Kisah Karbala Perjuangan Sayyidina Husain bin Ali Hingga Syahid


Kisah Karbala Perjuangan Sayyidina Husain bin Ali Hingga Syahid

Gambar Ilustrasi

Kisah Karbala Perjuangan Sayyidina Husain bin Ali Hingga Syahid... Suatu hari, ada seorang lelaki dengan penyakit yang sangat aneh. Ia selalu merasa haus, tetapi tidak bisa minum air sama sekali. Setiap kali air masuk ke mulutnya, tubuhnya langsung memuntahkannya. Tidak ada satu pun minuman yang bisa ia tahan. Ia hanya bisa minum satu hal. Air yang dicampur dengan air kencingnya sendiri. Selain itu, semua air pasti dimuntahkan. Karena rasa haus yang terus menerus, hidupnya menjadi sangat tersiksa. Akhirnya, ia kehilangan akal dan memilih mengakhiri hidupnya sendiri. 

Lalu, apa hubungannya kisah ini dengan peristiwa Karbala? 

Lelaki ini adalah salah satu orang yang terlibat dalam pembunuhan Sayyidina Husain bin Ali, cucu Rasulullah SAW. Dialah yang melarang siapapun membawa air kepada Sayyidina Husain dan keluarganya. Mereka dibiarkan menahan haus di padang Karbala. 

Dalam keadaan itu, Sayyidina Husain berdoa kepada Allah SWT, “Ya Allah, matikanlah dia dalam keadaan haus.”

ALI BIN ABI THALIB DIBUNUH KHAWARIJ 

Sayyidina Ali bin Abi Thalib wafat setelah dibunuh oleh kelompok Khawarij. Kepergian beliau membuat umat Islam kembali dihadapkan pada persoalan besar, yaitu memilih pemimpin pengganti. Saat itu, umat Islam sepakat mengangkat putra beliau sendiri, yaitu Al Hasan bin Ali, sebagai pemimpin.

KEPEMIMPINAN AL-HASAN BIN ALI

Al Hasan bin Ali adalah cucu Rasulullah SAW. Namun, masa kepemimpinannya berlangsung dalam keadaan umat yang tidak utuh. Wilayah seperti Irak, Iran, dan beberapa daerah lain berada di bawah kepemimpinannya. Sementara wilayah Syam, Suriah, Palestina, dan Mesir berada di bawah kekuasaan Sayyidina Muawiyah bin Abu Sufyan. Kondisi ini membuat umat Islam terpecah dan berisiko menimbulkan konflik yang lebih besar.

HASAN BIN ALI MENYERAHKAN KEKUASAAN KEPADA MUAWIYAH BIN ABU SUFYAN

Demi menjaga persatuan dan persaudaraan umat Islam, Al Hasan bin Ali mengambil keputusan besar. Setelah memimpin selama sekitar enam bulan, beliau memilih menyerahkan kekuasaan kepada Sayyidina Muawiyah bin Abu Sufyan dan membaiat beliau sebagai khalifah umat Islam. 

Keputusan ini bukan karena kelemahan, tetapi karena keinginan kuat untuk menghentikan perpecahan dan pertumpahan darah di antara kaum muslimin. Penyerahan kekuasaan ini dilakukan dengan dua syarat.

  1. Jika Muawiyah wafat lebih dahulu, maka Al Hasan berhak menjadi khalifah kembali
  2. Jika Al Hasan wafat lebih dahulu, maka urusan kekhalifahan setelah Muawiyah dikembalikan kepada umat Islam untuk dipilih sesuai Syura.

Catatan:

Syura adalah cara memilih pemimpin melalui musyawarah umat. Seperti pemilihan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, pemimpin tidak ditentukan sendiri, tetapi dipilih bersama oleh umat berdasarkan kesepakatan dan kebaikan bersama.

Setelah beberapa waktu berlalu, tersiar kabar wafatnya Sayyidina Hasan bin Ali, cucu Rasulullah SAW. Namun, di kemudian hari, Sayyidina Muawiyah tidak menepati janji yang pernah ia sampaikan. 

 “Sebelum melanjutkan kisah ini, mari kita berhenti sejenak untuk merenung. Dalam cerita ini, tidak ada maksud sedikit pun bagi penulis maupun pembaca untuk mencela para sahabat Rasulullah SAW. Sayyidina Muawiyah adalah sahabat Nabi yang mulia. Tidak pantas bagi kita untuk merendahkan atau menghina beliau. Kisah ini disampaikan semata sebagai catatan sejarah yang perlu dipahami, sebagai bentuk penghormatan kepada para sahabat Nabi Muhammad SAW.”

