Pulau Laiya: Langkah Kecil di Ujung Negeri, Dampak Besar untuk Masa Depan Bangsa.


Pada catatan manuskrip Bugis dan Makassar belum ditemukan makna resmi "Laiya." Namun, dalam percakapan dengan beberapa masyarakat lokal, "Laiya" sesuai letak geografis sebagai pulau kecil di gugusan Spermonde diartikan Pulau yang menjorok ke laut atau Daratan sempit yang dikelilingi air.

Pada mulanya, nama pulau ini tercatat dalam ejaan Belanda sebagai "Laija." Untuk mengenal lebih tentang pulau ini sebenarnya masih sangat terbatas. Pulau seperti Laiya umumnya dapat dikenal melalui catatan pemerintahan resmi sejak kolonial hingga saat ini serta peta topografi.

Sedikit akan kuceritakan pengalaman nyata kepada masyarakat Indonesia khususnya Sulawesi Selatan tentang sebuah Pulau yang memiliki gusung terpanjang di gugusan Spermonde (dikutip dari hasil percakapan salah satu tokoh masyarakat). Bersama Aksi Indonesia Muda Open Volunteer (AIMOV) Batch 8: Aksi Jejalah Pesisir.

Desa Mattiro Labangeng terbagi atas dua wilayah otonomi yaitu Pulau Polewali dan Pulau Laiya. Berada di Kecamatan Liukang Tuppabiring Utara, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Dalam catatan resmi, pulau laiya dihuni ±200 Kartu Keluarga atau ±866 penduduk etnis Bugis-Makassar.

Dalam kesehariannya untuk berinteraksi antara satu sama lain khususnya di Pulau Laiya, mayoritas berbahasa Bugis. Berbeda dengan Pulau Polewali mayoritas berbahasa Makassar. Pulau Laiya berjarak sekitar 1 jam menggunakan perahu motor dari dermaga Pangkep.

Pulau ini masih menyimpan keindahan alami untuk disaksikan. Mulai dari gusung pasir putih hingga jernihnya air laut membuat mata tak ingin mengalihkan pandangannya. Sampai disini akan kuceritakan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan dan lain lain mengenai Pulau Laiya.

Seperti wilayah pesisir atau pulau lainnya bisa dikatakan sumber penghasilan utama biasanya melalui profesi nelayan. Berbeda dengan Pulau Laiya, dikutip hasil percakapan tokoh masyarakat, terkait pulau ini pernah dikenal sebagai "Pulau Dolar." Melalui aktivitas perdagangan kayu dari Kalimantan seperti ulin, meranti dan kruing (Jejak kayu-kayu tersebut masih bisa disaksikan melalui beberapa bangunan rumah masyarakat setempat).

Kayu dari Kalimantan diangkut oleh pelaut lokal menuju Pulau Laiya sebagai titik transit sebelum hasil hutan tersebut dikirimkan ke dermaga Pangkep atau Makassar. Akan tetapi, aktivitas tersebut mulai terhenti sejak diberlakukannya pengetatan regulasi hutan & lingkungan, penurunan pasokan kayu dan transisi pesisir konservatif.

Hingga saat ini, masyarakat kembali beraktivitas sebagai nelayan dan terkadang juga memenuhi permintaan pembuatan perahu. Adapun komoditas sekunder masyarakat lokal ialah pohon sukun & kelor.

Atas desakan dan kesadaran akan pemenuhan akses pendidikan oleh masyarakat lokal. Pemerintah menyediakan infrastruktur, sarana & prasarana pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP & SMA. Sedikit percakapan bersama seorang kepala sekolah di Pulau Laiya "Bangunan sekolah di sini cuma PAUD, SD & SMP. SMA belum memiliki bangunan khusus. SMA disini disebut SMA luar sabutung atau masyarakat lokal menyebutnya kelas jauh atau satuan pendidikan yang berada di luar pulau sabutung, tapi masih tetap menjadi bagian dari SMA Negeri 12 Pangkep. Artinya siswa dan guru bisa belajar dan mengajar di Pulau Laiya tapi mereka bernaung di bawah manajemen SMA di Sabutung."

