GENEALOGI YAHUDI AKHIR ZAMAN PART 2

 SERIAL SEJARAH YAHUDI


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Segala puji bagi Allah SWT yang dengan rahmat-Nya membuka jalan bagi manusia untuk menelusuri jejak sejarah dan mengambil pelajaran dari perjalanan umat terdahulu. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, penutup para nabi, yang menyempurnakan risalah tauhid.

Tulisan ini merupakan ikhtiar sederhana untuk merangkai pemahaman sejarah yang bersumber dari Al-Qur’an, hadis, serta literatur (kitab riwayat), agar dapat menjadi bahan refleksi dan menambah wawasan dalam memahami perjalanan umat manusia.

Pada bagian ini, pembahasan dilanjutkan dengan menelusuri garis keturunan Nabi Ibrahim A.S hingga kepada Nabi Ya’qub A.S (Israil), yang darinya lahir dua belas anak sebagai cikal bakal Bani Israil. Kisah mereka, khususnya dalam Surah Yusuf, memberikan gambaran tentang dinamika keluarga, ujian kehidupan, serta nilai taubat dan keteguhan iman.

Al-Qur’an menghadirkan kisah tersebut dengan menekankan pada pelajaran dari suatu peristiwa, bukan sekadar pada sosoknya, sehingga menjadi panduan dalam melihat sejarah secara lebih jernih dan bijak.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pengantar yang bermanfaat dan membuka ruang untuk pemahaman yang lebih luas pada pembahasan selanjutnya.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Seperti telah dibahas sebelumnya, Nabi Ibrahim A.S (sekitar 1996 SM) merupakan putra dari Azar, yang dalam sebagian riwayat lain disebut sebagai Terah (sekitar 2126 SM). Terah sendiri adalah putra dari Nahur. Nahur yang dimaksud dalam garis keturunan tersebut merupakan putra dari Abir, yang bersambung kepada Qinan, Arfakhsyad, Sam bin Nabi Nuh A.S, kemudian kepada Matusyala, Qinan, Mikhlail, Anwats, Sits, hingga Nabi Adam A.S.

Dari Adzar (Terah) tercatat memiliki tiga orang putra, yaitu Haran, Nahur, dan Nabi Ibrahim A.S. Di antara ketiganya, Haran memiliki seorang anak laki-laki bernama Nabi Luth A.S, yang kelak diangkat sebagai nabi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Nabi Luth A.S. merupakan keponakan dari Nabi Ibrahim A.S. Keduanya hidup dalam satu masa.

Sebelumnya, penulis telah menguraikan istri-istri Nabi Ibrahim A.S yakni Sayyidah Sarah, Hajar al-Qibthiyyah al-Mishriyyah, Qanturah binti Yaqthan, dan Hajun binti al-Amin. Namun, dalam pembahasan kali ini, fokus bahasan secara khusus dibatasi pada sosok Sayyidah Sarah sebagai pokok utama.

Adapun pembahasan mengenai Sayyidah Hajar akan disajikan di lain kesempatan, In sya Allah. Tentu hal ini penting mengingat dari rahim Sayyidah Hajar lahir Nabi Ismail A.S yang kemudian menjadi leluhur hingga kepada Nabi Muhammad SAW, yang oleh sebagian kalangan Bani Israil menantikan kedatangan nabi akhir zaman, yang justru mereka tidak diakui bahkan ditolak.

Sementara itu, pembahasan mengenai Qanturah binti Yaqthan juga tidak menjadi fokus dalam tulisan ini. Pembahasan terkait dirinya termasuk penelusuran garis keturunannya yang dalam beberapa literatur dikaitkan dengan bangsa-bangsa di kawasan timur, termasuk Melayu, akan dibahas pada kesempatan lain, In sya Allah. Demikian pula halnya dengan Hajun binti al-Amin, yang pembahasannya akan disajikan secara terpisah.

Genealogis Keturunan Israil

Seperti telah diuraikan sebelumnya, Sayyidah Sarah melahirkan Nabi Ishaq A.S, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Q.S. Az-Zariyat:24–29 dan Q.S. Hud ayat 71:

وَامْرَاَتُهٗ قَاۤىِٕمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنٰهَا بِاِسْحٰقَۙ وَمِنْ وَّرَاۤءِ اِسْحٰقَ يَعْقُوْبَ

"Istrinya berdiri, lalu tersenyum. Kemudian, Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya‘qub (putra Ishaq)."

