Oded Yinon Plan

 Blueprint Rahasia Pecah Belah Timur Tengah?


Pernahkah dengar tentang Oded Yinon Plan? sebuah gagasan yang kerap disebut-sebut sebagai cetak biru tersembunyi di balik dinamika konflik Timur Tengah. Berawal dari sebuah tulisan tahun 1982 berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties", konsep ini sering dikaitkan dengan strategi untuk memanfaatkan keretakan etnis dan sektarian di negara-negara Arab, sehingga kawasan tersebut terfragmentasi menjadi entitas-entitas kecil. Ini bukan sekadar analisis geopolitik biasa, melainkan potongan puzzle yang dianggap relevan dengan berbagai konflik yang terus berulang hingga hari ini.

Oded Yinon Plan

Istilah Oded Yinon, yang kini lebih dikenal sebagai “Yinon Plan”, merujuk pada sebuah jurnal esai yang dipublikasikan pada Februari 1982 dalam jurnal berbahasa Ibrani Kivunim, yang dalam terjemahan bahasa Inggris berarti Directions atau “Arahan”. (1)

Jurnal ini berjudul A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties atau Strategi untuk Israel pada 1980-an. Journal ini untuk Yudaisme dan Zionisme, Issue no. 14 – Winter, 5742, Februari 1982, Editor: Yoram Beck. Komite Editorial: Eli Eyal, Yoram Beck, Amnon Hadari, Yohanan Manor, Elieser Schweid. Diterbitkan oleh Departemen Publisitas - Organisasi Zionis Dunia, Yerusalem.

Barangkali muncul pertanyaan, apa alasan kaum Zionis menyebarluaskan dokumen ini? Penjelasannya dikemukakan oleh Israel Shahak, yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Ia berpendapat bahwa tujuan publikasi tersebut adalah agar komunitas Yahudi di seluruh dunia dapat memahami sekaligus memberikan dukungan terhadap arah strategi politik Israel.

Dalam perhitungan mereka -- yang hingga kini terbukti bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah dinilai tidak akan memberikan perhatian serius terhadap dokumen tersebut, serta cenderung tidak mengambil tindakan strategis guna menghadapi rencana dan strategi jangka panjang Zionis.

Kivunim tersebut diterbitkan secara berkala triwulanan (per tiga bulan) (2) yang didedikasikan untuk studi Yudaisme dan Zionisme yang muncul antara tahun 1978 dan 1987 (3) dan diterbitkan oleh “the World Zionist Organization’s department of Information” atau departemen Informasi Organisasi Zionis Dunia yang berada di Yerusalem. (4)

Jurnal itu ditulis oleh Oded Yinon, seorang mantan penasihat Ariel Sharon, mantan pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Israel dan jurnalis untuk The Jerusalem Post. (7)

Istilah (Yinon Plan) ini dikutip sebagai titik awal dari mengkarakterisasi proyek-proyek politik di Timur Tengah dalam hal logika perpecahan sektarian (sectarian divisions). (8)

Istilah ini berperan dalam dua ranah kajian sekaligus. Dalam analisis resolusi konflik, sejumlah sarjana menilai konsep tersebut turut memberi pengaruh terhadap perumusan kebijakan pemerintahan Amerika Serikat era George W. Bush (9). Di sisi lain, dalam kerangka teori konspirasi, tulisan tersebut dianggap telah memprediksi atau bahkan merancang berbagai peristiwa politik besar di Timur Tengah sejak dekade 1980-an, mencakup invasi Irak tahun 2003 beserta jatuhnya Saddam Hussein, konflik sipil di Suriah, hingga kebangkitan Negara Islam.

Muncul klaim bahwa artikel Yinon telah diadopsi anggota “Institute for Zionist Strategies” dalam pemerintahan Amerika Serikat. Langkah ini dianggap sebagai metode guna memajukan kepentingan Amerika di Timur Tengah, sekaligus mewujudkan impian bangsa Yahudi membentuk negara Zionis dengan bentang wilayah “dari sungai Nil di Mesir hingga sungai Eufrat di Irak”. Cakupan wilayah tersebut meliputi sebagian besar kawasan Timur Tengah, sebagaimana termaktub dalam Alkitab Ibrani (Hebrew Bible). (10)

The Arab Springs

Jurnal esai tersebut memicu lahirnya gagasan dalam suatu proyek sangat rahasia. Proyek ini terus berjalan hingga kini guna menumbangkan sekaligus memecah belah bangsa-bangsa di Timur Tengah. Fenomena tersebut dikenal pada masa kini sebagai The Arab Springs atau “Musim Semi Arab”, atau dalam istilah mereka disebut “Kebangkitan Dunia Arab”.

The Arab Spring merupakan gelombang revolusi berupa serangkaian protes anti-pemerintah, demonstrasi, unjuk rasa, serta pemberontakan bersenjata. Fenomena ini menyebar di seluruh wilayah Timur Tengah pada penghujung 2010. Gejolak tersebut bermula sebagai bentuk tanggapan atas kepemimpinan rezim menindas serta rendahnya standar hidup masyarakat. Rentetan peristiwa bermula lewat aksi protes di Tunisia sejak 18 Desember 2010. Skala konflik kemudian meluas ke Mesir, memicu perang saudara di Libya, hingga mengakibatkan pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah, dan Yaman.

Juga terjadi protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, dan Oman, serta protes kecil di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat. Kerusuhan di perbatasan Israel bulan Mei 2011 juga terinspirasi oleh kebangkitan dunia Arab ini.

Arab Springs pada tahun 2011. Hingga kini beberapa negara Arab masih diadu domba melalui intelijen asing sebagai phak ketiga agar selalu perang saudara.

Protes ini menerapkan teknik pemberontakan sipil melalui kampanye bermuatan serangan, demonstrasi, serta pawai. Pemanfaatan media sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Skype berperan penting sebagai alat organisasi, sarana komunikasi, hingga media peningkat kesadaran publik terhadap berbagai usaha penekanan maupun penyensoran internet oleh pihak pemerintah.