Sayangnya, Sayyidina Muawiyah tidak menepati janji tersebut. Ia kemudian berkeinginan menunjuk khalifah setelahnya, yaitu putranya sendiri yang bernama Yazid bin Muawiyah. Dari keputusan ini, muncul beberapa persoalan yang menimbulkan penolakan di kalangan umat Islam:

  1. Di dalam Islam haram hukumnya untuk baiat 2 orang di waktu yang sama.
  2. Dikalangan para sahabat banyak yang lebih berhak menjadi pemimpin dibanding Yazid. Para sahabat masih hidup sedangkan Yazid bukan sahabat, dia tabi’in.
  3. Sayyidina Muawiyah tidak menepati janji yang dia buat dengan sayyidina Al-Hasan

Maka, banyak umat Islam yang menolak keputusan pembaiatan putra Sayyidina Muawiyah tersebut.

Sayyidina Muawiyah kemudian mengutus para utusannya ke seluruh wilayah Islam untuk meminta baiat kepada Yazid. Sebagian orang menerima baiat tersebut, terutama di wilayah Syam, karena masyarakatnya memang mendukung Sayyidina Muawiyah. Namun tidak semua setuju. Ada yang memberi baiat karena dipaksa, dan ada juga yang menolak untuk membaiat Yazid.

Beberapa tokoh yang menolak baiat kepada Yazid bin Muawiya

  • Penduduk Makkah
  • Penduduk Madinah
  • Abdullah bin Zubair (Putra Sayyidina Zubair bin Awwam)
  • Abdullah bin Umar (Putra Sayyidina Umar bin Khattab)
  • Abdullah bin Abbas (Sepupu Rasulullah SAW)
  • Al-Husain bin Ali (Cucu Rasulullah SAW) – Inilah yang akan kita ceritkan dalam tulisan ini, kisah peristiwa terbunuhnya cucu mulia Rasulullah SAW.

Setiap sahabat yang menolak memberikan baiat kepada Yazid memiliki sikap dan cara masing masing. Ketika Sayyidina Muawiyah bin Abu Sufyan datang dan meminta baiat untuk anaknya, Yazid, Sayyidina Husain merasa marah dan kecewa. Ia mempertanyakan mengapa Yazid yang dipilih, padahal masih banyak orang lain yang lebih pantas. Menurut Sayyidina Husain, hal itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Meski demikian, Sayyidina Husain tidak langsung mengambil tindakan. Alasannya sederhana, saat itu Sayyidina Muawiyah masih hidup. Sayyidina Husain memilih menunggu. Ia ingin melihat apa yang akan terjadi setelah Sayyidina Muawiyah wafat. Apakah benar Yazid akan naik menjadi khalifah atau justru gagal.

Sebelum melanjutkan kisah tentang apa yang terjadi selanjutnya dan bagaimana reaksi Sayyidina Husain serta para sahabat lainnya, penulis akan terlebih dahulu memperkenalkan siapa sebenarnya Sayyidina Husain.

SIAPA HUSAIN BIN ALI?

Sayyidina Husain bin Ali adalah cucu Nabi Muhammad SAW. Ayahnya adalah Ali bin Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW. Ibunya adalah Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah SAW. Dari jalur ayah, kakeknya adalah Abu Thalib. Dari jalur ibu, kakeknya adalah Nabi Muhammad SAW.

Neneknya dari jalur ayah adalah Fatimah binti Asad, seorang wanita yang sejak awal mendukung dakwah Rasulullah SAW. Neneknya dari jalur ibu adalah Khadijah RA. Sayyidina Husain memiliki kakak kandung bernama Al Hasan bin Ali. Pamannya dari jalur ayah adalah Ja far bin Abi Thalib dan bibinya adalah Ummu Hani.

HADIST RASULULLAH

مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي

Barang siapa mencintai keduanya (Hasan dan Husain), maka sungguh ia telah mencintaiku. Dan barang siapa membenci keduanya, maka sungguh ia telah membenciku.

Setelah wafatnya Sayyidina Muawiyah bin Abu Sufyan, Yazid naik tahta sebagai pemimpin (banyak ahli sejarah, khususnya para ulama, menilai bahwa Yazid tidak bisa disebut sebagai khalifah). Ia mulai memimpin pada tahun 60 Hijriah. Saat itu, ada yang membaiatnya dengan sukarela, ada yang terpaksa, dan ada pula yang menolak.

Salah satu pihak yang menolak dengan tegas adalah warga Kufah, sebuah wilayah di Irak. Mereka tidak menerima kepemimpinan Yazid bin Muawiyah.

WARGA KUFAH MENGIRIM SURAT KEPADA SAYYIDINA HUSAIN BIN ALI

Atas inisiatif sendiri, warga Kufah mengirim surat kepada Sayyidina Husain bin Ali. Isi surat itu meminta agar Sayyidina Husain datang ke Kufah dan bersedia menjadi Khalifah. Mereka menyatakan tidak ingin Yazid menjadi pemimpin dan ingin membaiat Sayyidina Husain. Jumlah surat yang datang sangat banyak.