Nabi Ishaq A.S. kemudian menikah dengan Sayyidah Rafqah dan dikaruniai dua orang putra kembar, yaitu Eishu (pembahasan mengenai sosok ini serta keterkaitannya dengan Romawi akan diuraikan pada bagian lain, insya Allah) dan Nabi Ya‘qub A.S.

Selanjutnya, Laban (saudara laki-laki Sayyidah Rafqah) memiliki dua orang putri bernama Lea dan Rahel, yang masing-masing didampingi oleh pelayan bernama Zelfa dan Balhah. Nabi Ya‘qub A.S, yang juga dikenal dengan nama Israil (bermakna “hamba Allah”), kemudian menikahi Lea dan Rahel, serta dalam riwayat juga dengan kedua pelayan tersebut. Dari pernikahan-pernikahan ini lahir dua belas orang putra yang kelak dikenal sebagai Bani Israil.

Dari Lea lahir enam orang anak, yaitu Ruben, Syam‘un (Simeon), Levi, Yahudza (Yehuda), Isakhar (Issachar), dan Zabulon (Zebulun). Dari Rahel lahir dua orang anak, yakni Yusuf (kelak diangkat menjadi nabi) dan Bunyamin. Sementara itu, dari Zulfa lahir dua orang anak, yaitu Gad dan Asyur. Adapun dari Bilhah lahir dua orang anak, yaitu Dan dan Naftali.

Al-Qur'an sebagai Acuan Kebeneran

Kini pembahasan diarahkan untuk mengidentifikasi siapa saja serta bagaimana karakter anak Nabi Yaqub A.S. Rujukan utama yang digunakan adalah narasi dalam Alkitab, kemudian ditimbang kebenerannya melalui Al-Qur’an.

Al-Qur’an menghadirkan pendekatan yang sangat menarik dalam mengisahkan perjalanan hidup Nabi Yusuf A.S. Secara khusus, Allah SWT mengabadikan kisah tersebut dalam satu surah, yaitu Surah Yusuf, yang dinamai berdasarkan Nabi Yusuf A.S putra Nabi Ya‘qub A.S dari Rahel. Surah ini terdiri atas 111 ayat yang sarat dengan nilai-nilai moral, spiritual, dan kemuliaan akhlak.

Menarik untuk dicermati bahwa fokus utama dalam surah ini terletak pada sosok Nabi Yusuf A.S, sementara saudara-saudaranya tidak disebutkan secara individual, melainkan secara kolektif sebagai ikhwat Yusuf (saudara-saudara Yusuf). Ketika Al-Qur’an menggambarkan tindakan-tindakan yang kurang baik yang dilakukan oleh saudara-saudaranya, penekanannya tidak diarahkan pada identitas individu mereka, melainkan pada perbuatannya. Hal ini memberikan pesan moral bahwa yang menjadi objek evaluasi dan perbaikan diri adalah tindakan, bukan semata-mata individu atau nama. Dengan demikian, Al-Qur’an membangun perspektif etis yang menempatkan perbaikan perilaku/perbuatan, tanpa melakukan pelabelan negatif secara permanen terhadap pelakunya.

Al-Qur’an memulai kisah dalam Surah Yusuf dengan pernyataan sangat menarik, khususnya pada ayat ketiga, yaitu penyebutan kisah ini sebagai “kisah yang paling baik” ( اَحْسَنَ الْقَصَصِ). Pertanyaannya mengapa kisah Nabi Yusuf A.S disebut kisah paling baik?

Sebagai seorang Muslim, Al-Qur’an diposisikan sebagai kebenaran mutlak yang diyakini tanpa keraguan. Keyakinan ini tidak berdiri tanpa dasar, melainkan disertai dengan tantangan terbuka kepada siapa pun yang meragukannya untuk menguji kebenarannya. Menariknya, sebelum manusia melakukan pengujian tersebut, Allah SWT terlebih dahulu memberikan penegasan dalam firman-Nya, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ma'idah ayat 48:

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتٰبِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

"Kami telah menurunkan kitab suci (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan (membawa) kebenaran sebagai pembenar kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan sebagai penjaganya (acuan kebenaran terhadapnya)..."