Pihak berwajib, milisi, serta pengunjuk rasa pro-pemerintah menanggapi keras berbagai aksi unjuk rasa. Slogan para demonstran di dunia Arab berbunyi “Ash-sha`b yurid isqat an-nizam”, memiliki arti “Rakyat ingin menumbangkan rezim ini”.

Laporan berita tersebut menggemborkan media sosial sebagai kekuatan pendorong utama di balik penyebaran revolusi secara cepat bagai kanker di Timur Tengah bahkan seluruh dunia. Berbagai protes baru bermunculan sebagai bentuk tanggapan atas kisah sukses yang dibagikan dari yang terjadi di negara lain.

Dari Timur Tengah, efek Arab Spring kemudian mendunia, seperti terjadi di benua Afrika yaitu di Djibouti, Ivory Coast, Gabon, Malawi, Mali, Mozambique, Uganda, dan Zimbabwe. Protes terhadap pemerintah juga terjadi di benua Eropa seperti di Bosnia dan Herzegovina, Yunani,  Russia, Spanyol, Turki, Ukraina bahkan di Inggris Raya. Sementara di benua Asia yang terkena dampaknya terjadi di Armenia, Azerbaijan, China,  Tibet, Kurdistan di Irak, Iran, Malaysia, Maldives, Myanmar, Korea Utara dan Vietnam bahkan Israel.

Aksi protes di Israel, dikenal sebagai "Protes Perumahan Israel 2011", merupakan rangkaian demonstrasi jalanan sepanjang wilayah Israel sejak 14 Juli 2011. Gelombang aksi ini mencatatkan sejarah demonstrasi terbesar di negara tersebut pada 3 September 2011. Momentum tersebut melibatkan 460.000 pengunjuk rasa secara nasional, mencakup 300.000 massa di Tel Aviv saja.

Protes Perumahan Israel, di Tel Aviv 2011

"Protes Perumahan Israel 2011" bermula pasca aksi protes sekelompok warga Israel melalui Facebook. Langkah tersebut memicu ratusan orang berkemah dalam tenda pada pusat kota Tel Aviv, tepatnya di Rothschild Boulevard. Gerakan ini segera meraih momentum besar sekaligus mengawali wacana publik nasional terkait tingginya biaya perumahan serta beban hidup. Gelombang protes meluas cepat menuju berbagai kota lain. Ribuan demonstran mulai mendirikan tenda di tengah jalan-jalan utama sebagai bentuk keberatan mereka atas lonjakan harga properti di Israel, khususnya pada kota-kota besar negara tersebut.

Penelitian media serta ilmiah membuktikan protes tersebut terinspirasi fenomena Arab Spring tengah berlangsung. Meski demikian, aksi protes di Israel umumnya bersifat non-kekerasan.

Di benua Amerika juga tak ketinggalan tersulut efek Arab Spring, seperti di Argentina, Bolivia, Brazil, Ekuador, Mexico, dan Amerika Serikat, bahkan hingga ke negara kepulauan di Pasifik, yaitu Fiji.

Serangkaian demonstrasi melanda Amerika Serikat sejak 14 Februari 2011 hingga 12 Maret 2011. Aksi ini melibatkan puluhan ribu partisipan, mencakup anggota serikat pekerja, mahasiswa, serta elemen warga lainnya. Fokus utama protes menitikberatkan pada regulasi perundingan bersama. Gelombang massa berpusat di sekitar Wisconsin State Capitol, Madison, Wisconsin. Selain itu, aksi serupa berskala lebih kecil meletus di kota Milwaukee dan Green Bay. Pergerakan turut meluas ke berbagai kampus, antara lain Universitas Wisconsin-Madison serta University of Wisconsin-Milwaukee, hingga merambah ke ibukota negara bagian Ohio, yakni Columbus.

Ribuan orang berkumpul di luar gedung Capitol Wisconsin untuk memprotes tagihan Gubernur Walker. Pertemuan itu diperkirakan mencapai 70.000 hingga 100.000 orang.

Serangkaian demonstrasi yang terjadi di Amerika Serikat dianggap terinspirasi oleh Revolusi Mesir 2011 dalam rentetan Arab Spring oleh ketua Komite Anggaran Amerika Serikat tentang Anggaran, Paul Ryan dan resesi akhir tahun 2000-an.

Dampak politik akibat Arab Spring justru merambah hingga ke Prancis, ditandai pengunduran diri Menteri Luar Negeri Michele Alliot-Marie. Di sisi lain, pemerintah Israel segera memerintahkan penyelidikan atas kegagalan fungsi intelijen. Hal tersebut dipicu pernyataan Kepala Intelijen IDF, Aviv Kochavi, saat protes di Mesir dimulai; ia menyebut pemerintahan Mesir tidak berada dalam ancaman keruntuhan.

Sementara itu, dampak politik akibat Arab Spring terasa hingga Inggris Raya: Howard Davies dari London School of Economics mengundurkan diri akibat dukungan moneter lembaga tersebut berasal dari Libya. Di Amerika Serikat, Presiden Barack Obama, Sekretaris Pertahanan Robert Gates, Direktur CIA Leon Panetta, Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, beserta pejabat tinggi lainnya serta lembaga pemerintah terkejut melihat pemberontakan-pemberontakan tersebut. Mereka dituduh memimpin kegagalan intelijen besar-besaran.

Dampak the Arab Spring.

