KERAJAAN GOWA – TALLO #PART 6

MASA KEJAYAAN KERAJAAN GOWA TALLO

Kerajaan Gowa Tallo

Sikap toleransi yang diperlihatkan oleh Sultan Alauddin pada masanya menimbulkan keinginan pedagang – pedagang asing dan pedagang lainnya untuk menetap di Bandar Makassar termasuk para pedagang dari Belanda (VOC). Akan tetapi, Belanda bercita – cita untuk memonopoli perdagangan di Sulawesi Selatan utamanya di Bandar Makassar. Maka, Sultan Alauddin menyikapi usaha tersebut dengan mengeluarkan deklarasi sebagai prinsip kebebasan yakni selama laut biru semua orang sama kedudukannya dimata raja. Selama meraka mau berdagang, Makassar terbuka untuk siapa saja. Jadi, siapa saja boleh berusaha tanpa perbedaan. 

Belanda Sebagai Ancaman

Pada tahun 1613 M, Sultan Gowa – Tallo membolehkan pendirian pabrik milik kongsi dagang Inggris. Hal ini menimbulkan kebencian yang semakin dalam dari pihak kongsi dagang Belanda (VOC). Sebenarnya Gowa sudah melihat Belanda sebagai ancaman, untuk menghadapi musuh yang mengancam dari luar itu maka kerajaan Gowa menyempurnakan benteng – benteng dan kubu – kubu pertahanannya. Di dalam kerajaan Gowa banyak terdapat benteng – benteng dan kubu – kubu pertahanan yang kokoh antara lain benteng Somba Opu, benteng Gowa, benteng Ujung Pandang, benteng Tallo, benteng Ujung Tanah, benteng Panakukang, benteng Galesong dan benteng – benteng lainnya.

Setelah 33 tahun masuk Islamnya dan 46 tahun lamanya menduduki tahta kerajaan Gowa, Sultan Alauddin wafat pada tanggal 12 Safar 1049 H atau tanggal 15 Juni 1639 M. Beliau kemudian diberi gelar atau nama Anumerta Tumenanga ri Gaukanga yang artinya orang yang wafat dalam pemerintahannya. Sang Mangkubumi Karaeng Matoaya wafat pada tanggal 1 Oktober 1636 M, kira – kira 2 tahun lebih dulu.

Sejak abad ke – 16 kerajaan Gowa dengan pelabuhan utamanya yakni Somba Opu telah ikut meramaikan jalur perdagangan di Nusantara. Perkembangan pesat ini antara lain disebabkan karena jatuhnya Bandar Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511 M. Sepeninggal Sultan Alauddin maka penerus tahta selanjutnya adalah Sultan Muhammad Said (Sultan Malikussaid) yang menjad raja Gowa Tallo yang ke – 15 dengan Mangkubuminya Karaeng Pattingaloang.

Dua Pemimpin Jenius dan Serasi Menuju Puncak Kejayaan

Sultan Muhammad Said dan Mangkubumi Karaeng Pattingalloang merupakan pasangan yang cocok dan serasi. Pada zaman pemerintahan beliau inilah kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya. Nama beliau berdua sangat termasyur sampai kemana – mana, sampai ke beberapa negeri di Asia bahkan sampai ke Eropa. Hal ini terutama disebabkan karena jasa – jasa Karaeng Pattingalloang yang sebagai Mangkubumi kerajaan Gowa sekaligus Raja Tallo pandai menjalankan diplomasi dan hubungan persahabatan dengan raja – raja dan para pembesar serta orang – orang terkemuka di luar negeri seperti dengan raja Inggris, raja Castilia di Spanyol dengan Mufti besar Arabia, raja Portugis dengan gubernur Spanyol di Manila, dan dengan raja muda Portugis di Goa India.

Sikap Sultan Muhammad Said kepada orang – orang Belanda (VOC), beliau selalu berusaha mengadakan dan memelihara hubungan yang baik, perlu diketahui sebelumnya bahwa pada tanggal 26 Juni 1637 M pernah diadakan perjanjian perdamaian dan persahabatan antara Sultan Alauddin dan Gubernur Jenderal Belanda Antonio van Diemen. Berdasarkan perjanjian itu pulalah Sultan Muhammad Said berusaha memelihara hubungan baik dengan orang – orang Belanda (VOC). Akan tetapi, VOC memang memiliki maksud – maksud tertentu dan serakah. Oleh karena itu, maka perjanjian antara kerajaan Gowa Tallo dan VOC tidak dapat bertahan lama. Tanpa menghiraukan perjanjian yang telah dibuatnya, VOC terus dengan giat meluaskan pengaruh dan kekuasaannya di Indonesia bagian Timur, mereka sangat ingin menguasai perdagangan rempah di kepulauan Maluku yang sudah sejak dahulu kala terkenal dengan hasil rempah – rempahnya.

