PENDIDIKAN PEMBEBASAN NABI MUHAMMAD SAW

 PENDIDIKAN PEMBEBASAN NABI MUHAMMAD SAW


Mengapa pendidikan, untuk apa pendidikan itu? Pertanyaan yang saya hadirkan dalam tulisan ini hanyalah pemikiran saya dan dalam menjawab apa serta untuk apa pendidikan itu, terlebih dahulu dan sebelum itu kapan pendidikan hadir sebagai momentum perubahan atau transformasi dilingkungan masyarakat?

Disini saya ambil patokan di masa pra Islam atau sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, biasa kita sebut zaman jahiliah atau zaman kebodohan. Tidak menutup catatan sejarah, di Arab sana, zaman pra Islam, memang terkenal dengan kemajuan kesusastraannya. Namun dalam praktik kehidupan sehari-hari dengan sistem dan struktur sosialnya sangat tidak mencerminkan kebajikan (kebaikan). 

Terjadi perbedaan kelas di zaman itu, mereka memisahkan antara bangsawan dan masyarakat biasa (budak) dan bahkan perbedaan gender. Perempuan dipandang sebagai benalu dalam keluarga bahkan lingkungan masyarakat. Tidak ada perlakuan istimewa kepada perempuan selain merendahkan atau menindasnya. Bayi perempuan baru lahirpun dibuang, lebih parahnya dibakar & dikubur hidup-hidup. Para budak diperlakukan layaknya seekor binatang, mereka dicambuk, dipukul, dan penyiksaan lainnya.

Sistem dan struktur sosial di zaman itu merupakan kejadian "dehumanisasi" yang lebih dari kata buruk dan kejam. Maka setelah itu, Islam naik ke permukaan dan memperlihatkan eksistensinya serta mempertontonkan esensi "humanis". Nabi Muhammad SAW terlahir sebagai utusan Allah SWT, menerima wahyu dari Jibril. 

Dalam pandangan umum, Rasulullah SAW berdakwah dari hulu ke hilir dan memperkenalkan Islam dengan berbagai tantangan dan hambatan yang dilaluinya. Namun, dalam pandangan saya sebagai penulis, Rasulullah hadir membawa suatu pokok pemikiran tentang pendidikan. Ia mengajarkan arti penting pendidikan dalam lingkungan masyarakat dan membangkitkan 'kesadaran kritis' sebagai prasyarat dalam pembebasan.

Membebaskan manusia dari eksploitasi kelas, dominasi atau perbedaan gender maupun hegemoni dan dominasi budaya lainnya. Oleh karena itu, pendidikan merupakan suatu sarana untuk memproduksi kesadaran untuk mengembalikan kemanusiaan manusia. Dari situlah masyarakat Arab mengalami transformasi sosial. Dan sejak itu Nabi Muhammad SAW memerdekakan para budak serta menaikkan derajat perempuan dari tempat kehinaan atau keterbelakangan. Dengan demikian tujuan utama pendidikan yang dibawa Rasulullah SAW adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi.

Demikian pula, Paulo Freire mengungkapkan suatu gagasan dengan berangkat dari analisis dari sebuah sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya, membuat manusia mengalami proses dehumanisasi. Pun pendidikan sebagai bagian dari sistem justru menjadi pelanggeng proses dehumanisasi. 

P. Freire (1970) membagi ideologi pendidikan dalam tiga kerangka yang didasarkan pada kesadaran ideologi masyarakat: (1) Kesadaran magis, (2) Kesadaran naif, (3) Kesadaran kritis. Dengan tema pokok gagasannya mengacu pada suatu landasan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia kembali.

Dilema Pendidikan

Pendidikan itu memanusiakan manusia. Bahwa kurikulum yg seharusnya menjadi kebebasan peserta didik dan pendidik dalan menentukan pilihannya dlm menempuh pendidikan. Sebagaimana Sartre ketika mengajarkan muridnya dengan suasana kebebasan. Berbeda dengan saat ini kurikulum diatur penuh oleh otoritas tertinggi yakni pemerintah (menurut Paulo Freire).

Lanjut, Paulo Freire menanggapi bahwa pendidikan hanyalah transfer ilmu pengetahuan. Antara guru dan murid. Sebagaimana transfer uang di bank atau ATM. Makanya Paulo menyimpulkan bahwa pendidikan layaknya 'Sistem Perbankan'.

Neil Postman pun hadir mengemukan masalah pendidikan, seolah-olah pendidikan itu layaknya penjara bagi murid. Ketika pintu ditutup, ruangan yang seharusnya sebagai tempat memanusiakan manusia  berubah menjadi tempat yang seakan-akan penghakiman terhadap pelaku kejahatan.

Lebih dari itu, kondisi anak yg menempuh pendidikan kemudian hasilnya tak sesuai dengan keinginan keluarga/orang tua/masyarakat akhirnya menyalahkan guru. Bahwa guru dalam kondisi tersebut disalahkan sepenuhnya, bahkan pemerintah sekalipun. Seharusnya, mesti ada ruang khusus dimana murid dididik oleh guru di sekolah dan setelahnya sampai rumah - orang tua lanjut mengawasi dan mengajar sang anak.

Perbedaan metodologi pengajaran Indonesia dan  luar negeri?

Di Indonesia, orang tua akan sangat senang ketika anaknya di usia TK sudah mampu membaca. Sedangkan luar negri, mereka tidak memaksa anaknya untuk dapat membaca akan tetapi mengajarinya pembentukan karakter sampai kelas 4 SD.

Setelah di kelas 4 SD, mereka kemudian diajarkan dengan metodologi merampok misal, tentang Nikel bahwa di Indonesia memiliki 80% nikel sedangkan Amerika memiliki 20% dan bagaimana kita untuk mengambil 80% nikel di Indonesia kemudian dimasukkan ke negara Amerika sehingga angka persenan kita meningkat. Bedanya kita, di kelas kita baru diajari apa ibu kita Amerika, ibu kota Prancis, ibu kota Filipina dll.

Penulis: AA (Mari berdialektika)

Comments