Argumentasi Jurnal Esai “Oded Yinon Plan”

Yinon berpendapat dunia tengah menyaksikan era baru dalam sejarah tanpa preseden ((hal yang telah terjadi lebih dahulu dan dapat dipakai sebagai contoh). Kondisi ini membutuhkan pengembangan perspektif baru serta strategi operasional guna mengimplementasikannya. Saat ini, fondasi rasionalis dan humanis peradaban Barat berada dalam kondisi runtuh. (11)

Blok Barat hancur sebelum serangan gabungan Uni Soviet beserta banyak Negara Dunia Ketiga. Fenomena tersebut ia yakini terjadi beriringan dengan meningkatnya sentimen anti-Semitisme. Seluruh kondisi ini bermuara pada kesimpulan bahwa Israel bakal menjadi tempat perlindungan terakhir bagi kaum Yahudi guna mencari keselamatan. (12)

Kekuatan kekaisaran, yakni Perancis serta Inggris, telah membagi wilayah dunia Muslim Arab di sekeliling Israel secara sewenang-wenang. Wilayah tersebut kini terpecah belah menjadi 19 negara dengan komposisi etnis heterogen. (13)

Negara-negara tersebut dianggap sekadar “rumah sementara bagi kartu-kartu susunan pihak asing”. Gagasan mengenai Pan-Arabisme sebagai “a house of cards” atau rumah kartu runtuh telah diperdebatkan Fouad Ajami beberapa tahun sebelumnya (14), kawasan ini terdiri atas etnis minoritas serta mayoritas saling bermusuhan. Pasca-kehancura menjadi kepingan wilayah kekuasaan feodal, entitas tersebut tidak akan lagi mampu menantang Israel menurut interpretasi Ahmad. (15)

Faktor-faktor sentrifugal bakal memicu dinamika fragmentasi. Meski kondisi tersebut sangat berbahaya, ia menawarkan berbagai peluang bagi Israel, peluang tersebut gagal dieksploitasi pada tahun 1967. (13)

Fouad Ajami

Fouad Ajami mulai menganalisis berbagai titik lemah negara-negara Arab. Ia mengutip hal-hal dianggapnya sebagai kelemahan dalam struktur nasional serta sosial mereka. Analisis tersebut menyimpulkan Israel harus bertujuan membawa fragmentasi dunia Arab ke dalam mosaik pengelompokan etnis dan pengakuan. (6)

“Setiap jenis konfrontasi antar-Arab, akan terbukti menguntungkan bagi Israel dalam jangka pendek,” kata Fouad Ajami. (16)

Fouad Ajami memandang berbagai peristiwa kontemporer di Lebanon sebagai cermin bagi perkembangan masa depan seluruh dunia Arab. Gejolak tersebut dinilai bakal menciptakan sebuah “preseden” (hal telah terjadi lebih dahulu serta dapat dipakai sebagai contoh). Fenomena ini berfungsi membimbing strategi jangka pendek maupun jangka panjang Israel.

Ia memberikan penegasan khusus mengenai fokus utama kebijakan. Tujuan jangka pendek harus menyasar pembubaran kemampuan militer negara-negara Arab pada sisi timur Israel. Sementara itu, target jangka panjang utama berfokus mewujudkan pembentukan wilayah unik berdasarkan identitas etnonasional serta agama. (17).

Cetak Biru (Blueprint) untuk Timur Tengah

    • Libya

    Zionis Israel melakukan kebohongan terhadap Presiden Libya, Muammar Gaddafi. Agen Mossad Zionis Israel menanamkan pemancar radio di kompleks kediaman Gaddafi di Tripoli, Libya. Perangkat tersebut digunakan guna menyiarkan transmisi teroris palsu.

    Seorang agen Mossad memberi pengakuan mengenai operasi intelijen "Bendera Palsu" (False Flag Operation) pada 1984. Mossad melancarkan aksi tersebut lewat penanaman pemancar radio di dalam kompleks kediaman Gaddafi di Tripoli, Libya.

    Mossad menyiarkan transmisi teroris palsu, rekaman tersebut sebelumnya telah dipersiapkan melalui pemancar tertanam milik mereka. Tindakan ini bertujuan menuduh Gaddafi sebagai pendukung teroris. Segera setelah operasi intelijen False Flag tersebut terlaksana, Ronald Reagan membom serta menyerang Libya guna membunuh pemimpin negara itu.

    • Mesir

    Yinon mengira pertemuan Camp David Accords tahun 1978, yakni perjanjian damai besutan Menachem Begin dan Anwar Sadat, merupakan sebuah kesalahan.

    Yinon menyatakan klaim mengenai salah satu tujuan Israel pada dekade 1980-an, yaitu “pembongkaran Mesir”. Ia menggambarkan negara tersebut sebagai sebuah “mayat”. Upaya ini bertujuan membangun kembali “status quo ante” (kondisi sebelum peperangan terjadi) saat Israel memegang kendali atas Semenanjung Sinai. (12)

    Yinon berharap menyaksikan pembentukan negara Kristen Koptik di perbatasan utara Mesir, namun rencana tersebut urung terjadi. Harapan Yinon tersemat pada invasi cepat Israel ke Sinai berlandaskan pemicu berupa pelanggaran persyaratan perdamaian bentukan Amerika Serikat oleh Mesir pada masa depan. Skenario tersebut gagal terwujud di bawah kepemimpinan Hosni Mubarak. (16)

    • Jordania dan Palestina Tepi Barat (West Bank)

    Dalam laporan mengenai kebijakan luar negeri Rusia serta masyarakat Arab, Yevgeny Primakov, politisi sekaligus diplomat Rusia dengan masa jabatan Perdana Menteri tahun 1998 sampai 1999, mengontekstualisasikan makalah Yinon. Ia mengaitkan tulisan tersebut dengan isi pernyataan mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, George Ball. Pernyataan George Ball ini disampaikan melalui kesaksian pada Agustus di hadapan pertemuan Komite Urusan Luar Negeri Senat AS.

    George Ball membahas invasi Israel kedua ke Lebanon (7), Juni sebelumnya, merujuk percakapan dengan Ariel Sharon. Sharon menyatakan strategi jangka panjangnya terdiri atas upaya menekan orang-orang Palestina keluar dari Tepi Barat. Ia hanya memungkinkan secukupnya saja dari mereka tetap tinggal untuk bekerja (5).