Ayat ini turun setelah Allah SWT menjelaskan sebelumnya tentang Taurat dan Injil, serta berbagai persoalan yang terdapat di dalamnya. Kemudian Allah SWT menegaskan: “Dan Kami turunkan kepadamu, Muhammad SAW, Al-Qur’an.” Dalam konteks ini, Al-Qur’an juga disebut sebagai “Al-Kitab”, yakni wahyu yang tersusun dengan baik, teratur, dan sempurna. Sebagaimana Taurat disebut sebagai Al-Kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa A.S dan Injil juga disebut Al-Kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa A.S. Maka ketiganya sama-sama berada dalam kategori kitab-kitab wahyu, yakni kumpulan petunjuk Allah yang terstruktur dan memiliki kesempurnaan dalam tujuan dasarnya sebagai pedoman hidup manusia.

Namun demikian, oleh Al-Qur’an disebutkan bahwa terdapat sebagian isi kitab-kitab sebelumnya yang mengalami penyimpangan atau tidak lagi sejalan secara utuh dengan risalah murni yang dibawa oleh Nabi Musa A.S dan Nabi Isa A.S. Oleh karena itu, Al-Qur’an hadir sebagai koreksi sekaligus penegas kebenaran wahyu sebelumnya, serta mengembalikan makna ajaran yang sesuai dengan kehendak Allah SWT.

Dengan tegas, Allah SWT menyatakan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kitab yang sempurna, terjaga dari cacat dan penyimpangan, serta untuk membenarkan risalah-risalah yang diturunkan kepada Nabi Musa A.S dan Nabi Isa A.S sekaligus menjadi timbangan terhadap informasi terhadap keduanya (Taurat dan Injil) yang telah berkembang di masa Nabi Muhammad SAW hingga masa kini.

Yang dimaksud dengan “timbangan” di sini adalah parameter kebenaran. Maka segala informasi, ajaran, atau klaim yang datang akan diuji kesesuaiannya dengan Al-Qur’an. Jika sesuai, maka ia diakui sebagai kebenaran wahyu. Jika tidak sesuai, maka terdapat indikasi persoalan penyampaian dari kitab-kitab sebelumnya.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab petunjuk, tetapi juga sebagai standar kebenaran ilahi. Untuk memahami bagaimana fungsi ini bekerja dalam realitas sejarah dan narasi keagamaan, kita dapat melihatnya melalui contoh-contoh kisah yang terdapat dalam catatan pembahasan berikutnya.

Karakter anak Nabi Yaqub A.S dari Kacamata Alkitab dan Alquran

Mari kita mengenal terlebih dahulu sebagaian putra Nabi Ya’qub A.S. melalui perspektif Alkitab, yang kemudian dikonfirmasi dalam Al-Qur’an sebagai penguji kebenaran narasi sejarah yang selaras dengan nilai-nilai wahyu.

Ruben Putra Ya’qub

Ruben adalah putra sulung Nabi Ya’qub A.S. Dikisahkan, ia memiliki peran dalam perbuatan persengkongkolan  pembunuhan yang dilakukan saudara-saudaranya terhadap Yusuf. Namun, oleh Akitab yang selaras dengan Alquran menyatakan bahwa ia tidak menyetujui rencana pembunuhan terhadap Yusuf kecil. Dikisahkan dalam  Alquran Surah Yusuf ayat 7-10:

قَالَ قَاۤئِلٌ مِّنْهُمْ لَا تَقْتُلُوْا يُوْسُفَ وَاَلْقُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ اِنْ كُنْتُمْ فٰعِلِيْنَ

"Salah seorang di antara mereka berkata, “Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir jika kamu hendak berbuat." Q.S Yusuf ayat 10

Dari mana diketahui bahwa tokoh yang mengusulkan ide tersebut dikenal sebagai Ruben? Hal inisejalan dengan keterangan dalam Alkitab, khususnya Kitab Kejadian 37:21–22:

37:21 Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!" 37:22 Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" --maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya.