Dalam pemenuhan kesejahteraan sosial masyarakat, pada awalnya warga hanya mengandalkan genset 3-4 jam per malam untuk kebutuhan dasar seperti penerangan & komunikasi. Pemerintah mulai memberikan bantuan akses lebih baik ke masyarakat Pulau Laiya dengan masuknya SuperSUN - PLTS dipasang, memberikan listrik 24 jam.

Dengan demikian berbagai sektor mulai bekerja lebih intensif seperti pelayanan kesehatan melalui pustu, layanan pembelajaran mulai bisa dilakukan kapan dan dimana saja untuk anak-anak, penumbuhan ekonomi dengan adanya freezer; IRT mulai membuka warung, jualan es lilin & minuman dingin dan peningkatan pelayanan publik di kantor desa.

Hal menarik ketika sampai di Pulau ini, ternyata pernah dikunjungi pihak UNESCO & berbagai orang-orang mancanegara. Tahun 2023, tim asesor UNESCO Global Geopark mengunjugi Pulau Laiya sebagai bagian dari proses penilaian akhir untuk menetapkan kawasan Maros-Pangkep sebagai Geopark Global UNESCO.

Selain berinteraksi dengan tokoh masyarakat, kami juga tak melewatkan anak mudanya. Banyak diantaranya memilih jalan berlayar, menjadi pelaut tangguh yang membawa nama kampung di tiap pelabuhan yang disinggahi. Tak sedikit pula yang menempuh pendidikan tinggi, melampaui batas pulau demi ilmu. Beberapa dari mereka kini telah kembali, memantapkan diri sebagai PNS dan PPPK, menjadi bukti bahwa dari pulau kecil ini, mimpi-mimpi besar bisa tumbuh dan berakar.

Apresiasi sebesar-besarnya terhadap orang tua akan kepedulian terhadap pendidikan sebagai bekal masa depan generasi kedepannya. Orang tua merupakan juru kunci untuk membuka mata buah hati untuk menjelajahi dunia. Di mulai dari mimpi hingga menjadi sebuah aksi nyata saat mereka tumbuh menjadi anak muda dewasa. Kehangatan kekeluargaan dan kemasyarakatan begitu sangat terasa, tak menjadi soal saat pemilu terpecah karena berbeda pandangan pilihan. Tetapi, hidup rukun sebagai masyarakat Pulau Laiya masih tercerahkan setelahnya. Sosok kepemimpinan dari sang pemimpin hadir sebagai penyuci hati dan pikiran, membawa masyarakat ke samudra kepercayaan.

Masih banyak hal lagi perlu dikaji dan didengarkan tentang Pulau indah ini. Segala kekurangan dari tulisan ini jangan dibiarkan saja, kritik dan masukan adalah keistimewaan untuk menambah cakrawala pengetahuan. Begitu pula, sedikit kritik untuk pemerintah setempat agar kiranya lebih meningkatkan kesadaran masyarakat akan lingkungan.

Ada banyak potensi untuk menambah nilai ekonomi masyarakat seperti destinasi wisata. Suatu saat, bila kedatangan wisatawan sambut mereka sebagaimana pemerintah setempat & masyarakat lokal menyambut kami dari Aksi Indonesia Muda dengan hangat. Buat mata para wisatawan tak henti-hentinya beralih dan mulutnya tak berucap selain kata "Wowww, Masyaallah, Subhanallah, Puji Tuhan."

Untuk itu, peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan adalah kunci utama menuju keemasan Pulau Laiya. Kami berharap suatu saat kita bertemu dalam sebuah transisi lebih ramah & ceria serta kembali menyaksikan eksotisme pasir putih, birunya laut, gusung menjorok ke tengah samudra dan semangat masyarakat menjaga pulau laiya.

Dengan kolaborasi, edukasi dan kesadaran bersama, Pulau Laiya bisa menjadi contoh pulau kecil yang indah, bersih, berdaya dan lestari. Bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk dikenang.

Akhir kata, bersama kita menulis cerita tanpa suara, merangkai kenangan dari hembusan angin dan hangatnya cahaya. Di tiap sudutnya, ada ketenangan yang tumbuh pelan-pelan, mengingatkan kami untuk diam sejenak, lalu merasa. Terima kasih, Pulau Laiya. Telah menjadi tempat yang tak sekadar indah, tapi juga bermakna. Tempat di mana langkah sederhana pun bisa meninggalkan kesan yang dalam.

Comments