Nama para pengirim dicantumkan di dalamnya, dan jumlahnya disebut mencapai 12.000 orang. Saat itu, Sayyidina Husain sedang berada di Makkah.

SAYYIDINA HUSAIN MENGUTUS MUSLIM BIN AQIL KE KUFAH

Meski menerima banyak surat, Sayyidina Husain tetap bersikap hati hati. Ia khawatir jika datang ke Kufah, janji baiat itu tidak benar atau justru ditinggalkan. Untuk memastikan kebenarannya, Sayyidina Husain mengutus orang terpercayanya Muslim bin Aqil ke Kufah. Tugasnya adalah melihat langsung keadaan di sana dan memastikan apakah warga Kufah benar benar siap membaiat Sayyidina Husain, lalu menyampaikan hasilnya kepada Sayyidina Husain.

MUSLIM BIN AQIL SAMPAI DI KUFAH

Ketika Muslim bin Aqil tiba di Kufah, ia disambut dengan sangat baik. Warga Kufah datang berbondong bondong. Ada kepala suku dan ada juga rakyat biasa. Mereka semua menyatakan baiat kepada Muslim bin Aqil sebagai wakil dari Sayyidina Husain. Pada hari pertamanya di Kufah, Muslim bin Aqil langsung mengirim surat kepada Sayyidina Husain. “Wahai Husain, datanglah ke Kufah. Warga di sini menunggumu.

Namun kabar ini sampai ke telinga Yazid. Ia tahu bahwa warga Kufah ingin membaiat Sayyidina Husain dan sedang mengundangnya ke kota itu. Yazid pun merasa terancam. Ia lalu menugaskan Ubaidillah bin Ziyad untuk menghentikan rencana baiat tersebut di Kufah.

YAZID MENUGASKAN UBADILLAH BIN ZIYAD UNTUK MENGHENTIKAN BAIAT SAYYIDINA HUSAIN DI KUFAH

Yazid memanggil salah satu panglima yang sangat kejam dan sangat keji namanya Ubaidillah bin Ziyad (sebut saja bin Ziyad) yang ditugaskan untuk menghentikan proses baiat Sayyidina Husain di kota Kufah. Jika bin Ziyad sukses menghentikan proses baiat maka akan diberi kepemimpinan di Kufah dan Basrah selamanya.

Mendengar itu, bin Ziyad langsung berangkat ke Kufah dengan penuh ambisi. Sesampainya di sana, ia mulai mencari tahu keberadaan Muslim bin Aqil. Ia bertanya tinggal di mana, tidur di mana, dan menumpang di rumah siapa. Warga pun menjawab bahwa Muslim bin Aqil tinggal di rumah Hani bin Urwah, seorang tokoh terpandang di Kufah.

Bin Ziyad kemudian masuk ke istana dan memanggil Hani bin Urwah. Ia meminta agar Muslim bin Aqil diserahkan kepadanya. Hani menolak. Ia ingin Sayyidina Husain menjadi khalifah dan ia juga merasa tidak pantas menyerahkan seorang tamu untuk disiksa atau dibunuh. Penolakan itu membuat bin Ziyad murka. Hani dipukuli oleh bin Ziyad dan para prajuritnya hingga giginya hancur. Setelah itu Hani ditahan di dalam istana.

Beberapa jam kemudian, Muslim bin Aqil mulai merasa gelisah karena Hani tidak terlihat. Ia pun bertanya dan mendapat jawaban bahwa Hani ditahan di istana bin Ziyad. Mendengar kabar itu, Muslim bin Aqil segera mengumpulkan orang orang yang sebelumnya berniat membaiat Sayyidina Husain. Jumlahnya lebih dari dua belas ribu orang. Mereka mendatangi istana bin Ziyad dan menuntut agar Hani dibebaskan serta baiat kepada Sayyidina Husain tetap dilanjutkan.

Bin Ziyad berada dalam keadaan terdesak. Ia bingung menghadapi lautan massa yang berkumpul di depan istana. Dalam kondisi itu, ia mengambil langkah licik dan aneh.

Ubaidillah Bin Ziyad melakukan dua hal yang sangat aneh:

  1. Ubaidillah bin Ziyad memanggil semua kepala suku untuk masuk ke istana. Orang yang tidak mau masuk dipaksa untuk masuk. Kemudian bin Ziyad menggoda mereka dengan harta duniawi. Bin Ziyad berkata: “Kalau Husain gagal di baiat aku yang akan menjadi pemimpin kota ini dan aku akan memberikan banyak kelebihan dan banyak kemewahan.” Bin Ziyad tahu bahwa orang-orang di zaman itu sangat taat kepada kepala suku. Jika kepala suku bilang A maka semua anggota suku pilih A walaupun salah. Sebagian besar kepala suku tergoda dengan godaan bin Ziyad dan beberapa yang lain tidak tergoda dan mereka tetap menolak. Mereka yang tidak tergoda diancam akan dibunuh, anggota sukunya akan dibunuh dan diambil lahannya. Tiba-tiba dukungan kepada Muslim bin Aqil perlahan menghilang. Dalam waktu singkat, ia kehilangan sebagian besar orang yang sebelumnya menyatakan baiat kepada Sayyidina Husain.
  2. Bin Ziyad memanggil seorang penyair namanya Qois (Penyair ibarat artis/influencer/selebgram di masa itu) dan memberi satu tugas untuk keluar dan masuk ke balkon istana kemudian sampaikan syair yang mengajak orang untuk baiat kepada Yazid dan meninggalkan Husain. Qois naik ke istana kemudian naik ke balkon, dia menyampaikan syair yang justru mendukung Sayyidina Husain dan mengajak orang-orang untuk tidak baiat kepada Yazid. Ketika sedang menyampaikan syair tersebut langsung dilempar dari balkon istana oleh prajutir bin Ziyad dan dia jatuh wafat.

Setelah Qois wafat, ketakutan mulai menyebar di Kufah. Banyak warga menjadi ragu. Ketika para kepala suku tergoda oleh janji bin Ziyad, pengikut mereka pun ikut pulang. Satu per satu orang meninggalkan Muslim bin Aqil. Hingga akhirnya, yang tersisa bersamanya hanya sekitar 150 orang. Bayangkan, sebelumnya ribuan orang mendukung Sayyidina Husain, kini tinggal 150 saja.

Waktu itu sudah memasuki magrib. Muslim bin Aqil mengimami sholat bersama mereka. Setelah sholat selesai, ia menoleh ke belakang. Semua orang telah pergi. Tidak satu pun tersisa. Mereka pulang karena takut. Saat itu, Muslim bin Aqil benar benar sendirian.

Prajurit bin Ziyad mulai mencarinya ke berbagai tempat. Sebenarnya Muslim bin Aqil tidak takut menghadapi prajurit atau tentara bin Ziyad. Yang paling ia takutkan adalah surat yang telah ia kirim sebelumnya kepada Sayyidina Husain. Surat yang berisi ajakan agar Husain datang ke Kufah karena warga menunggu.

Kini keadaan telah berubah. Jika Sayyidina Husain benar benar datang, ia tidak akan disambut. Bahkan nyawanya bisa terancam. Karena itu, Muslim bin Aqil segera mengambil kertas dan tinta untuk menulis surat kedua.

MUSLIM BIN AQIL MENGIRIM SURAT KEDUA

Surat kedua untuk Sayyidina Husain: “Jangan datang kesini warga Kufah meninggalkanmu.”

Dia langsung mengirim surat tersebut, karena tidak ingin sayyidina Husain datang ke Kufah.

Begitulah keadaannya. Muslim bin Aqil mengirim dua surat. Surat pertama meminta Sayyidina Husain datang. Surat kedua memintanya agar tidak datang. Tidak lama setelah surat kedua dikirim, prajurit bin Ziyad berhasil menangkap Muslim bin Aqil. Ia kemudian dibunuh.

Masalahnya, Sayyidina Husain sudah terlanjur keluar dari Makkah. Saat berangkat, ia baru menerima surat pertama dari Muslim bin Aqil. Surat kedua belum sampai. Karena itu, Sayyidina Husain mengira keadaan di Kufah masih seperti yang diceritakan dalam surat pertama.

Sayyidina Husain keluar dari Makkah bertepatan dengan tanggal dua Muharram. Tepat sebelum berangkat, hatinya diliputi perasaan yang tidak biasa. Dari dalam dirinya, ia merasa akan dikhianati dan merasa akan dibunuh. Bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu, beberapa sahabat pun merasakan firasat yang sama.

Sebelum meninggalkan Makkah, Sayyidina Husain melakukan tawaf di Ka’bah. Saat itu, ia dilihat oleh Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW.

PESAN-PESAN YANG DISAMPAIKAN KEPADA SAYYIDINA HUSAIN BIN ALI SEBELUM PERGI KE KUFAH

Ummu Salamah: “Seandainya ibumu masih hidup sampau hari ini, pasti kamu tidak akan diperbolehkan keluar oleh ibumu.

Ibnu Abbas: “Seandainya aku bisa pegang pakaianmu ini untuk menghalangimu untuk keluar, aku akan melakukannya. Kepalamu ini akan dipisah dari badanmu oleh warga Irak yang tinggal disana.

Abdullah bin Umar mendatangi Sayyidina Husain sebelum keluar dan mengatakan: “Kamu mau pergi ke tanah dimana ayahmu dibunuh?

Abdullah bin Zubair mengatakan: “Kamu mau pergi ke tanah dimana ayahmu dibunuh dan kakakmu dikhianati?

Namun Sayyidina Husain hanya memberi satu jawaban. Ia berkata bahwa ia keluar untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, walaupun harus berakhir dengan syahid.