Disebutkan bahwa Ruben adalah pihak yang menentang rencana pembunuhan Yusuf. Ia mengusulkan agar Yusuf tidak dibunuh, melainkan dimasukkan ke dalam sumur dengan maksud tertentu, yakni agar ia dapat menyelamatkan Yusuf pada kesempatan berikutnya setelah saudara-saudaranya pergi. Maka, sebagaian riwayat menyebut bahwa sebenarnya Ruben merupakan anak yang baik. 

Akan tetapi, terdapat hal menarik untuk dicermati, yaitu adanya bagian-bagian yang disinggung Al-Qur’an dalam konteks narasi sejarah dari kitab-kitab sebelumnya yang perlu ditelaah dan diluruskan melalui Alquran sebagai sumber acuan kebenaran. Untuk memahami hal ini, perhatikan Kitab Kejadian pasal 35 ayat 21–22:

35:21 Sesudah itu berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder. 35:22 Ketika Israel diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, gundik ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel. Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya"

Disebutkan Ruben melakukan perbuatan tidak pantas dengan Bilha, yaitu istri Nabi Yaqub A.S, yang merupakan ibu mahramnya sendiri.

Tentu, ini merupakan persoalan yang disinggung dalam Al-Qur’an, yang secara nalar sehat dipandang sebagai sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Bayangkan, peristiwa tersebut melibatkan istri Nabi sekaligus ibu dari anak-anaknya sendiri, serta memiliki saudara-saudara kandung, namun terjadi satu peristiwa sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam narasi tersebut.

Dalam beberapa catatan sejarah, khususnya dalam Kitab Kejadian 49:3–4:

49:3 Ruben, engkaulah anak sulungku, kekuatanku dan permulaan kegagahanku, engkaulah yang terutama dalam keluhuran, yang terutama dalam kesanggupan. 49:4 Engkau yang membual sebagai air, tidak lagi engkau yang terutama, sebab engkau telah menaiki tempat tidur ayahmu; waktu itu engkau telah melanggar kesuciannya. Dia telah menaiki petiduranku!

Disebutkan bahwa Yaqub (Israil) murka kepada Ruben. Akibat dari peristiwa tersebut, Ruben kemudian mendapatkan hukuman, di antaranya bahwa keturunannya tidak akan mewarisi kepemimpinan Yaqub maupun hak kesulungannya, yang kemudian dialihkan. 

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa hak itu berpindah kepada Nabi Yusuf A.S, sementara dalam versi Rabi Yahudi, hak tersebut dialihkan kepada Yahudza (Yehuda). Adapun keimaman diberikan kepada Levi. Sebagaimana 1 Tawarikh 5:1-2:

5:1 Anak-anak Ruben, anak sulung Israel. Dialah anak sulung, tetapi karena ia telah melanggar kesucian petiduran ayahnya, maka hak kesulungannya diberikan kepada keturunan dari Yusuf, anak Israel juga, sekalipun tidak tercatat dalam silsilah sebagai anak sulung. 5:2 Memang Yehudalah yang melebihi saudara-saudaranya, bahkan salah seorang dari antaranya menjadi raja, tetapi hak sulung itu ada pada Yusuf."

Kesulungan dalam konteks ini dipahami sebagai hak istimewa dalam menentukan garis kepemimpinan di antara kedua belas anak Nabi Yaqub A.S, yang kemudian berkembang menjadi dua belas suku. Pemegang hak tersebut dipandang sebagai pihak yang memiliki legitimasi dalam penentuan arah keturunan.

Dari kisah tersebut, ditemukan satu kontroversi pertama yang berkaitan dengan Ruben. Dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Yusuf, ketika diceritakan bahwa saudara-saudara Yusuf A.S berkumpul untuk merencanakan tindakan yang tidak baik (disebutkan rencana pembunuhan) dan disebutkan secara umum adanya salah satu di antara mereka yang mengatakan agar Yusuf tidak dibunuh. Dalam Alkitab, kisah ini dijelaskan dengan lebih rinci, termasuk penyebutan tokoh yang memberikan usulan agar tidak dilakukan pembunuhan, yaitu Ruben. 