Beralih ke kondisi dalam negeri kerajaan Gowa Tallo, bandar Somba Opu kian semarak sebagai pusat perdagangan rempah – rempah melalui jalur maritim dari dan menuju Maluku. Pada abad ke – 17 seluruh pulau Sulawesi serta sebagian Nusa Tenggara dikuasai oleh kerajaan Gowa. Masa kejayaan berlangsung di bawah pemerintahan Raja Gowa ke – 15 I Mannuntungi Daeng Mattola alias Sultan Muhammad Said yang menggantikan Sultan Alauddin bersama Mangkubuminya Karaeng Pattingalloang.

Bapak / Sosok Cendekia Berdarah Bugis

Karaeng Pattingalloang terkenal sebagai seorang cendikia, pandai, sangat cerdas serta luas pengetahuannya. Beliau sangat mahir berbagai bahasa asing, perhatian beliau terhadap ilmu pengetahuan dan terhadap kemajuan kerajaan Gowa Tallo sangat besar. Beliau memperlihatkan keinginan tak habis – habisnya mempelajari dunia baru yang telah dimasuki Gowa. Itu dilakukan tidak hanya demi memuaskan rasa ingin tahunya tetapi juga diduga untuk menemukan kunci yang dapat membuat kerajaan Gowa setara dengan bangsa – bangsa Eropa. Untuk mencapai tujuan ini, maka kerajaan Gowa Tallo tidak boleh lagi mentolerir perang yang kelihatannya cukup parah di daerah Sulawesi Selatan, sebab jika terjadi konflik tentunya itu akan membahayakan kemampuan Gowa untuk memanfaatkan sumber – sumber daya dalam usahanya memperoleh status dan kekuatan seperti yang dipunyai kerajaan – kerajaan Eropa. Bisa jadi ini adalah salah satu alasan utama Gowa memutuskan untuk berusaha dengan segenap tenaga agar dapat menggenggam peran sebagai penguasa atasan atau overlord satu – satunya di daerah Sulawesi Selatan.

Hambatan dan Tantangan Dalam Mencapai Tujuan

Ujian berat pertama terhadap usaha memperoleh peran baru Gowa ini, muncul dari kerajaan Bone. Tahun 1640 M, Arumponne La Maddaremmeg yang menggantikan La Tenri Pale pada tahun 1630 menekankan versi Islam yang lebih ketat di kerajaannya, versi ini tidak pernah dikenal di Bone sebelumnya. Beliau kemudian mengeluarkan pengumuman resmi yang melarang siapapun dalam kerajaannya menyimpan dan menggunakan budak yang sejatinya tidak dilahirkan untuk diperbudak. Seluruh budak yang orangtuanya bukan budak diperintahkan untuk dibebaskan atau diberi gaji sebagai imbalan pekerjaan meraka. Keputusan itu tentunya mendapatkan perlawanan besar dari kalangan bangsawan kerajaan Bone yang dipimpin oleh ibu La Maddaremmeng sendiri yaitu Datu Pattiro We Tenri Soloreng. Beliau secara terbuka menolak jenis Islam yang dianut putranya karena terlalu kaku dan sulit dan merujuk bahwa jenis Islam yang disukainya adalah yang dipegang oleh keluarga istana Gowa Tallo.

Kemudian Datu Pattiro dan banyak bangsawan Bone lainnya akhirnya meninggalkan Bone untuk mencari bantuan ke Gowa, gengsi Gowa sebagai kerajaan yang membawa Islam ke kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan kecuali Luwu dan kedudukan tak tertandingi sebagai kerajaan terkuat di Sulawesi Selatan membuatnya memang pantas dijadikan pelindung. Awalnya para penguasa Gowa hanya mengikuti perkembangan ini secara sepintas lalu, namun perhatian mereka berubah ketika La Maddarammeng berusaha menyebarkan aliran Islamnya dengan memaksa Wajo, Soppeng, Masseppe Sawitto dan Bacukiki. Ini bukan lagi urusan keagamaan semata, namun juga menyangkut hegemoni politik yang akhirnya mengundang Gowa untuk bertindak.