Sayyidina Husain kemudian berangkat dari Makkah bersama 72 orang. Sebagian dari mereka adalah keluarga Muslim bin Aqil, dan sisanya dari Ahlul Bait. Saat itu, Sayyidina Husain belum mengetahui kabar wafatnya Muslim bin Aqil.

Dalam perjalanan menuju Kufah, Sayyidina Husain bertemu dengan seorang penyair terkenal bernama Al Farazdaq. Husain bertanya dari mana ia datang. Al Farazdaq menjawab bahwa ia datang dari Irak. Husain lalu bertanya tentang keadaan di sana. Al-Farazdaq menjawab dengan satu pertanyaan yang perlu kita pikirkan:

JAWABAN AL-FARAZDAQ TENTANG KEADAAN KUFAH

Al-Farazdaq:

Pedang mereka bersama Yazid, namun hati mereka bersama Husain.

JAWABAN SAYYIDINA HUSAIN SETELAH MENDENGAR JAWABAN AL-FARAZDAQ

Husain menjawab pernyataan Al-Farazdaq:

Aku rela mati agar keadilan dan kebenaran tampak (tampak) di depan orang.

Tak lama setelah itu, Sayyidina Husain menerima kabar bahwa Muslim Bin Aqil dibunuh

SAYYIDINA HUSAIN MENERIMA KABAR BAHWA MUSLIM BIN AQIL DIBUNUH

Tidak lama setelah itu, Sayyidina Husain menerima kabar duka. Ia mendengar bahwa Muslim bin Aqil telah dibunuh oleh pasukan bin Ziyad dan pasukan Yazid. Pada saat yang sama, surat kedua dari Muslim bin Aqil akhirnya sampai kepadanya. Mendengar kabar itu, Sayyidina Husain pun diliputi kesedihan yang mendalam.

SAYYIDINA HUSAIN MENDATANGI KELUARGA MUSLIM BIN AQIL

Sayyidina Husain mengatakan kepada keluarga Muslim bin Aqil: “Kalau mau pulang lagi ke Makkah silakan, Muslim bin Aqil sudah wafat.”

Jawaban keluarga Muslim bin Aqil:

Demi Allah kami tidak akan mengkhianatimu..!! Hidup bersamamu atau mati bersama..!!"

Perhatikan alurnya. Saat itu bin Ziyad sudah mengetahui bahwa Sayyidina Husain sedang dalam perjalanan menuju Kufah dan jaraknya sudah sangat dekat. Bin Ziyad tidak ingin Sayyidina Husain masuk ke kota. Ia takut pengaruh Husain kembali menggerakkan kepala suku dan warga Kufah. Sayyidina Husain adalah cucu Nabi Muhammad SAW. Pengaruhnya sangat besar. Warga Kufah pada dasarnya mencintai Ali bin Abi Thalib, ayah dari Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain. Karena itulah bin Ziyad khawatir warga Kufah akan berubah pikiran.

BIN ZIYAD MENGIRIM PASUKAN 1000 ORANG DIBAWAH KEPEMIMPINAN AL-HURR BIN YAZID

Al-Hurr bin Yazid (sebut saja Al-Hurr) membawa 1000 orang keluar dari Kufah menuju arah Sayyidina Husain. Di tengah perjalanan, kedua rombongan itu bertemu.

Al Hurr dan 1000 pasukannya mengepung rombongan Sayyidina Husain yang berjumlah tujuh puluh dua orang. Mereka menghentikan langkah Husain dan melarangnya masuk ke kota Kufah. Sejak saat itu, perjalanan Sayyidina Husain menjadi sangat lambat karena terus dikelilingi pasukan Al Hurr.. Al Hurr menyampaikan perintah dari bin Ziyad “Kamu tidak boleh masuk kota Kufah.”

SAYYIDINA HUSAIN BERNEGOSIASI DENGAN AL-HURR BIN YAZID

Sayyidina Husain mengatakan, Aku kasih kamu 3 pilihan, pilih salah satunya saja:

  1. Aku diperbolehkan untuk pulang ke Kota Madinah
  2. Aku diperbolehkan untuk masuk Kufah
  3. Yazid turun dari kepemimpinan dan menyerahkan kekuasaan kepada umat agar umat memilih pemimpinnya melalui proses Syura

Al Hurr menolak semua pilihan itu. Ia berkata bahwa dirinya diperintahkan untuk melarang Husain masuk ke Kufah dan juga melarangnya pulang ke Madinah. Namun saat itu, Sayyidina Husain masih diperbolehkan kembali ke Makkah.

