islam di sebuah kerajaan, namun
seluruh sumber Bugis menyebutkan secara khusus bahwa Tobala ditunjuk menjadi
jenang atau seorang perwakilan. Menurut penelitian yang baru – baru ini
dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari sejarawan Sulawesi Selatan Karaeng
Sumana ditunjuk sebagai raja muda atau visroy Bone, sementara Tobala yang
merupakan Arung Tanete ri Awang atau seorang anggota Harum PituE ditunjuk
menjadi je'nang (sumber sejarah Bone tanpa tahun : 23). Namun, amat mungkin
penguasa Gowa menunjuk Tobala sebagai seorang kali sebab sudah menjadi Hadat
bahwa Gowa dan Bone tidak boleh saling ikut campur dalam pemilihan penguasa masing
– masing.
Ketika
Arumpone La Maddarammeng digiring ke Gowa dari pelariannya di Luwu, saudaranya
La Tenriaji Tosenrima secara diam – diam kembali ke Bone dan dengan cepat
menghimpun kembali kekuatan untuk melawan Gowa. Mendengar kabar ini, Karaeng
Gowa kembali mengumpulkan pasukan dan mengajak Datu’ Soppeng Arung Matowa Wajo
dan Datu’ Luwu untuk ikut serta menyerang Bone. Karaeng Cenrana ditunjuk
memimpin ekspidisi ini, mereka berangkat lewat laut kesalanketo dan kemudian
berjalan menuju Bone. Perang kedua ini terjadi di Pasempe pada tahun 1644 M.
Sekali lagi, Bone ditaklukan oleh kekuatan yang amat besar ini, pemimpin utama
Bone La Tenriaji Tosenrima, Arung Kung dan Daeng Pabila ditahan dan dibawa ke
Gowa. Karena Tobala tidak memihak saat perang, dia kemudian dapat terus memangku
jabatannya di Bone. Gowa mempertegas kekuasaan terhadap Bone dan menunrunkan
status Bone dari daerah bawahan menjadi budak Gowa.
Bone Menjadi Kerajaan Bawahan Gowa
Seluruh
keistimewaan yang telah dinikmati Bone lalu dicabut dan seluruh negeri ditempatkan
sebagai abdi Gowa untuk mencegah pemberontakan selanjutnya di Bone, seluruh
bangsawan kemudian diasingkan ke Gowa. Setelah kemenangan ini Karaeng Gowa,
Arung Matowa Wajo, dan Datu Luwu bertemu di Baruga buliah dan memperbarui
perjanjian Topaceddo yang dikenal dalam masyarakat Bugis sebagai Singkerru
PattolaE.
Tahanan orang Bone dibagi tiga. Namun Wajo menolak bagiannya dengan mengatakan bahwa
Bone dan Wajo adalah satu negeri, selain itu Wajo tidak mengambil kesempatan
untuk mengambil kembali dari Bone daerah – daerah yang dianggap miliknya
seperti Timurung, Amali, Mampu, Sailong, Bune dan Pamanah. Kesedihan dan
keprihatinan menyertai kekalahan Bone di Pasampe pada tahun 1644 M ini. Kisah
ini terabadikan dalam frase – frase yang digunakan para penulis kronik Bugis
dalam memaparkan kejadian tragis ini.
Saat
ini, akan menandai kekalahan di pasempe kehancuran telak bagi pemegang pedupaan
pembudakan total tanah Bone oleh Gowa. Untuk dua dekade berikutnya, Bone
diperintah oleh seorang reagen yang ditunjuk oleh Karaeng Gowa. Hal ini menurut
penulis kronik hendak menunjukkan kondisi menyedihkan rakyat Bone, di mana
banyak diantara mereka menjadi abdi orang Wajo tanpa konpensasi tanpa seorang
penguasa pemerintahan. Bone tidak lagi mampu menjamin penghidupan rakyatnya
atau melindungi mereka dari tindakan penindasan oleh negeri – negeri tetangga.
Gowa
telah mengambil keputusan berbahaya yaitu mengangkat kali atau reagen ketimbang
mempertahankan penguasa yang telah ditaklukan atau bangsawan lain dari kalangan
istana setempat sebagai bangsawan daerah bawahan sebagaimana biasanya.
Keputusan ini kelak menciptakan kepahitan bagi kerajaan Gowa yang muncul secara
dramatis sekitar 20 tahun kemudian. Pada masa inilah seorang Arung Palakka La
Tenritatta bangkit menjadi pemimpin orang Bugis Bone dan Soppeng.
Penutup
Demikianlah
dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Said dibantu Karaeng Pattingalloang,
kerajaan Gowa mencapai puncak kebesaran dan kejayaannya. Pada tahun 1651 M
kerajaan Gowa mengalami kekalahan yang pahit, armada kerajaan Gowa dikalahkan
dalam suatu pertempuran melawan armada Belanda (VOC) yang dipimpin oleh
Laksamana The Flaming di dekat pulau Buru di Kepulauan Maluku. Dua tahun
sesudah peristiwa malang itu terjadi yakni pada bulan November 1653 M, Sultan
Muhammad Said wafat dalam usia 47 tahun setelah kurang lebih 14 tahun
memerintah kerajaan Gowa.
Tentang
sifat kepribadian Sultan Muhammad Said dikatakan bahwa beliau sebagai seorang
yang sangat gagah berani serta pandai bergaul dengan raja – raja negeri lain.
Beliau juga seorang raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Beliau pandai
menulis huruf Arab, tulisan huruf Makassarnya sangat bagus dan indah sehingga
setelah wafat beliau diberi gelar atau nama Anumerta Tumenanga ri Papambatuna
artinya orang yang wafat di batu tulisnya.
.jpg)
Comments
Post a Comment