MASA PEMERINTAHAN SULTAN HASANUDDIN
I Mallombasi Daeng Mattawang karaeng
bontomangape Sultan Hasanuddin tumenanga riballa pangkana,
demikian nama lengkap Raja Gowa ke–16 yang memerintah antara 1653 – 1669.
Beliau lahir dari salah seorang istri Sultan Malikussaid, I Sabbe Lo’mo Tukontu,
putri raja bawahan di Laikang, pada 1 Juni 1631.
Sosok Sultan Hasanuddin
Ketika naik tahta sebagai Raja Gowa, Sultan
Hasanuddin baru berusia sekitar 22 tahun. Banyak orang dan sejarawan menyatakan
bahwa Sultan Hasanuddin bukanlah "Anak Pattola", yang berarti bukan
Putra Mahkota yang paling memenuhi syarat untuk menjadi Raja Gowa. Memang,
Sultan Hasanuddin dilahirkan sebelum ayahnya menjadi Raja Gowa dan ibunya bukan
dari golongan "Anak Karaeng Ti'no". Jika tidak ada pengangkatan raja
Gowa yang dilakukan Sultan Malikussaid kepada putranya, maka Sultan Hasanuddin
tidak akan menjadi Raja Gowa karena dianggap bukan Putra Mahkota.
Banyak pejabat dan kaum aristokrat (bangsawan) kerajaan, pada
awalnya kurang menyenangi dengan pengangkatan itu. Namun, Mangkubumi kerajaan
Gowa, Karaeng Pattingalloang, yang merupakan tokoh utama yang tidak ada
saingannya dalam kerajaan, jika dilihat dari segala sudut mendukung Sultan
Hasanuddin untuk naik takhta kerajaan. Maka suara-suara penentangan
perlahan-lahan mereda. Selain itu, di antara para bangsawan terkemuka yang bisa
menjadi pewaris takhta kerajaan, tidak ada yang merasa bisa melampaui keahlian,
bakat, dan kemampuan I Mallombasi Daeng Mattawang untuk memimpin pemerintahan
kerajaan yang pada saat itu sedang menghadapi situasi yang sangat genting
menghadapi ancaman dari VOC Belanda.
Seperti yang diketahui, Sultan Hasanuddin adalah
seorang kesatria gemblengan (terlatih) dari kerajaan Gowa. Beliau pernah
menjabat sebagai Karaeng Tuma Kajannanngang. Oleh karena itu, Sultan Hasanuddin
adalah mantan pemimpin pasukan khusus kerajaan Gowa. Setelah Belanda mengetahui
tentang mangkatnya Sultan Malikussaid dan pengangkatan Sultan Hasanuddin
sebagai raja Gowa, mereka berharap bahwa ketegangan antara Gowa dan Belanda
dapat mereda karena Sultan Hasanuddin dikenal memiliki pandangan yang lebih
maju daripada para raja-raja sebelumnya.
Pengalaman yang telah dialaminya ketika bersosialisasi (bergaul) dengan orang asing dan rakyatnta sendiri menunjukkan bahwa harapan Belanda untuk memulai kembali perdamaian dapat diperhitungkan. Namun, harapan tersebut rupanya hanya sekadar harapan belaka. Sultan Hasanuddin menghadapi situasi yang sangat sudah demikian parahnya ketika menerima jabatan dari ayahandanya, sehingga sulit untuk mengubah kebijakan yang telah berjalan, dan Mangkubumi Karaeng Pattingalloang tetap menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam menentukan arah kebijakan tersebut. Tak mungkin dapat mereda udara tegang, apabila Belanda sendiri terus meningkatkan ketegangan dengan melakukan berbagai tindakan penaklukan terhadap kerajaan-kerajaan yang bersahabat dengan Kerajaan Gowa.
Peperangan Sengit yang Tak Dapat Dihindari
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, hubungan antara kerajaan Gowa dan Belanda (VOC) semakin tegang dan memuncak antara tahun 1645 dan 1655. Konflik dimulai dengan pertempuran sengit antara orang Makassar dan Belanda di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Meski Belanda belum berani mendaratkan pasukannya di daratan Sulawesi Selatan dan wilayah inti kerajaan Gowa, mereka terpaksa membatasi diri dengan memblokade perairan di sekitar Somba Opu dan menempatkan kapal-kapalnya di sana.