Al Hurr kemudian mengirim surat kepada bin Ziyad dan menjelaskan bahwa Husain tidak ingin berhenti, ia ingin menuju Madinah atau Kufah. Mendengar hal itu, bin Ziyad Laknatullah (ahli sejarah, khususnya para ulama turut berkata demikian) mengatakan kepada Al-Hurr “Sekarang, Husain tidak dibiarkan pergi ke Madinah, tidak ke Kufah, dan juga tidak ke Makkah. Berikan Husain hanya 2 pilihan yakni Perang atau berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah.”

Setelah itu, bin Ziyad mengirim pasukan tambahan sebanyak 4000 orang di bawah pimpinan Umar bin Ziyad (sebut saja Umar). Kini ada dua pasukan yang mengepung Sayyidina Husain. 1000 pasukan dipimpin Al Hurr dan 4000 pasukan dipimpin Umar. Total 5000 pasukan mengepung dan menghalangi Sayyidina Husain beserta 72 orang pengikutnya, yang di antaranya adalah keluarga Rasulullah SAW dan orang orang terdekatnya.

Dalam perjalanan yang sangat lambat menuju Kufah, Sayyidina Husain akhirnya sampai di sebuah wilayah bernama Karbala. Di tempat itulah perjalanannya dihentikan sepenuhnya oleh pasukan yang mengepungnya. Pada saat itu, ia hanya diberi 2 pilihan. Perang atau berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah.

Sekali lagi, Sayyidina Husain bersama keluarganya, termasuk keluarga dan orang orang terdekat Rasulullah SAW, dikelilingi oleh pasukan Al Hurr dan pasukan Umar. Di tengah keadaan itu, seorang bernama bin al Jausyan mengusulkan agar jalur air untuk rombongan Sayyidina Husain diputus. Tujuannya agar mereka kehausan. Usulan itu disetujui dan sejak saat itu Sayyidina Husain beserta keluarga dan rombongannya mulai merasakan haus.

Dalam kondisi tersebut, Sayyidina Husain berjalan mendekati sumur untuk mengambil air. Namun langkahnya dihentikan oleh salah seorang prajurit dari pasukan Al Hurr. Prajurit itu berkata bahwa Husain tidak akan dibiarkan minum sampai ia mati di hadapannya. Mendengar ucapan itu, Sayyidina Husain mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa.

SAYYIDUNA AL-HUSAIN BIN ALI BERDOA

Sayyidina Husain mengangkat tangan ke langit dan mengatakan:

Ya Allah, matikanlah karena kehausan, dan jagan pernah beri dia pertolongan (air).

Inilah orang yang penulis ceritakan di pembuka awal kisah cerita ini.

Dua hari berlalu di Karbala. Tekanan kepada Sayyidina Husain semakin kuat. Al Hurr dan Umar terus mendesaknya untuk memilih satu dari dua pilihan. Perang atau berbaiat kepada Yazid. Sayyidina Husain meminta waktu satu hari lagi. Malam itu ia habiskan dengan berdoa dan berzikir kepada Allah SWT. Ia memohon petunjuk agar diberi jalan yang benar untuk memilih di antara dua pilihan tersebut.

(Disini penulis mengajak pembaca untuk membayangkan peristiwa ini) Ketika azan subuh berkumandang, Sayyidina Husain maju menjadi imam. Di belakangnya berdiri para makmum. Mereka adalah 72 orang yang turut serta dalam perjalanan Sayyidina Husain ke Kufah dan sekaligus 5000 orang dari pasukan Al Hurr dan Umar.

Padahal mereka bermusuhan tapi sholat diimami Sayyidina Husain sendiri dan makmumnya ialah pasukan yang menghentikan Sayyiduna Husain di Karbala. (Bagi penulis kondisi ini, agak sulit untuk dijelaskan. Kondisinya mereka melawan Sayyidina Husain demi urusan duniawi tetapi diwaktu yang sama tidak ada imam yang lebih baik dari Sayyidina Husain. Mereka lebih tau dari dalam hati bahwa yang dihadapinya adalah cucu Rasulullah SAW.Tetapi dunia telah menutup mata mereka, dunia telah membuat mereka buta)

Setelah sholat subuh selesai, Sayyidina Husain membersihkan diri. Ia mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian (sepertinya cucu Rasulullah SAW Sayyidina Husain tengah mempersiapkan diri bertemu dengan malaikat). Lalu ia berpamitan kepada istrinya, anak anaknya, dan seluruh keluarga yang bersamanya. Ia mempersilakan mereka untuk pulang.

Namun jawaban mereka sangat luar biasa. Mereka berkata bahwa mereka akan tetap bersama. Menang atau syahid, semuanya adalah jalan Allah. (Bagi penulis ini jawab singkat tapi penuh makna. Kalau menang, artinya mereka telah memasuki kota Kufah dan dibaiat itu adalah jalan Allah, kalau syahid itu juga jalan Allah. Ma sya Allah).

Sayyidina Husain lalu mengumpulkan pasukannya. Tidak semua menunggang kuda. Banyak dari mereka berjalan kaki. Jumlah mereka sangat sedikit. Sementara itu, pasukan musuh berjumlah sekitar lima ribu orang dan hampir semuanya menunggang kuda.