Dari sini dapat dilihat adanya titik keselarasan, karena Al-Qur’an sendiri mengakui bahwa terdapat informasi dari riwayat (kitab) terdahulu yang dapat dibenarkan selama senafas dengan kebenaran yang bersumber dari para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad SAW juga menegaskan bahwa “Jangan engkau mendustakan seluruhnya, dan jangan pula membenarkan seluruhnya.” Artinya, terdapat informasi yang masih bersih dan benar dari kitab sebelumnya yang kemudian disaring dan ditimbang kembali dalam perspektif Al-Qur’an.

Maka yang menjadi persoalan oleh Al-Qur’an adalah, pertama, dari mana sumber kisah yang menyebutkan bahwa Ruben, anak Nabi Ya’qub A.S melakukan perbuatan zina dengan ibu mahramnya sendiri dan istri Nabi? Tentu, hal ini menjadi persoalan yang sangat serius. Sebab, dalam Al-Qur’an sendiri, Nabi Ya’qub A.S. beserta keluarganya, justru diangkat derajatnya dan dimuliakan, tanpa sedikit pun menghadirkan narasi semacam itu.

Dari kontroversi narasi pertama ini, muncul pertanyaan dan kecaman terhadap bentuk-bentuk penyampaian informasi seperti itu. Al-Qur’an sendiri memberikan peringatan keras terhadap perubahan terhadap isi kitab suci demi kepentingan sesaat atau motif tertentu, yang pada akhirnya dapat menyesatkan generasi setelahnya. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 79:

فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ

"Celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah,” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah..."

Perlu ditegaskan bahwa secara nalar sehat, bagaimana mungkin seorang anak melakukan perbuatan zina dengan ibu kandungnya sendiri, yang dalam hal ini termasuk mahram, sementara diketahui ia memiliki saudara-saudara, dan ayahnya adalah seorang nabi. Di sisi lain, dalam sebagian narasi, Ruben juga digambarkan sebagai seorang anak yang baik.

Syam’un dan Levi, Putra Yaqub

Dalam narasi Alkitab disebutkan terdapat dua persoalan yang dikaitkan dengan Syam’un dan Levi, putra Nabi Yaqub A.S. Persoalan pertama adalah keterlibatan keduanya sebagai inisiator dalam persekongkolan untuk mencelakakan Yusuf kecil.

Dalam Al-Qur’an tidak selalu disebutkan secara eksplisit nama pelaku dalam suatu peristiwa, melainkan kerap digunakan penyebutan lebih umum seperti “saudara-saudara Yusuf”. Hal ini merupakan adab penyampaian dalam Al-Qur’an. Ketika terdapat suatu peristiwa yang mengandung keburukan, kesalahan atau kekeliruan, Al-Qur’an tidak pernah menyinggung nama secara langsung, seperti Firaun atau Abu Lahab, melainkan sebagai gelar atau sebutan lainnya. Ini bertujuan menjaga makna agar tidak menimbulkan stigma terhadap nama tertentu, mengingat nama-nama pada dasarnya memiliki makna yang baik. Misalnya nama Syam’un yang bermakna “yang mendengar”, tidak kemudian dipersepsikan buruk akibat suatu perbuatan yang keliru jika namanya disebut secara spesifik. Oleh karena itu, dalam kisah Nabi Yusuf A.S, Al-Qur’an menggunakan istilah “ikhwan Yusuf” (saudara-saudara Yusuf), dan selanjutnya dijelaskan bahwa mereka kemudian menyadari kesalahan, bertaubat, serta memperbaiki diri. Wallahu A’lam.

Persoalan kedua yang disebutkan dalam Alkitab, Kitab Kejadian pasal 34 ayat 1–31. Dikisahkan bahwa Dina, saudari dari Syam’un dan Levi, mengalami peristiwa tragis ketika ia terlihat oleh Sikhem, putra Hemor, seorang penguasa wilayah orang Hewi. Dalam teks tersebut (Kejadian 34:2) dijelaskan bahwa Sikhem kemudian membawa Dina dan memperkosanya.

34:2 Ketika itu terlihatlah ia oleh Sikhem, anak Hemor, orang Hewi, raja negeri itu, lalu Dina itu dilarikannya dan diperkosanya.