![]() |
| de Vlamingh van Outshoorn |
Pertempuran yang seru
terjadi di Buton, di kepulauan Maluku, terutama di sekitar pulau Ambon, di
pulau Buru dan Seram Kecil. Pertahanan orang–orang Makassar yang berpusat di
Assahudi selalu mendapat bala bantuan baik dari Gowa maupun dari pasukan –
pasukan rakyat Maluku yang menentang Belanda di bawah pimpinan Majira. Orang–orang Belanda (VOC) di bawah pimpinan de Vlamingh van Outshoorn berusaha
membujuk mereka agar menghentikan perlawanan mereka. Akan tetapi bujukan de
Vlamingh itu sia sia belaka.
Pejuang–pejuang di Maluku itu tetap bertahan dan terus melawan Belanda (VOC) yang bertindak sewenang–wenang. Bahkan pada 27 Maret 1654, pejuang–pejuang rakyat Maluku di bawah pimpinan Majira menyerang benteng Belanda di Luhu (Seram Kecil). Di sini terjadi pertempuran yang seru. Pada bulan Juli 1654, atas permintaan de Vlamingh, Sultan Mandarsyah dari Ternate mengirimkan bala bantuan kepada Belanda (VOC) di Ambon. Sultan Mandarsyah membawa serta pula adiknya yang bernama Kala matta. Kemudian Belanda mengatur siasat perangnya. Komandan Roos de Vlamingh diperintahkan memblokade Somba Opu dan perairan di sekitarnya. Sedang Simon Cos disuruh mengurung Teluk Assahudi yang dipertahankan dengan gigih oleh rakyat Maluku dibantu oleh orang–orang Makassar.
Di beberapa tempat lain terjadi pertempuran, sehingga Laksamana de Vlamingh sangat sibuk menghadapi
orang – orang Makassar dan rakyat Maluku yang menentang VOC. Pada 20
September 1654, Belanda di bawah pimpinan de Vlamingh berhasil merebut Laala
yang dipertahankan dengan gagah berani oleh orang–orang Makassar.
Demikianlah di beberapa tempat selalu terjadi pertempuran yang seru antara
orang–orang Makassar dan orang–orang Belanda (VOC).
Pada 1 September
1654, de Vlamingh tiba di Batavia untuk mengambil bala bantuan. Pada 21
November 1654, ia berangkat lagi ke Maluku dengan bala bantuan yang
diperolehnya itu. Sungguhpun diblokade dengan ketat, namun banyak perahu–perahu Makassar dapat lolos dan membawa bala bantuan ke Assahudi yang menjadi
pusat pertahanan orang–orang Makassar di Maluku. Setelah mengumpulkan kapal–kapalnya di Ambon, maka dalam bulan Februari 1655 de Vlamingh mengurung rapat
Assahudi yang menjadi pusat pertahanan orang–orang yang melawan kekuasaan
Belanda (VOC).
Assahudi dipertahankan
oleh orang–orang Makassar dan rakyat Maluku yang menentang VOC. Di Ternate
sendiri terjadi pergolakan dan banyak tidak senang terhadap Sultan Mandarsyah
karena beliau terlalu pro terhadap VOC, mereka ingin mengganti Sultan. Dalam
bulan April 1655 Kala matta, saudara Sultan Mandarsyah berpihak pada orang–orang Makassar. Dengan pengikut–pengikutnya Kalamatta bertahan di Kaeli
(pulau Buru). Kemudian datanglah de Vlamingh untuk mengurung dan menyerang
Kaeli. Namun Kala matta berhasil meloloskan diri dari kepungan orang–orang Belanda,
lalu beliau menuju dan tinggal menetap di Somba Opu, ibu kota serta bandar
kerajaan Gowa.