Ketika perang hendak dimulai, pasukan Al Hurr dan Umar mencoba menyerang dari arah belakang, tepat ke arah para perempuan. Melihat itu, Sayyidina Husain membuat strategi sederhana namun cerdas. Ia memerintahkan agar api dinyalakan di belakang rombongan perempuan. Dengan cara itu, pasukan musuh tidak bisa menyerang dari arah belakang.

Ketika Sayyidina Husain menyalakan api, Syimr bin Jausyan mengatakan “Kenapa kamu terburu-buru menyalakan api, padahal nanti kamu (husain) dan pasukanmu masuk neraka.” (Nauzubillah, Lailahaillallah, satu orang berkata demikian kepada cucu Nabi Muhammad Rasululla SAW).

SEBELUM BERPERANG SAYYIDUNA HUSAIN BERCERAMAH

Sayyiduna Husain berceramah sebelum perang, ceramahnya bukan ke pasukan sendiri tetapi ke pasukan musuh. Setelah itu ada beberapa prajurit tantara Al Hurr dan Umar menarik diri dan masuk ke pasukan Sayyidina Husain, termasuk Al Hurr sendiri.

Salah satu prajurit yang berpindah ditanya alasan keputusannya. Ia menjawab dengan jujur. Ia berkata bahwa pada waktu subuh tadi, ia sholat dengan Husain sebagai imam. Dalam doanya, ia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Ia lalu sadar bahwa tidak masuk akal jika pagi hari ia memuji keluarga Nabi, tetapi di siang hari ia justru mengangkat senjata untuk memerangi keturunan Nabi Muhammad SAW. Karena itulah ia memilih meninggalkan pasukan musuh dan bergabung dengan Sayyidina Husain.

SAYYIDUNA AL-HUSAIN BIN ALI BERDOA

Sebelum perang, Sayyidina Husain mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah SWT:

Ya Allah, jika Engkau beri mereka kenikmatan hidup sementara, maka cerai-beraikanlah mereka, jadikan mereka berselisih dan terpecah-pecah, dan jangan jadikan para pemimpin mereka ridha kepada mereka selamanya. Sesungguhnya mereka telah memanggil kami untuk menolong kami, lalu mereka berbalik memusuhi dan membunuh kami.

PERTEMPURAN PUN DI MULAI

Sayyidina Husain berdiri ditengah pasukannya dan ada juga cucu dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib berdiri juga namanya Ali bin Husain, dia menyemangati pasukan sampai dia kena panah dan syahid di tempat.

Sayyidina Husain langsung membawanya ke tenda dan menangis.

Kemudian tiba-tiba ada satu panah lagi yang tembus ke salah satu bayi dari Ahlul Bait dari keluarga Nabi Muhammad SAW.

Catatan:

Terdapat 72 orang dan 32 orang yang tobat dari pasukan musuh melawan ribuan pasukan.

AL-QASIM BIN AL-HASAN DIBUNUH

Perang berlangsung setelah azan subuh sampai azan zuhur. Di siang hari Al-Qasim keponakan Sayyidina Husain tiba-tiba dikelilingi banyak orang dari pasukan musuh dan memanggil-manggil pamannya Sayyidina Husain, namum sebelum Sayyidina Husain sampai Al-Qasim sudah dibunuh.

Sayyidina Husain kemudian mengangkat kepala keponakannya dan menangis. Ia mengatakan “Maafkan aku wahai keponakanku, Demi Allah, berat bagiku kamu minta tolong tapi aku tidak sempat menolongmu.

Memasuki azan zuhur, hampir seluruh Ahlul Bait syahid ditangan pasukan utusan bin Ziyad. Maka, hanya tersisa Sayyidina Husain dan beberapa perempuan. Dalam kondisi inilah, Sayyidina Husain kembali dikepung tapi tidak ada satupun yang berani menghunuskan pedangnya kepada Sayyidina Husain (penulis menganggap karena mereka menyadari bahwa dihadapannya adalah cucu Rasulullah SAW). Majulah salah seorang pasukan musuh memukul Sayyidina Husain.

DZAR’A BIN SYU’AOL AL-TAMIMI MEMUKUL SAYYIDINA HUSAIN

Dzar’a, dia memukul Sayyidina Husain dengan sangat keras dipundaknya. Sayyidina Husain pingsan dan jatuh. Sampai ada satu orang yang namanya Anas bin Sinan Laknatullah, dia mengambil pisau dan dia membunuh Sayyidina Husain, ia memisahkan kepala dari badannya kemudian menusuk badannya 33 kali.

Sebenci itu mereka terhadap cucu Rasulullah SAW,

Sebenci itu mereka terhadap perhiasan dunia Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hasan dan Husain adalah perhiasan duniaku.