Peristiwa ini menimbulkan kemarahan di antara saudara-saudaranya. Syam’un dan Levi kemudian merancang strategi pembalasan. Mereka kemudian mengajukan syarat kepada Sikhem beserta kelompoknya agar seluruh laki-laki di wilayah tersebut melakukan sunat (Perlu dicatat bahwa praktik sunat telah dikenal jauh sebelumnya, bahkan telah ada sejak masa Nabi Ibrahim A.S). Jadi, diberitakan kepada pihak Sikhem untuk sunat dengan alasan untuk memperoleh keberkahan, kebaikan, dan kesucian. Ketika para laki-laki dari kaum Sikhem masih berada dalam kondisi lemah dan dalam masa pemulihan, Syam’un dan Levi kemudian melancarkan serangan dan membunuh mereka (lebih lanjut dapat dilihat dalam Kitab Kejadian 34:13–29).

Berita tersebut akhirnya sampai kepada Nabi Yaqub A.S., sehingga beliau diliputi kemarahan - Kitab Kejadian 34:30:

34:30 Yakub berkata kepada Simeon dan Levi: "Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.

Dalam kondisi itu, Nabi Yaqub A.S menegur dan mempertanyakan tindakan mereka, lalu menetapkan hukuman sebagai akibat atas perbuatan tersebut. Di antara hukuman itu, disebutkan bahwa Levi ditetapkan untuk menjadi pelayan, sedangkan Syam’un tidak memperoleh bagian dalam pewarisan keturunan.

Yahudza Putra Yaqub

Px    enulis sedikit mengalami kebingungan dalam menjelaskan sosok Yahudza. Ia dikenal sebagai salah satu putra Yaqub yang memiliki karakter kepemimpinan kuat serta bertanggungjawab. Namun demikian, terdapat pula catatan persoalan yang melekat pada dirinya, yaitu pertama keterlibatannya dalam peristiwa persengkongkolan terhadap Nabi Yusuf A.S dan kedua sebagaimana disebutkan dalam Alkitab, dalam Kitab Kejadian 38:1-30, mengenai peristiwa dengan Tamar yang merupakan menantunya, yang dalam narasi tersebut dikisahkan terjadi hubungan di luar ketentuan moral dalam kata lain (maaf) berzina. Secara garis besar, peristiwa tersebut dipandang berada di luar nalar sehat, khususnya jika dilihat dari perspektif Al-Qur’an.

Persoalan dari hubungan keduanya sebagaimana diceritakan dalam Alkitab menyebutkan bahwa dari hubungan tersebut lahir dua anak, yaitu Peres dan Zerah. Dari Peres inilah kemudian ditelusuri garis keturunannya yang dalam kitab Injil disebut bersambung pada Yesus atau Isa. Hal ini tercatat dalam Injil Matius pasal 1:1–16 dan Injil Lukas 3:23–34. Menariknya, terdapat perbedaan jumlah silsilah antara kedua Injil tersebut, di mana dalam Matius tercatat 41 generasi, sedangkan dalam Lukas tercatat 57 generasi.

Pertanyaannya, mengapa ada dikisahkan suatu peristiwa yang dianggap berada di luar nalar sehat, yakni peristiwa hubungan zina dengan menantunya, yang kemudian disebut-sebut menurunkan garis keturunan hingga kepada Maria, yang juga dikisahkan, Maria mengandung anak dari Yusuf (suaminya), dan kelak melahirkan Yesus kemudian kelak menjadi Kristus.

Untuk meluruskan kisah tersebut, Al-Qur’an dijadikan sebagai parameter dalam mengukur kebenaran suatu narasi dari kitab-kitab sebelumnya, agar tidak terjadi misinformasi atau penyampaian informasi yang keliru. Hal ini dapat dilihat dalam Q.S. Maryam, yang mengisahkan bagaimana Ibunda Maryam dibersihkan dari segala tuduhan dan dimuliakan oleh Allah, demikian pula kedudukan Nabi Isa A.S. yang ditegaskan sebagai salah satu nabi yang mulia.

Terdapat sesuatu kontradiktif, bahwa dalam Al-Qur’an dijelaskan bagaimana kemuliaan nasab keturunan Nabi Ya’qub A.S melalui peristiwa taubat saudara-saudara Nabi Yusuf A.S, yang kemudian dimintakan ampun oleh Nabi Ya’qub A.S kepada Allah SWT atas niat mereka untuk kembali dan memperbaiki diri. Di sisi lain, dalam Alkitab terdapat narasi yang bagaimana mungkin seorang anak dari seorang nabi melakukan perbuatan zina, bahkan dengan menantunya sendiri.