    Makalah Yinon menyarankan bahwa kebijakan Israel, baik dalam perang dan perdamaian, harus bertujuan untuk satu tujuan: ‘likuidasi Jordan’ sebagaimana diperintah oleh Kerajaan Hashemite, bersama dengan peningkatan migrasi Palestina dari Tepi Barat ke Yordania timur. (5) (16)

    Pembubaran Jordania, pikir Yinon, akan mengakhiri masalah keberadaan konsentrasi padat warga Palestina di wilayah Palestina yang ditaklukkan Israel dalam Perang Enam Hari (the Six-Day War) pada tahun 1967, yang memungkinkan mereka dihanyutkan ke wilayah bekas kerajaan itu. (18)

    • Lebanon
    Makalah Yinon seakan “memberi makan” konspirasi lama Lebanon terhadap integritas teritorialnya sejak tahun 1943, yang menurutnya negara tersebut akan dikantonisasi menurut garis etno-nasionalis. Khususnya selama tahun 1970-an. (19)

    Gagasan tersebut mulai berkembang pesat, terutama pasca pecahnya perang saudara Lebanon tahun 1975. Konsep ini kemudian dikaitkan dengan sosok Henry Kissinger. Diplomasi Timur Tengah miliknya dinilai sangat merugikan kepentingan Lebanon. Selain itu, Kissinger dikabarkan merencanakan pembagian wilayah Lebanon menjadi dua negara terpisah. (20).

    • Irak
    Yinon menganggap Irak, dengan kekayaan minyaknya, sebagai ancaman terbesar Israel. Dia percaya bahwa Perang Iran-Irak akan memecah Irak, yang pembubarannya harus menjadi tujuan strategis Israel.

    Dia juga membayangkan munculnya tiga pusat etnis, Syiah yang memerintah dari Basra, dan Sunni dari Baghdad, serta Kurdi dengan ibukota di Mosul, masing-masing daerah berjalan di sepanjang garis divisi administrasi bekas Kekaisaran Ottoman. (16)

    • Syiriah (Suriah)

    Syiria diadu domba lagi-lagi berdasarkan salah satu kartu As terbaik pro-Zionist, yaitu: Konflik Sunni-Syiah. Peperangan sipil antar saudara setanah air ini kemudian disusupi oleh para intelijen Israel dan AS yang menghasut dan kemudian melatih para oposisi untuk menjadi tentara perlawanan.

    Mereka dilatih untuk menjatuhkan presiden Syiria Bashar al-Ashad, untuk melanjutkan misi rahasia The Arab Spring seperti yang pernah dilakukan mereka terhadap Muhammad Mursi (Mesir), Saddam Hussein (Irak), Muammar Qaddafi (Libya) dan presiden-presiden lainnya di Timur Tengah dengan berbagai alasan.

    Namun hal itu tak didiamkan oleh Syiria, dengan bantuan Russia dan sekutunya, mereka memberikan perlawanan atas nama pemerintahan yang syah. Russia mementingkan Syiria karena sekutunya itu memiliki wilayah hingga ke Laut Medditerania dimana Russia memerlukan pangkalannya armada baratnya disana guna menghadapi ancaman dari NATO, Israel dan AS.

    Jika dilihat dari sebagian besar konflik Arab Spring diatas, terlihat Israel ingin menguasai Jazirah Arab berdasarkan Misi Besar mereka untuk mewujudkan negara Israel Raya atau The Greater Israel. yang harus menguasai wilayah dari Sungai Nil di Mesir, hingga Sungai Eufrat di Irak.

    Sebagian Isi Oded Yinon

    Berikut ini isi dari sebagian strategi Oded Yinon tersebut:

    “Pembubaran total Lebanon ke dalam lima provinsi berfungsi sebagai acuan untuk seluruh dunia Arab, termasuk Mesir, Suriah, Iraq, dan semenanjung Arab; dan (Situasi Lebanon) sudah mengikuti jalur ini. Pembubaran Suriah dan Iraq [akan] menyusul kemudian (yaitu) pemecahan wilayah-wilayah berdasar etnis atau mazhab sebagaimana di Lebanon; ini merupakan target jangka panjang Israel untuk wilayah timur.

    Sementara itu pembubaran kekuatan militer dari negara-negara itu menjadi target jangka pendek Israel. Suriah akan terpecah menjadi beberapa negara sesuai dengan struktur etnis dan agama, seperti di Lebanon saat ini, sehingga akan ada negara Syi’ah Alawy di sepanjang pantainya, negara sunni di wilaya Aleppo, dan negara sunni lainnya di Damaskus yang akan memusuhi tetangga utaranya; Druze juga akan mendirikan negara, bahkan mungkin di wilayah Golan, dan tentu saja di Hauran dan Yordania Utara.

    Keadaan ini akan memberikan jaminan bagi perdamaian dan keamanan di kawasan dalam jangka panjang, dan tujuan ini sudah hampir bisa kita capai. 

    Irak, negara yang kaya minyak di satu sisi, dan terpecah-belah disisi lain, adalah target Israel yang pasti. Pembubaran Iraq bahkan lebih penting ketimbang Suriah. Irak lebih kuat dari Suriah. Dalam jangka pendek, kekuatan Irak merupakan ancaman terbesar Israel.

    Perang Iran-Irak akan memecah-belah Irak dan menyebabkan kekacauan internal sehingga akan mampu mengatur strategi perjuangan melawan kita di front yang luas. Segala jenis konfrontasi dengan negara-negara Arab akan membantu kita dalam jangka pendek dan akan mempersingkat jalan menuju tujuan yang lebih penting, yaitu memecah-belah, sekaligus juga memecah Suriah dan Libanon.

    Di Iraq, pembagian negara yang mungkin dilakukan adalah menjadikan sejumlah provinsi berdasarkan garis etnis atau agama sepertti di Suriah pada masa kekhalifahan Utsmaniyyah. Jadi akan ada tiga (atau lebih) negara yang muncul di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; daerah syi’ah di Selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.