Maka syahidlah Abu Abdillah, Sayyid Syabab Ahlul Jannah, Sayyid Asy-Syuhada, Sayyidina Al-Husain bin Ali Bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad Rasulullah SAW.

SAYYIDINA HUSAIN SYAHID TIBA-TIBA HUJAN DERAS

Ketika Sayyidina Husain Syahid tiba-tiba hujan deras sekali, tiba-tiba petir menyambar. Beberapa ulama berpendapat bahwa langit sedang bergembira menerima nyawa-nyawa orang baik, orang suci, keluarga Nabi Muhammad SAW.

Anehnya, beberapa pasukan musuh yang membunuh Sayyidina Husain menangis

BEBERAPA PRAJURIT DARI TENTARA MUSUH MENANGIS SETELAH SAYYIDINA AL-HUSAIN DIBUNUH

Sampai perempuan yang tersisa dari Ahlul Bait mengatakan:

Kalian menangisi kami, padahal kalianlah yang membunuh kami.

Umar bin Yazid Laknatullah, pemimpin pasukan tersebut mengambil kepala Sayyidina Husain dan mengirimnya ke kota Kufah bersama orang bernama Khauli bin Yazid. Khauli membawa kepala Sayyidina Husain di dalam tas menuju istana bin Ziyad di kota Kufah untuk menyerahkan kepala Sayyidina Husain kepada bin Ziyad. Akan tetapi, bin Ziyad tidak sedang berada di istananya.

Jadi, Khauli membawa kepala Sayyidina Husain ke rumahnya sendiri. Dia menyimpan kepala Sayyidina Husain di bawah tempat duduk sampai istrinya masuk dan menanyakan “Ini siapa?” (Istrinya tidak mengenal wajah Sayyidina Husain). Khauli Laknatullah menjawab “Ini kepala Husain.” Istrinya begitu murka dan mengatakan “Laknatullah alaih, murka Allah akan turun di rumah ini atas apa yang kamu lakukan.”. Istrinya kemudian meminta cerai.

Ketika kepala Sayyidina Husain dibawa ke istana bin Ziyad. Apa yang dilakukannya? Bin Ziyad Laknatullah mengambil tusukan dari besi dan dia mulai merusak mulut Sayyidina Husain dengan tusukan itu. Sampai orang yang duduk disekitar bin Ziyad yang melihatnya melakukan perbuatan keji tersebut mengatakan “Laknatullah alaih, saya pernah melihat Nabi Muhammad SAW mencium mulut yang kamu tusuk ini.”

Sayangnya, dari Ahlul Bait tersisa sedikit laki-laki, tersisa hanya perempuan. Sisanya dibawa bin Ziyad Laknatullah ke istananya, ia berkata kepada mereka: “Alhamdulillah, Allah membongkar kebohonganmu, kesesatanmu wahai Ahlul Bait.” 

ZAINAB MENJAWAB PERKATAAN BIN ZIYAD

Zainab menjawab: “Diam kamu, Allah yang memuliakan kami dengan Rasulullah dan kamu dihinakan dengan membunuh Husain. Ini laknat, ini kehinaan yang tetap ada sampai akhir zaman. Dia pembunuh Husain.

Sejak saat itu, bin Ziyad dibenci banyak orang bahkan ibunya sendiri yang memutus hubungan keluarga dengannya. Beberapa tahun kemudian, sesuatu hal yang kebetulan, terjadi peperangan. Bin Ziyad Laknatullah dibunuh bertepatan pada 10 Muharram. Kepalanya dipisahkan dari badannya, kepalanya dibawa oleh Mukhtar al-Tsaqfi Bersama Abdullah bin Az Zubair ke Ali bin Ali bin Al-Husain. Sementara Anan bin Sinan yang membunuh Sayyidina Husain, dikabarkan menjadi orang gila, sampai dia memotong lidahnya dan memakan kotorannya hingga ia mengakhiri nyawa sendiri.

Para pembaca yang In sya Allah dirahmati Allah SWT, Abu Abdillah, Sayyid Syabab Ahlul Jannah, Sayyid Asy-Syuhada, Sayyidina Al-Husain bin Ali Bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad Rasulullah SAW pasti ia telah mengetahui bahwa ketika ia memutuskan keluar dari Makkah menuju Kufah dirinya pastikan akan dibunuh. Tetapi Sayyidina Husain lebih memilih kebenaran dibanding nyawanya sendiri. Sayyidina Husain menerima perintah jalan Allah yakni menantang kezaliman yang ada saat itu supaya menjadi saksi atas kebenaran sampai hari akhir.

Allahumma shalli 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad, kamaa shallaita 'alaa ibraahiim. Wa baarik 'alaa muhammad wa 'alaa aali muhammad, kamaa baarakta 'alaa aali ibraahiim, fil 'aalamiina innaka hamiidum majiid.

Penulis: AA



Comments