Salah satu kronik utamanya Wajo dengan terang mengungkapkan motivasi non – religius serangan La Maddaremmeng ke Wajo, menurut sumber ini La Maddaremmeng terlebih dahulu menuduh orang – orang Peneki di Wajo telah melakukan banyak kesalahan terhadap Bone. Sebelum kemudian membakar dan menjarah Peneki dengan izin Arung Matowa Wajo. Namum, Atung Matowa mengeluhkan bahwa dia hanya mengizinkan penghukuman bukan penjarahan dan meminta seluruh barang yang dijarah dari Peneki dikembalikan. Alasan pembenaran La Maddaremmeng adalah bahwa yang diambil itu hanya barang dari mereka yang mengangkat senjata melawan dia dan Arung Matowa menolak alasan ini dan perang pun pecah antara Wajo dan Bone.

Stigma religius mungkin motivasi utama La Maddaremmeng, namun tetangga – tetangga kerajaan Bone menafsirkan pergerakan ini sebagai persaingan politik yang sudah berlangsung lama. Karaeng Gowa Sultan Malikussaid (Muhammad Said) kemudian merespon segera kejadian ini dengan mengirim utusan untuk mengirim sepucuk surat kepada La Maddaremmeng, di dalam surat itu La Maddaremmeng diminta untuk menjelaskan Apakah tindakannya itu berlandaskan perintah Nabi Muhammad atau berdasarkan pada adat lama atau pada kemauannnya sendiri. Jika tindakannya didasarkan pada dua alasan pertama maka Gowa senang, namun jika dia hanya menuruti kehendaknya maka itu tidak dapat diterima (Nurdin 1955:116, Abdulrazaq 1969 b:3).

Ketika La Maddaremmeng tidak dapat menjelaskan hal ini, maka Gowa pun bersiap untuk berperang pada tanggal 8 Oktober 1643 M, kerajaan Gowa Tallo dibantu Wajo dan Soppeng menyerang Bone di Pasempe dan memaksa La Maddaremmeng dan saudaranya La Tenriaji Tosenrima mundur ke Larompong, Luwu. Menurut penelitian terbaru, alasan Gowa menyerang Bone untuk menjaga Ibu dari anaknya yaitu Datu’ Pattiro melawan putranya La Maddaremmeng dan memulihkan ketertiban umum yang telah dihancurkan oleh La Maddaremmeng dalam tindakannya membebaskan budak, ditulis di sejarah Bone tanpa tahun halaman 122.

Mengikuti kekalahan Bone, Karaeng Pattingalloang kemudian meminta Harum PituE yakni Hadat tujuh kerajaan Bone untuk memilih seorang penguasa untuk menggantikan La Maddarammeng. Setelah lima hari menimbang – nimbang Harum PituE pun melaporkan, kami telah mencari seorang diantara keturunan penguasa Bone yang kami anggap mampu mempertahankan tanah Bone. Namun ternyata tidak ada karena itu kami akan berterima kasih, jika kami dapat menjadikan Karaeng Gowa sebagai pemimpin Bone.

Karaeng Gowa dan Karaeng Pattingalloang menolak tawaran Harum PituE untuk menjadi Arumpone. Ketika menolak Karaeng Pattingalloang menjelaskan adat adalah ketika kami orang Gowa memilih seorang penguasa maka orang Bone tidak boleh ikut campur begitupun sebaliknya jika orang Bone memilih seorang pemimpin kami juga tidak boleh ikut campur. Karena itu seorang bangsawan Bone, Tobala diangkat menjadi pemimpin Bone pada bulan November 1643 M dan bertanggunjawab pada seorang petinggi Makassar yaitu Karaeng Summana (Abduramin tanpa tahun : 71)

Ada ketidaksepakatan antara sumber Bugis dan Makassar terhadap kedudukan di mana Tobala ditugaskan, menurut dua sumber utama Makassar dari periode ini, Tobala ditunjuk untuk menjadi kali atau tokoh utama Islam di sebuah kerajaan, namun seluruh sumber Bugis menyebutkan secara khusus bahwa Tobala ditunjuk menjadi jenang atau seorang perwakilan. Menurut penelitian yang baru – baru ini dilakukan oleh sebuah tim yang terdiri dari sejarawan Sulawesi Selatan Karaeng Sumana ditunjuk sebagai raja muda atau visroy Bone, sementara Tobala yang merupakan Arung Tanete ri Awang atau seorang anggota Harum PituE ditunjuk menjadi je'nang (sumber sejarah Bone tanpa tahun : 23). Namun, amat mungkin penguasa Gowa menunjuk Tobala sebagai seorang kali sebab sudah menjadi Hadat bahwa Gowa dan Bone tidak boleh saling ikut campur dalam pemilihan penguasa masing – masing.