    Mitos Mesir sebagai pemimpin yang kuat dari Dunia Arab dihancurkan pada tahun 1956 dan pasti tidak bertahan tahun 1967, tetapi kebijakan kami, seperti dalam kembalinya Sinai (ke Israel), disajikan untuk mengubah mitos menjadi “fakta.”

    Namun dalam kenyataannya, kekuasaan Mesir secara proporsional baik ke Israel dan ke seluruh Dunia Arab telah turun sekitar 50 persen sejak tahun 1967. Mesir tidak lagi menjadi kekuatan politik terkemuka di Dunia Arab dan ekonominya di ambang krisis. Tanpa bantuan asing krisis akan segera datang.

    Dalam jangka pendek, karena kembalinya Sinai (ke Israel), Mesir akan mendapatkan beberapa keuntungan dengan biaya kami, tetapi hanya dalam jangka pendek sampai tahun 1982, dan itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan untuk manfaatnya, dan mungkin akan membawa kejatuhannya.

    Mesir, dalam gambaran politik yang sekarang di dalam negeri sudah mati, lebih-lebih jika kita memperhitungkan tumbuhnya keretakan Muslim-Kristen. Memecah Mesir ke daerah teritorial geografis yang berbeda adalah tujuan politik Israel di era 1980-an di bagian front Baratnya.“

    Interpretasi Para Pakar

    Jenderal Wesley Clark

    Jenderal Wesley Clark, pensiunan bintang empat, telah memberikan sejumlah wawancara selama bertahun-tahun di mana ia telah mengungkapkan rencana rahasia di mana “AS akan menyerang 7 negara dalam 5 tahun“.

    Konteksnya selalu di Timur Tengah, dan tujuh negara adalah “Irak, dan kemudian Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan dan, akhirnya, Iran.”

    Dalam setiap kasus, Clark tampaknya tidak menyadari bahwa ia tanpa disadari mengungkapkan esensi dari skema rahasia yang dikenal di beberapa kalangan sebagai proyek Israel Raya.

    Pembagian info ke publik tentang bagian penting dari teka-teki Timur Tengah ini mungkin memiliki efek buruk pada karier pasca militernya.

    Sayangnya, Clark yang dipaksa pensiun oleh Angkatan Darat AS kemungkinan membuatnya jauh lebih sulit untuk mendapatkan info intelijen serupa yang memiliki tipe info sangat ekstrim berharga (extremely valuable intelligence).

    Berikut ini adalah kata demi kata yang menakjubkan dari General Clark:

    So I came back to see him a few weeks later, and by that time we were bombing in Afghanistan. I said, “Are we still going to war with Iraq?” And he said, “Oh, it’s worse than that.” He reached over on his desk. He picked up a piece of paper.

    And he said, “I just got this down from upstairs” — meaning the Secretary of Defense’s office — “today.”

    And he said, “This is a memo that describes how we’re going to ‘take out’ seven countries in five years, starting with Iraq, and then Syria, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan and, finishing off, Iran.”

    I said, “Is it classified?” He said, “Yes, sir.” I said, “Well, don’t show it to me.”

    And I saw him a year or so ago, and I said, “You remember that?” He said, “Sir, I didn’t show you that memo! I didn’t show it to you!”

    — General Wesley Clark

    Terjemahan:

    “Jadi saya kembali menemuinya beberapa minggu kemudian, dan pada saat itu kami sedang melakukan pengeboman di Afghanistan. Saya berkata, “Apakah kita masih akan berperang dengan Irak?” Dan dia berkata, “Oh, ini lebih buruk dari itu.” Dia meraih sesuatu ke atas mejanya. Dia mengambil selembar kertas.

    Dan dia berkata, “Saya baru saja turun dari lantai atas” (berarti kantor Sekretaris Pertahanan) hari ini.”

    Dan dia berkata, “Ini adalah memo yang menjelaskan bagaimana kita akan ‘mengambil’ tujuh negara dalam lima tahun, dimulai dengan Irak, dan kemudian Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan dan, berakhir, Iran.

    “Saya berkata,” Apakah ini dirahasiakan?”. Dia berkata,” Ya, pak’. Saya berkata, “Ya, jangan perlihatkan kepada saya”.

    “Jadi saya kembali menemuinya beberapa minggu kemudian, dan pada saat itu kami sedang melakukan pengeboman di Afghanistan. Saya berkata, “Apakah kita masih akan berperang dengan Irak?” Dan dia berkata, “Oh, ini lebih buruk dari itu.” Dia meraih sesuatu ke atas mejanya. Dia mengambil selembar kertas.

    – Jenderal Wesley Clark

    Sementara itu Vladimir Putin menyatakan bahwa Sumbu Anglo-Amerika (Anglo-American Axis / AAA), oleh negara-negara utama berbahasa Inggris di dunia dan sekutunya, membentuk World Shadow Government adalah organisasi supra-nasional yang sangat rahasia, yang sepenuhnya mengendalikan Axis Anglo-Amerika, serta Uni Eropa, NATO, di antara banyak entitas kelembagaan lain yang membentuk Matriks Kontrol Global dalam peperangan dan kekacauan dunia terutama di Timur Tengah guna mewujudkan Israel Raya agar dapat mengontrol dunia melalui The New World Order atau sebuah “Tatanan Dunia Baru”. 

    Anglo-American Axis (AAA):

    The Anglo-American Axis is represented, first and foremost, by the major English-speaking countries of the world: USA, UK, Canada, Australia, New Zealand and Israel.

    The European member nations of NATO, such as Germany, France, Italy, Spain, Portugal, Belgium, Luxembourg and the Netherlands are also closely aligned with the AAA as are all the Scandinavian countries.

    So are the Asian Pacific Rim nations of Japan, South Korea, Taiwan and the Philippines. Saudi Arabia, Egypt, Turkey, Pakistan, Kuwait, Jordan, Bahrain, United Arab Emirates, and Qatar also owe their allegiance to the AAA but some of these may be changing.

