ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0: Puncak Era Pasca–Kebenaran
Sejak
revolusi industri 1.0 dengan menciptakan mesin uap sampai dengan revolusi industri
4.0 terciptanya IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence)
atau era kemajuan teknologi telah merubah begitu besar tatanan dunia dari
berbagai lini kehidupan, seperti pendidikan, militer, politik, sosial dan
budaya. Menurut saya bahwa masuknya Era Revolusi Industri 4.0 adalah kunci awal
yang harus dicatat sebagai bukti bahwa ini adalah kunci untuk membuka era Post-Truth
atau Pasca-Kebeneran.
Sebelum
melanjutkan, perlu kita meriset apa itu Post-Truht atau pasca kebeneran?
Awalnya Istilah frasa Post-Truth dipopulerkan
oleh Steve Tesich tahun 1992 dalam tulisannya berjudul The Government of
Lies. Pada tahun 2004, Ralp Kayes
dan Stephen Colber mempopulerkan Post-Truth dengan istilah Truthiness,
yang seolah-olah benar, meski tidak benar sama sekali. Lihat dalam tulisan Rapl
Kayes, The Post-Truth Era; Dishonesty and Deception in Contemporary Life,
New York, St. Martin’s Press, 2004.
Dari
ketiga tokoh di atas dapat disimpul secara sederhana bahwa era pasca-kebeneran
ini ialah era kebingungan antara kebeneran dan kepalsuan hal yang sulit untuk
dibedakan atau era dimana kebohongan dapat menyamar menjadi kebenaran. Dalam salah
satu buku karya M. Ryano Panjaitan berjudul Activist Preneur pada
halaman 130 membahas tentang Post-Truth Era dan menjelaskan secara
sederhana bahwa Post-Truth dapat dimaknai sebagai kebeneran yang
sebenarnya belum tentu benar, atau sesuatu yang seolah-olah benar padahal ia
belum sepenuhnya benar, atau pada level paling ekstremnya adalah kekeliruan,
kesalahan, ketidakbenaran yang direkayasa atau diupayakan sedemikian rupa
sehingga seolah sebagai suatu kebenaran.
Kita
ambil contoh dari segi politik, di tahun 2016 saat Donald Trump mengikuti
pemilihan presiden di Amerika, dimana para publik global terpolarisasi dan
dibingungkan oleh berita-berita maupun opini-opini yang beredar. Metode
propaganda Firehouse of Falsehood-nya (FoF) Donald Trump menciptakan
kondisi Post-Truth yang menggemparkan. Sampai-sampai, kamus Oxford
menobatkan Post-Truth menjadi word of the year.
Dalam
kontestasi politik salah satu strategi yang juga biasa digunakan adalah men-downgrade
lawan, dimana strategi tersebut dilakukan salah satunya dengam cara membangun
narasi atau isu yang menjatuhkan lawan politik. Terlepas itu benar adanya atau
sengaja diadakan. Tujuannya adalah untuk melepaskan simpati dan kepercayaan Masyarakat
terhadap lawan politik. Masyarakatpun tidak akan begitu mudah untuk tahu apakah
itu benar atau tidak.
Sebetulnya
pernyataan awal saya yang menyatakan bahwa Revolusi Industri 4.0 sebagai kunci
masuknya Post-Truth Era sudah dan atau dapat terbantahkan ketika meriset
lebih dalam lagi. Salah satu peristiwa yang disampaikan Sejarah, pada tahun 1936,
dalam sebuah surat kabar resmi Pravda memuat di halaman depannya foto
Joseph Stalin yang sedang tersenyum memeluk Gelya Markizova, seorang anak gadis
berusia tujuh tahun. Dari gambar itu menjadi ikon Stalinis, yang mengabadikan Stalin
sebagai Bapak Bangsa dan mengistimalkan gadis itu ‘Anak Kecil Soviet yang Bahagia’.
(Lanjutan kisahnya dalam buku Yuval Noah Harari berjudul 21 Lessons). Apa yang
terjadi? Singkatnya, begitulah propaganda soviet, sehingga ia berhasil menyembunyikan
kekejaman mengerikan ke dalam rumah sambil memproyeksikan visi utopis ke luar
negeri. Dari kisah itu mengartikan bahwa Post-Truth Era sudah lama
terjadi bahkan beberapa sumber mengatakan ‘Manusia selalu hidup di era Pasca-Kebenaran’.
Maka,
Era Revolusi Industri 4.0 adalah kunci memasuki one step menuju puncak
era Pasca-Kebenaran. Terciptanya teknologi terbarukan seperti Internet mengaktifkan
peran media sosial dalam menyebarkan berita yang berulang-ulang, berita yang
berbeda antara satu dengan yang lain yang pada akhirnya membingungkan semua pihak.
Joseph Goebbels, maestro propaganda Nazi, penyihir media paling sukses di era
modern menjelaskan metode yang digunakannya secara ringkas dengan menyatakan ‘Kebohongan
yang diceritakan sekali itu tetap kebohongan, tetapi kebohongan yang diceritakan
seribu kali akan menjadi kebenaran’.
Informasi
di puncak era pasca-kebenaran yang dibuka oleh era revolusi industri 4.0 saat
ini bergerak begitu cepat melalui media, ibarat ombak yang terus menerus
menyisir ke pesisir pantai, berdatangan begitu cepat sehingga dimanfaatkan oleh
kebohongan-kebohongan buatan yang menggiring publik untuk berasumsi bahwa
kebohongan tadi adalah kebenaran. Untuk itu, berita bohong atau hoax
dibungkus begitu rapi dengan membentuk suatu narasi yang bombastis yang menarik
perhatian pengguna media.
Belum selesai Era Revolusi Industri 4.0, dunia telah beralih ke Revolusi Industri 5.0 yang tentunya adalah pekerjaan besar kembali hadir ditengah-tengah penghuni bumi. Di media beberapa diantara kita terkadang belum sadar sepenuhnya bahwa kita adalah salah satu distributor berita yang belum benar bahkan tidak benar. Maka gambaran kini yang terjadi bahwa publik dibingungkan terhadap kondisi mana yang sejatinya benar dan mana yang sejatinya bohong. Kebutuhan kita sekarang untuk dijadikan bekal setiap menjalani kehidupan sehari-hari ialah Berpikir Kritis dengan meriset terlebih dahulu informasi yang ada.
Abdi Amiruddin

Comments
Post a Comment