Pada bulan Juli 1653, de
Vlamingh memusatkan segenap kekuatannya dan menyerang Assahudi, setelah
mengalami pertempuran sengit, akhirnya benteng Assahudi jatuh ke tangan orang–orang Belanda. Betapa kuatnya pertahanan Assahudi dapat kita lihat dari jumlah
banyaknya alat–alat perang yang jatuh ke tangan Belanda, tidak kurang dari 24
buah Meriam dan 44 panji–panji yang jatuh ke tangan orang–orang Belanda. Namun
pertempuran–pertempuran sengit lainnya antara orang–orang Makassar dan
orang–orang Belanda masih terus berlangsung.
Pada saat bersamaan di bulan April 1655,
angkatan armada kerajaan Gowa di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin sendiri
melakukan penyerangan kepada orang–orang Belanda yang menduduki Buton.
Sebelum penyerangan itu, sebagian kapal–kapal perang Belanda telah
meninggalkan perairan Buton. Sebagian armada yang ada di perairan Buton itulah
yang mempertahankan diri dari serangan armada Gowa yang dahsyat. Karena tak
dapat mempertahankan diri lebih lama lagi, maka pimpinan armada Belanda yang
diserang itu meledakkan segala persediaan mesinnya yang ada. Ledakan–ledakan
itu menyebabkan tewasnya pasukan Belanda di Buton. Setelah semua musuh dapat
dikalahkan, maka pasukan Sultan Hasanuddin bersama armadanya kembali ke Gowa.
Mangkatnya Sosok Karaeng Pattingalloang
Dikisahkan, satu tahun sebelum serangan armada Gowa
ke Buton, dalam situasi yang sangat gawat dan genting, Mangkubumi Kerajaan
Gowa, yang amat masyhur, Karaeng Pattingalloang, mangkat pada tanggal 15
September 1654. Kepergian beliau merupakan kehilangan yang besar bagi kerajaan
Gowa. Pada saat-saat yang sangat sulit ini, kekuatan dan terutama pemikiran
beliau sangat dibutuhkan oleh rakyat dan kerajaan Gowa. Beliau adalah seorang
pemimpin yang terkenal cerdas, bijaksana, dan pandangannya luas. Kemudian, beliau
digantikan oleh putranya yang bernama Karaeng Karunrung.
Karaeng Karunrung
Karaeng Karunrung dikenal sebagai sosok yang selalu
penuh semangat untuk bertarung dan tidak pernah mengenal kata damai. Sifat
agresif yang dimilikinya memengaruhi kebijaksanaan Sultan Hasanuddin yang
senantiasa bersifat cermat dalam perhitungan dan teliti dalam langkah–langkah
yang hendak diambilnya,
terutama dalam menangani masalah politik dan stabilitas dalam negeri yang
sering kali menjadi pemicu pemberontakan di kalangan rakyat Bone yang merasa
dijajah oleh Gowa. Sultan selalu mempertimbangkan dengan seksama kemungkinan
terjadinya pemberontakan dan berusaha untuk menyelesaikan masalah tersebut
dengan bijaksana.
Sejak beberapa tahun lalu, beliau mengetahui dengan
baik, bagaimana aspirasi yang muncul di kalangan orang Bone yang menjadi
tawanan Kerajaan Gowa selama bertahun-tahun lamanya. Sebelum naik takhta,
beliau telah menjalin persahabatan dan hubungan yang erat dengan bangsawan Bone
yang keluarganya yang menjadi Kerajaan Gowa. Di antara mereka adalah La
Tenritatta Arung Palakka, yang menjadi sahabat dekat I Mallombasi Daeng
Mattawang Sultan Hasanuddin.
Dalam Lontara’ orang Makassar, yang dikenal dengan
nama Kappala' Tallumbatua menceritakan tentang pertempuran laut antara Gowa dan
Belanda di perairan Makassar. Digambarkan bahwa La Tenritatta adalah anak raja
Gowa sendiri, diasuh dan dibesarkan bersama I Mallombasi Daeng Mattawang. Oleh
karena itu, tidak mengherankan bahwa Sultan Hasanuddin sangat berhati-hati
dalam menghadapi dan memutuskan kebijakan terhadap orang Bone agar menghindari
terjadinya permusuhan yang dapat memicu perang yang merugikan kerajaan Gowa.