    The World Shadow Government is an ultra-secret, supranational organization which completely controls the Anglo-American Axis, as well as the European Union, NATO, among many other institutional entities which constitute the Global Control Matrix.

    (Source: Vladimir Putin’s Russia: Perfect Foil To The Anglo-American Axis And Their New World ‘Order’)

    terjemahan:

    Sumbu Anglo-Amerika (AAA):

    Sumbu Anglo-Amerika diwakili, pertama dan terutama, oleh negara-negara utama berbahasa Inggris di dunia: AS, Inggris, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Israel.

    Negara-negara anggota NATO di Eropa, seperti Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Portugal, Belgia, Luksemburg, dan Belanda juga sangat dekat dengan AAA seperti halnya semua negara Skandinavia.

    Begitu juga negara-negara Lingkar Asia Pasifik Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan Filipina. Arab Saudi, Mesir, Turki, Pakistan, Kuwait, Yordania, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga berutang budi kepada AAA tetapi beberapa di antaranya mungkin berubah.

    World Shadow Government adalah organisasi supranasional yang sangat rahasia, yang sepenuhnya mengendalikan Axis Anglo-Amerika, serta Uni Eropa, NATO, di antara banyak entitas kelembagaan lain yang membentuk Matriks Kontrol Global.

    (Sumber: Vladimir Putin Russia: Foil Sempurna Untuk Sumbu Anglo-Amerika Dan ‘Orde’ Dunia Baru mereka )

    Militer Rusia tidak hanya mengubah “gelombang” di Suriah – hanya dalam waktu beberapa hari – Presiden Putin telah secara meyakinkan menumbangkan skema Zio-Anglo-Amerika yang telah lama ada untuk menciptakan negara Israel Raya atau The Greater Israel.

    Penghancuran total ISIS (alias Israeli Secret Intelligence Service) adalah respons utama geopolitik Putin terhadap agenda yang berlangsung dengan cepat yang dijalankan oleh Anglo-American Axis (AAA) di seluruh Timur Tengah.

    Serangan balik Rusia sekarang sedang dilakukan dengan pemikiran besar ke depan dan strategi yang halus. Pengkhianatan Amerika terhadap kolaborator mereka yaitu ISIS, akan dicatat dalam sejarah sebagai tindakan pengkhianatan terbesar yang pernah dicatat dalam catatan sejarah kepalsuan militer atau duplikat militer.

    Negara-negara Islam pro-NATO dan zionist, telah sangat bergantung pada janji-janji dari “tuan” AS mereka, bahwa mereka akan memiliki jalan yang jelas menuju kemenangan, akhirnya tanpa takut justru bom jatuh di atas kepala, oleh “tuan” mereka sendiri.

    Tidak hanya berbagai kelompok teroris ISIS dipaksa untuk menyebar seperti tikus tanpa pemberitahuan sesaat, tentara bayaran mereka bagai mesionaris, kompensasi untuk tugas berbahaya mereka bahkan tidak termasuk.

    Untuk membuktikan kepada komunitas bangsa-bangsa dunia bahwa AS, Inggris, Prancis, Arab Saudi, dan Israel, khususnya, hanya memainkan permainan yang sangat berbahaya dan mematikan, Putin harus memberi mereka semua, negara-negara Anglo-American Axis, beberapa tali untuk “menggantung” mereka.

    Linda S. Heard, yang menulis untuk Counter Punch pada tahun 2006 silam, mengkaji kebijakan terbaru di bawah George W. Bush seperti ‘perang melawan teror” (war on terror), dan peristiwa di Timur Tengah dari Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 hingga Invasi Irak pada tahun 2003, dan menyimpulkan:

    Ada satu hal yang kita ketahui. “Rencana Zionis untuk Timur Tengah” Oded Yinon 1982 sebagian besar telah berbentuk. Apakah ini kebetulan murni? Apakah Yinon seorang paranormal yang berbakat? Mungkin! Atau, kita di Barat adalah korban dari agenda yang sudah lama dipegang bukan karena kita dan tanpa keraguan bukan untuk kepentingan kita.” (16)
    Virginia Tilley

    Virginia Tilley berpendapat bahwa ada ketegangan yang kuat antara AS sebagai hegemon global yang mengandalkan sistem negara regional yang kuat, dan kepentingan Israel dalam sistem negara yang lemah di Timur Tengah di luar perbatasannya di sisi lain.

    Virginia Tilley adalah seorang ilmuwan politik Amerika yang berspesialisasi dalam studi perbandingan konflik etnis dan ras. Dia adalah Profesor Ilmu Politik di Southern Illinois University-Carbondale di AS.

    Dalam konteks ini Tilley mengutip pandangan Yinon sebagai menjabarkan logika yang terakhir, tetapi menentukan bahwa mereka tidak cukup unik pada waktu itu, karena tulisan Ze’ev Schiff di Haaretz pada bulan yang sama, 5 Februari 1982, telah menegaskan bahwa kepentingan geostrategis Israel akan paling baik dilayani oleh fragmentasi Irak, misalnya, menjadi entitas tripartit yang terdiri dari negara-negara Syiah dan Sunni yang dihasut dari realitas Kurdi Utara.

    Michel Chossudovsky

    Ekonom Kanada Michel Chossudovsky pakar perkembangan ekonomi, globalisasi, lembaga keuangan internasional dan ekonomi dunia, di situs webnya, Global Research, mereproduksi terjemahan Shahak pada April 2013, dengan alasan bahwa hal itu memberikan cahaya bagi konsep Israel Raya (the Greater Israel) dalam kebijakan koalisi pemerintah yang dipimpin oleh partai Likud yang dipimpin oleh Binjamin Netanyahu dan kalangan militer Israel dan pembentukan intelijen. (21)

    Pada tahun 2017, Ted Becker, mantan Profesor Hukum Walter Meyer di New York University dan Brian Polkinghorn, profesor terkemuka dari Conflict Analysis and Dispute Resolution (Analisis Konflik dan Penyelesaian Sengketa) di Universitas Salisbury, berpendapat bahwa rencana Yinon diadopsi dan disempurnakan dalam dokumen kebijakan 1996 yang berjudul “A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm” (Pembersihan: Strategi Baru untuk Mengamankan Ranah), ditulis oleh kelompok riset di Institute for Advanced Strategic and Political Studies yang berafiliasi dengan Israel di Washington.