Sebenarnya dari penjabaran kisah tersebut dalam catatan ini tidak serta merta tanpa penjelasan argumentatif (di lain kesempatan akan penulis jabarkan, In sya Allah). Bagaimana penjelasan argumentatif yang seharusnya dan tepat dari berbagai referensi-referensi Alkitab, misalkan mengapa keturunannya demikian? segalanya tercantum dalam Alkitab pula.

Akan tetapi, poin yang ingin penulis sampaikan kepada pembaca ialah bagaimana kemudian Al-Qur'an memberikan satu gambaran yang sangat indah terhadap suatu kisah secara sistematis dan proporsional. Kata Al-Qur'an bahwa ini ditimbang, apakah narasi tersebut masuk akal atau tidak, apakah selaras dengan rujukan sejarah yang ada. Maka Al-Qur'an menampilkan surah seperti Surah Yusuf. Juga Surah Maryam untuk membebaskan Nabi Isa A.S dari tuduhan tuduhan (seperti disebutkan sebelumnya bahwa nasabnya berbuat demikian), mengisahkan seorang perempuan, ibunya Nabi Isa A.S yang begitu sangat mulia, kakek-neneknya yang begitu mulia, kakeknya Imran yang dikisahkan oleh Al-Qur'an dalam surah Al 'Imran bahkan nasab kemulian keluarganya.

Maka Al-Qur'an memberikan perspektif bahwa silakan diuji, apakah benar kisahnya demikian. Menariknya, selain Al-Qur'an memberikan informasi, juga memberikan ruang pilihan bahwa "Jika anda yakin, silakan ikuti dan jika tidak yakin, silakan kembali pada pendirian masing-masing. Tentunya segalanya kembali kepada Allah SWT dengan konsekuensi yang telah pilih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat 108:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًا ۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Janganlah kamu memaki (sesembahan) yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa (dasar) pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." 

Selanjutnya, Issachar dan Zabalun putra Nabi Yaqub A.S serta lainnya tidak terlalu banyak disebutkan kisahnya, kecuali disebutkan terlibat dalam persengkongkolan dalam mencelakakan saudaranya Nabi Yusuf A.S.

Nabi Yaqub A.S (Israil) beserta Keturunannya Hijrah ke Mesir

Diketahui Ruben memiliki tiga orang anak, Syam‘un enam orang anak, Levi tiga orang anak, Yahudza lima orang anak, Issachar empat orang anak, dan Zabulun tiga orang anak. Dari Nabi Yusuf A.S. lahir dua orang anak, yaitu Manasye dan Efraim, sedangkan saudaranya, Bunyamin, memiliki sepuluh orang anak. Adapun dari Gad lahir tujuh orang anak, Asyur empat orang anak, Dan satu orang anak, serta Naftali empat orang anak. 

Singkatnya, Nabi Ya‘qub A.S bersama seluruh keturunannya kemudian berhijrah ke Mesir, tempat Nabi Yusuf A.S menetap. Diriwayatkan, masa itu, Nabi Yusuf A.S dikenal sebagai sosok terpandang di Mesir. Sejumlah riwayat menyebut sebagai bendahara negara (sering diidentifikasi sebagai menteri keuangan), perdana menteri, maupun disebut menggantikan kedudukan Putifar.

Diriwayatkan bahwa Bani Israil menetap di Mesir selama ± 400 tahun. Di sanalah inilah mereka berkembang dan beranak-pinak. Juga di sanalah wafatnya Nabi Ya’qub A.S, Nabi Yusuf A, serta ibu-ibu dan saudara-saudara mereka. Hal menarik yang diabadikan dalam Al-Qur’an adalah ketika keluarga Nabi Ya’qub A.S memutuskan untuk berhijrah dan bergabung dengan Nabi Yusuf A.S di Mesir. Pada momen tersebut, mereka terlebih dahulu menyadari dan menyesali perbuatan mereka di masa lalu, khususnya tindakan yang pernah mencelakai Nabi Yusuf A.S semasa kecil. Mereka kemudian memohon kepada ayah mereka agar dimintakan ampunan kepada Allah SWT, dan Nabi Ya’qub A.S pun mendoakan pengampunan bagi anak-anaknya. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surah Yusuf ayat 97-98.