Hal ini dilakukan terutama dalam menghadapi ancaman Belanda yang selalu ada.
Adapun La Tenritatta to Erung yang kemudian terkenal dengan sebutan Arung Palakka adalah cucu atau putra sulung dari putri Raja Bone ke–11, La Tenri Rawe MatinroE ri Bantaeng, yang memerintah Kerajaan Bone (1605 – 1606), pada zaman Sultan Alauddin berkuasa di Gowa. Ayahanda La Tenritatta, ikut dalam peperangan melawan Sultan Alauddin ketika terjadi peperangan pengisalaman ke Tanah Bugis. Karena keutuhan dalam negeri sangat penting untuk mempertahankan diri dari serangan Belanda, Sultan Hasanuddin yang sangat akrab dengan segala golongan anak bangsawan baik dari Makassar maupun Bugis, dipilih sebagai pengganti atas amanat Sultan Malikussaid Tumenanga ri Papambatunna dengan mempertimbangkan latar belakangnya.
Oleh karena itu, dalam
menjalankan kekuasannya terhadap kerajaan–kerajaan Bugis yang berlindung
kepadanya, Sultan Hasanuddin memperlakukan dengan perlakuan yang sama seperti
apa yang diberikannya kepada rakyat Gowa. Namun perlakuan beliau yang demikian
itu, rupanya kurang disetujui oleh Mangkubumi Karaeng Karunrung yang ternyata
memperlakukan orang Bugis, terutama orang Bone tetap sebagai orang jajahan
(ata).
Benih permusuhan dalam
negeri hidup kembali, lambaut laun yang akan merupakan jurang yang sangat dalam
memisahkan kedua suku bangsa itu. Selain melakukan kebijaksanaan untuk
memelihara keutuhan kerajaan–kerajaan di Sulawesi Selatan, perhatian Sultan
Hasanuddin kepada kegiatan–kegiatan Belanda yang telah menyatakan perang
kepada Kerajaan Gowa Tallo, harus dipusatkan setajam–tajamnya.
Setelah selesai
mengatasi persoalan Majira di Seram, Belanda kemudian mengambil tindakan yang
lebih diplomatis untuk mendekati kerajaan Gowa. Mereka menghindari peperangan
karena biayanya yang terlalu besar. Selain itu, kekuatan VOC harus
diprioritaskan untuk menjaga keamanan Maluku sebagai pusat perdagangan
rempah-rempah dan juga untuk menghadapi kerajaan-kerajaan Nusantara lainnya
seperti Banten yang dapat mengancam kedudukan mereka di pangkalan dagang di
Tanah Jawa.
Selain itu,
perseteruan antara Belanda dan Portugis membutuhkan konsentrasi kekuatan untuk
mengakhiri pengaruh Portugis di Nusantara dan merebut posisi utama Portugis di
India dan Malaka. Oleh karena itu, Raad van Indie Dewan Hindia di Batavia
mengirim seorang duta/utusan ke Makassar untuk melakukan perundingan. Keputusan untuk
mengirim duta tersebut diambil oleh Belanda pada tanggal 23 Oktober 1955. Duta
Belanda yang dipilih adalah Willem van Der Beek, mantan Gubernur Belanda di
Ambon, yang didampingi oleh temannya yang berkebangsaan Armenia, yaitu Choja
Sulaiman.
Perundingan Perdamaian Semu
Kedua utusan Belanda tersebut diterima oleh Sultan Hasanuddin di Kasteel Somba Opu. Setelah melakukan perundingan, kedua belah pihak mencapai kesepakatan perjanjian perdamaian baru (Corpus Diplomaticum dell biz.8284). Isi kesepakatan tersebut antara lain, bahwa seluruh pasukan Makassar di Maluku harus ditarik kembali, akan dilakukan pertukaran tawanan. Selain itu, VOC berjanji bahwa jika Gowa terlibat dalam perang dengan salah satu bangsa, maka kompeni tidak akan ikut campur. Dan bahwa musuh VOC bukanlah musuh Kerajaan Gowa. Tentu saja yang dimaksud adalah Portugis yang sedang terlibat dalam perang sengit dengan Belanda di Eropa dan di kepulauan Nusantara.