    Sunni and Syiah conflict

    A Clean Break: A New Strategy for Securing the Realm (umumnya dikenal sebagai laporan “Istirahat Bersih”) adalah dokumen kebijakan yang disiapkan pada tahun 1996 oleh kelompok studi yang dipimpin oleh Richard Perle untuk Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel saat itu.

    Kelompok ini disutradarai oleh Richard Perle, yang beberapa tahun kemudian, menjadi salah satu tokoh kunci dalam perumusan strategi Perang Irak yang diadopsi pada masa pemerintahan George W. Bush pada tahun 2003.

    Ted Becker dan Brian Polkinghorn, keduanya mengakui bahwa musuh yang diakui Israel di Timur Tengah mengambil urutan peristiwa:

    • Pendudukan Israel atas Tepi Barat 
    • Pendudukan Dataran Tinggi Golan 
    • Pengepungannya atas Gaza 
    • Invasi Libanon 
    • Pembomannya ke Irak 
    • Serangan udara di Suriah, dan 
    • Upayanya untuk mengandung kapasitas nuklir Iran

    Ketika membaca dalam terang Rencana Yinon (the Yinon Plan) dan analisis jeda pembersihan (Clean break), untuk menjadi bukti bahwa Israel terlibat dalam versi modern dari The Great Game (Permainan Besar), dengan dukungan arus Zionis di neokonservatif Amerika dan Gerakan fundamentalis Kristen (Christian fundamentalist movements).

    Mereka juga menyimpulkan bahwa Likud Party (Partai Likud) yang berarti “konsolidasi” pimpinan Benjamin Netanyahu adalah sebuah partai politik sayap kanan di Israel, tampaknya telah mengimplementasikan kedua rencana tersebut, Rencana Yinon (the Yinon Plan) dan analisis jeda pembersihan (Clean break). (42)

    Permainan Besar atau The Great Game adalah istilah yang pertama kali disebutkan oleh Arthur Connolly, yang mengacu pada persaingan dan konflik strategi antara Imperium Britania dan Kekaisaran Rusia demi supremasi di Asia Tengah.

    Periode “Permainan Besar” berlangsung sejak Perjanjian Gulistan antara Rusia dan dinasti Qajar di Persia (1813), hingga Konvensi Inggris-Rusia tahun 1907. Setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, konflik Inggris-Rusia kembali terjadi antara Britania Raya dan Uni Soviet, namun dengan intensitas yang lebih rendah yang dikenal sebagai Perang Dingin (Cold War).

    Bagaimana dengan wilayah Indonesia?

    Setelah Israel dengan jelas mempublikasikan dokumen dan strategi mereka, akankah warga dunia bahkan kita diam saja melihat mereka melaksanakan programnya? Atau apakah strategi dan tak-tik ini hanya satu?

    Semua rencana “Yinon Plan” di wilayah Timur Tengah, sebagian besar telah terlaksana, dan sebagian kecil tidak, atau bisa dibilang BELUM. Namun tak menutup kemungkinan rencana pembentukan negara besar “The Greater Israel” atau Israel Raya (Eretz Yisrael Hashlema) akan tetap dijalankan dan harus terlaksana alias tetap harus terwujud.

    Jika Anda melihat bendera Israel, nampak jelas dua garis berwarna biru yang ditengahnya terdapat logo Bintang Daud sebagai simbol wilayah negara Israel Raya.

    Tahukah Anda apa maksud kedua garis biru tersebut? Kedua garis itu adalah dua sungai yang membentang sebagai batas negara Israel Raya, yaitu Sungai Nil di Mesir, hingga ke sungai Eufrat di Irak.

    Jika Anda melihat bendera Israel, nampak jelas dua garis berwarna Pemakaian keagamaan dari “Israel Raya” merujuk kepada salah satu pengertian Alkitab dari Tanah Israel yang ditemukan dalam Kejadian 15:18-21, Ulangan 11:24, Ulangan 1:7, Ulangan 34:1-15 atau Ezekiel 47:13–20.iru yang ditengahnya terdapat logo Bintang Daud sebagai simbol wilayah negara Israel Raya.

    Saat ini, definisi paling umum dari wilayah yang melingkupi istilah tersebut adalah wilayah Negara Israel yang dipadukan dengan teritorial yang diduduki Israel.

    Dalam sejarah, kaum Zionis Revisionis memakai sebuah pengartian dari seluruh wilayah yang masuk Palestina Mandat Britania, yang meliputi Mandat Palestina itu sendiri dan Trans-Yordan, yang dikembangkan secara terpisah setelah 1923.

    Sistim POLITIK PECAH-BELAH (divide et īmpera) negara berdasarkan agama, rasial, suku, etnis, dan golongan yang dilakukan mereka memang sudah tersohor seantero planet Bumi sejak masa lampau. DENGAN BERBAGAI CARA yang picik, terutama dengan membonceng dan mengunggulkan agama, rasial, suku, etnis, dan golongan sebagai KULIT. Karena yang terpenting adalah TERPECAH agar dapat DIKENDALIKAN.

    Zionis akan berusaha memecah-belah agar dapat mengontrol negara-negara yang tak mau patuh dan tunduk kepada mereka.

    Jika tak mau maka negara-negara yang tak mau patuh dan tunduk kepada mereka akan “di cap” sebagai negara “teroris” atau “komunis”, sementara mereka para Zionis adalah Satanis.