Ketika Arumpone La Maddarammeng digiring ke Gowa dari pelariannya di Luwu, saudaranya La Tenriaji Tosenrima secara diam – diam kembali ke Bone dan dengan cepat menghimpun kembali kekuatan untuk melawan Gowa. Mendengar kabar ini, Karaeng Gowa kembali mengumpulkan pasukan dan mengajak Datu’ Soppeng Arung Matowa Wajo dan Datu’ Luwu untuk ikut serta menyerang Bone. Karaeng Cenrana ditunjuk memimpin ekspidisi ini, mereka berangkat lewat laut kesalanketo dan kemudian berjalan menuju Bone. Perang kedua ini terjadi di Pasempe pada tahun 1644 M. Sekali lagi, Bone ditaklukan oleh kekuatan yang amat besar ini, pemimpin utama Bone La Tenriaji Tosenrima, Arung Kung dan Daeng Pabila ditahan dan dibawa ke Gowa. Karena Tobala tidak memihak saat perang, dia kemudian dapat terus memangku jabatannya di Bone. Gowa mempertegas kekuasaan terhadap Bone dan menunrunkan status Bone dari daerah bawahan menjadi budak Gowa.

Bone Menjadi Kerajaan Bawahan Gowa

Seluruh keistimewaan yang telah dinikmati Bone lalu dicabut dan seluruh negeri ditempatkan sebagai abdi Gowa untuk mencegah pemberontakan selanjutnya di Bone, seluruh bangsawan kemudian diasingkan ke Gowa. Setelah kemenangan ini Karaeng Gowa, Arung Matowa Wajo, dan Datu Luwu bertemu di Baruga buliah dan memperbarui perjanjian Topaceddo yang dikenal dalam masyarakat Bugis sebagai Singkerru PattolaE.

Tahanan orang Bone dibagi tiga. Namun Wajo menolak bagiannya dengan mengatakan bahwa Bone dan Wajo adalah satu negeri, selain itu Wajo tidak mengambil kesempatan untuk mengambil kembali dari Bone daerah – daerah yang dianggap miliknya seperti Timurung, Amali, Mampu, Sailong, Bune dan Pamanah. Kesedihan dan keprihatinan menyertai kekalahan Bone di Pasampe pada tahun 1644 M ini. Kisah ini terabadikan dalam frase – frase yang digunakan para penulis kronik Bugis dalam memaparkan kejadian tragis ini.

Saat ini, akan menandai kekalahan di pasempe kehancuran telak bagi pemegang pedupaan pembudakan total tanah Bone oleh Gowa. Untuk dua dekade berikutnya, Bone diperintah oleh seorang reagen yang ditunjuk oleh Karaeng Gowa. Hal ini menurut penulis kronik hendak menunjukkan kondisi menyedihkan rakyat Bone, di mana banyak diantara mereka menjadi abdi orang Wajo tanpa konpensasi tanpa seorang penguasa pemerintahan. Bone tidak lagi mampu menjamin penghidupan rakyatnya atau melindungi mereka dari tindakan penindasan oleh negeri – negeri tetangga.

Gowa telah mengambil keputusan berbahaya yaitu mengangkat kali atau reagen ketimbang mempertahankan penguasa yang telah ditaklukan atau bangsawan lain dari kalangan istana setempat sebagai bangsawan daerah bawahan sebagaimana biasanya. Keputusan ini kelak menciptakan kepahitan bagi kerajaan Gowa yang muncul secara dramatis sekitar 20 tahun kemudian. Pada masa inilah seorang Arung Palakka La Tenritatta bangkit menjadi pemimpin orang Bugis Bone dan Soppeng.

Penutup

Demikianlah dibawah pemerintahan Sultan Muhammad Said dibantu Karaeng Pattingalloang, kerajaan Gowa mencapai puncak kebesaran dan kejayaannya. Pada tahun 1651 M kerajaan Gowa mengalami kekalahan yang pahit, armada kerajaan Gowa dikalahkan dalam suatu pertempuran melawan armada Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Laksamana The Flaming di dekat pulau Buru di Kepulauan Maluku. Dua tahun sesudah peristiwa malang itu terjadi yakni pada bulan November 1653 M, Sultan Muhammad Said wafat dalam usia 47 tahun setelah kurang lebih 14 tahun memerintah kerajaan Gowa.

Tentang sifat kepribadian Sultan Muhammad Said dikatakan bahwa beliau sebagai seorang yang sangat gagah berani serta pandai bergaul dengan raja – raja negeri lain. Beliau juga seorang raja yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Beliau pandai menulis huruf Arab, tulisan huruf Makassarnya sangat bagus dan indah sehingga setelah wafat beliau diberi gelar atau nama Anumerta Tumenanga ri Papambatuna artinya orang yang wafat di batu tulisnya.


Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami

Comments