Batavia merasa sangat tidak puas dengan kesepakatan perjanjian tersebut, namun apa hendak dikata, Duta van der Beek dalam keadaan yang lemah dan harus menyerah. Sementara itu, perdagangan rempah-rempah dengan Seram dan Hitu semakin meningkat. Hal ini tentunya sangat menjengkelkan bagi Maetsuycker (Stapel, 1939:332). Karena merasa dirugikan oleh situasi ini, Belanda mengirimkan Willem Haastingh ke Makassar dengan ultimatum yang mengancam: "Lebih baik berperang terbuka daripada membuat perdamaian yang dibuat-buat / semu". Menerima ultimatum itu, Sultan Hasanuddin menjawab melalui sebuah surat dengan nada yang sama kerasnya. Dikatakannya dalam surat Sultan Hasanuddin bahwa: “VOC harus membongkar benteng yang didirikannya di Manado, karena Sulawesi Utara termasuk daerah taklukan Kerajaan Gowa Tallo”.
Setelah nyata, Bagaimana
sikap Sultan Hasanuddin dalam menghadapi maksud – maksud Belanda, maka Belanda
memilih perang. Kemudian segeralah dipersiapkan sebuah armada yang terdiri atas
31 buah kapal perang dengan 2.600 orang tentara. Ekspedisi itu dipimpin oleh
Mr. Johan van Dam dibantu oleh Hoper Koopman dan Johan Truyteman. Namun tidak
banyak diketahui tentang pertempuran ini. Dalam catatan – catatan Belanda juga
kurang banyak diberitakan. Hanya ditakan bahwa van Dam mendaratkan pasukan
kemudian segera menyerang benteng Panakukang Lalu mendudukinya. sedang
terlibat dalam perang hebat dengan Belanda di Eropa dan di kepulauan Nusantara.
Batavia sangat tidak
puas dengan perjanjian itu, tapa apa hendak dikata, Duta van der Beek berada
dalam keadaan yang lemah dan harus mengalah. Sementara itu, perdagangan rempah
– rempah dengan Seram dan Hitu makin meningkat. Hal ini tentunya sangat menjengkelkan
bagi Maetsuycker (Stapel, 1939:332). Karena merasa dirugikan dengan keadaan
itu, maka Belanda mengutus lagi Willem Haastingh ke Makassar, dengan
membawa satu ultimatum yang bernada ancaman: “Lebih baik berada dalam perang
terbuka daripada damai yang dibuat – buat”.
Menerima ultimatum itu,
Sultan Hasanuddin menjawab melalui sebuah surat dengan nada yang sama kerasnya.
Dikatakannya dalam surat Sultan Hasanuddin bahwa: “VOC harus membongkar benteng
yang didirikannya di Manado, karena Sulawesi Utara termasuk daerah taklukan
Kerajaan Gowa Tallo”.
Setelah jelas, bagaimana
sikap Sultan Hasanuddin dalam menghadapi maksud-maksud Belanda, Belanda
memutuskan untuk berperang. Mereka kemudian menyiapkan sebuah armada yang
terdiri dari 31 kapal perang dan 2.600 tentara. Ekspedisi tersebut dipimpin
oleh Mr. Johan van Dam dengan bantuan Hoper Koopman dan Johan Truyteman. Meski
begitu, informasi tentang pertempuran ini sangat sedikit. Bahkan dalam
catatan-catatan Belanda, tidak banyak yang disebutkan. Hanya disebutkan bahwa van
Dam menurunkan pasukan dan langsung menyerang benteng Panakukang sebelum
akhirnya berhasil mendudukinya.
Terima Kasih Telah Berkunjung di Website Kami
.jpg)
.jpg)
Comments
Post a Comment