"97 Mereka (anak-anak Ya‘qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah. 98 Dia (Ya‘qub) berkata, "Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Diksi Yahudi di Dalam Al-Qur'an 

Dalam kajian linguistik Arab, kata taubat berasal dari akar kata tāba–yatūbu (تَابَ – يَتُوبُ) yang bermakna “kembali” atau “berbalik”. Dalam bentuk lain, ditemukan pula akar kata hāda (هَادَ) yang memiliki makna serupa, yakni “kembali (kepada kebenaran)”. Bentuk jamaknya adalah hādū (هَادُوا), yang secara bahasa dimaknai sebagai “orang-orang yang kembali (bertaubat)”.

Menariknya, dalam Al-Qur’an, diksi hādū ( هَادُوا ) kerap digunakan untuk merujuk kepada kaum Yahudi, khususnya dalam frasa alladzīna hādū ( الَّذِينَ هَادُوا ) yang secara umum diterjemahkan sebagai “orang-orang Yahudi”. Salah satu contohnya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 62:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِــِٕيْنَ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabiin,..."

Pada ayat tersebut, penggunaan kata hādū ( وَالَّذِيْنَ هَادُوْا )dalam terjemahan Indonesia dipadankan dengan “Yahudi”. Secara linguistik, hal ini menimbulkan pertanyaan, sebab Al-Qur’an juga menggunakan diksi lain yang lebih eksplisit untuk menyebut “Yahudi”, yaitu al-yahūd الْيَهُودَ ), yang terdapat dalam Surah Al-Ma’idah ayat 82.

Perbedaan penggunaan dua diksi ini telah menjadi perhatian para ulama tafsir, seperti Ibnu Jarir ath-Tabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa istilah hādū tidak sekadar menunjuk identitas etnis atau agama, tetapi juga memiliki akar makna historis dan spiritual.

Ibnu Jarir ath-Tabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menyebutkan bahwa istilah "hādū" berasal dari kata al-hawd atau al-hayd, yang bermakna “kembali”, merujuk pada pernyataan kaum Nabi Musa A.S.

اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ
"...Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau..." (Q.S Al-A'raf:156)

Dari ungkapan inilah, menurut sebagian ulama, muncul penamaan “Yahud”, yakni kaum yang pernah menyatakan kembali (bertaubat) kepada Allah SWT. Penjelasan serupa juga dapat ditemukan dalam tafsir Ibnu Katsir, yang menegaskan bahwa penamaan tersebut berkaitan dengan peristiwa taubat Bani Israil. 

Tatkala Bani Israil menetap di negeri Mesir selama ± 400 tahun, muncullah kemudian berbagai gejolak sosial dalam kehidupan masyarakat Mesir kala itu. Seiring berjalan waktu, tampillah seorang penguasa keras, kejam atau zalim yang dalam Al-Qur’an tidak disebutkan nama dirinya, melainkan hanya gelarnya, yaitu Firaun. Di bawah kekuasaannya, generasi-generasi Bani Israil mengalami penindasan dan dijadikan budak. Hingga pada suatu masa, Allah SWT mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang berasal dari keturunan Nabi Ya‘qub A.S, tepatnya dari jalur Levi. Dari garis keturunan ini lahirlah Imran bin Qahats, yang kemudian dikaruniai tiga orang anak, yaitu Maryam, Harun, dan Musa. Kelak, Nabi Musa A.S akan memainkan peran sentral sebagai pembebas Bani Israil, memimpin kaumnya keluar dari penindasan, dan menyelamatkan mereka dari kejaran Firaun.

Demikianlah pembahasan pada bagian ini. Pada bagian selanjutnya, akan diuraikan secara lebih mendalam kisah Nabi Musa A.S., khususnya mengenai kondisi Bani Israil di bawah kekuasaan Firaun, gambaran penindasan dan sistem perbudakan yang mereka alami, serta proses yang mengantarkan mereka menuju pembebasan dari penindasan tersebut.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

- Follow untuk mendapatkan Informasi part selanjutnya... -

Comments