    Misalnya saja sebagai contoh: Iran yang mulai dituduh teroris karena penganut Syiah, sebuah kartu As yang dapat mereka mainkan dengan kelompok Islam Sunni untuk mengadu domba.

    Juga Korea Utara, Venezuela, Cina, dan semua negara yang dekat dengan Blok-Timur. Propaganda barat sangat maju karena memegang nyaris semua mediadi planet ini.

    Di dunia ini, sejak “zaman baheula” hanya ada DUA KEKUATAN UTAMA saja, yaitu paham Kapitalis dan paham Sosialis. Paham Kapitalis adalah entitas pemilik banyak modal, uang, tanah, dan kekuasaan, dan PASTI akan menjadikan budak bagi semua manusia lainnya. Jumlah mereka para elit hanya sedikit, sekitar 1% persen saja dari seluruh penduduk Bumi.

    Para elite, aristokrat dan pengusaha ultra kaya yang hanya berjumlah 1% persen itu, tidak akan mau membagikan kekayaannya yang sudah bagai sampah, karena saking kayanya, kepada manusia miskin se-planet ini. Perlu pula ketahui, jika kekayaan mereka dibagikan, maka tidak ada lagi manusia atau individu yang miskin di planet ini.

    Mereka lebih baik memanfaatkan dan “memainkan” kekayaannya untuk dapat menguasai manusia seantero planet ini dalam satu komando mereka, “the New World Order” (NWO), melalui politik pecah belah (divide et īmpera atau “divide and rule” atau “memecah dan memerintah”), politik adu domba, fitnah dan sejenisnya, hingga saling berperang, terkotak-kotak sehingga akhirnya manusia seantero dunia dapat mereka kuasai, karena mereka berpengaruh dalam hal apapun! Anda pun tak dapat mengelaknya.

    Sementara Sosialis adalah sebaliknya, sepeti namanya ‘sosial” maka akan bersifat lebih horizontal antar manusia, tak ada yang begitu sangat kaya, dan saling berbagi dengan lainnya. Nah, pertanyaannya: Agama diturunkan untuk apa, menjadikan manusia bersifat kapitalis atau sosialis??? Karena itulah kenapa agama juga “dihajar” habis-habisan oleh para kapitalis hingga akhir zaman.

    Jadi jangan heran jika kini Islam diadu-domba agar dapat dikuasai untuk dikendalikan. Dan barrier atau pembatas atau penghalang mereka kini tinggal satu, yaitu: umat Islam (Muslim).

    Para pakar konspirasi YAKIN, bahwa rencana “Yinon Plan” bukan satu-satunya rencana pro-Zionis, masih ada beberapa rencana “OVER TOP SECRET” lainnya yang sedang dijalankan memecah belah negara-negara di dunia hingga akhir zaman. Apakah Indonesia termasuk dalam perencanaannya?

    Indikasinya sangat mudah, yaitu kembali ke akar masalah: Jika mulai terjadi politik pecah-belah dengan membonceng dan mengunggulkan agama, rasial, suku, etnis, dan golongan sebagai KULIT. Akhirnya, semua kembali lagi kepada individu kita masing-masing… Paham atau tidak?

    Sumber:

    (1) pp. 49–59,Yinon, Oded (February 1982b). Beck, Yoram, ed. “אסטראטגיה לישראל בשנות השמונים” [A Strategy for Israel in the 1980s]. Kivunim (in Hebrew). 14: 49–59.

    (2) Karmi, Ghada (2007). Married to Another Man: Israel’s Dilemma in Palestine. Pluto Press. ISBN 978-0-745-32066-3.

    (3) Bernstein, Deborah (2012). “Introduction”. In Bernstein, Deborah. Pioneers and Homemakers: Jewish Women in Pre-State Israel. SUNY Press. pp. 1–20. ISBN 978-0-791-49660-2.

    (4) Chomsky, Noam (1999). Fateful Triangle: The United States, Israel, and the Palestinians. South End Press. p. 456. ISBN 978-0-896-08601-2.

    (5) Primakov, Yevgeny (2009). Russia and the Arabs: Behind the Scenes in the Middle East from the Cold War to the Present. Translated by Paul Gould. New York: Basic Books. p. 201. ISBN 978-0-465-01997-7.

    (6) Masalha, Nur (2000). Imperial Israel and the Palestinians: The Politics of Expansion. Pluto Press. pp. 94–95. ISBN 978-0-745-31615-4.

    (7) Sleiman, André G. (2014). “Zionizing the Middle East: Rumours of the ‘Kissinger Plan’ in Lebanon, 1973–1982”. In Butter, Michael; Reinkowski, Maurus. Conspiracy Theories in the United States and the Middle East: A Comparative Approach. Walter de Gruyter. pp. 76–99. ISBN 978-3-110-33827-0.

    (8) Legrain, Jean-François (2013). “The Shiite Peril in Palestine:Between Phobias and Propaganda”. In Maréchal, Brigitte; Zemni, Sami. The Dynamics of Sunni-Shia Relationships: Doctrine, Transnationalism, Intellectuals and the Media. Hurst Publishers. pp. 48, 266. ISBN 978-1-849-04217-8.

    (9) Becker, Ted; Polkinghorn, Brian (2017). A New Pathway to World Peace: From American Empire to First Global Nation. Wipf and Stock. ISBN 978-1-532-61819-2.

    (10) Cohen Tzemach, Yaron (8 February 2016). “The Conspiracy Theorists Celebrate: How Israel Created ISIS in order to Take Over the World – and What is the Connection to the Gangster Dr. Farid?”. TheMarker (in Hebrew). Retrieved 14 July 2017. 

    (11) pp. 49–59, Yinon, Oded (February 1982b). Beck, Yoram, ed. “אסטראטגיה לישראל בשנות השמונים” [A Strategy for Israel in the 1980s]. Kivunim (in Hebrew). 14: 49–59. 

    (12) Labévière, Richard (2000). Dollars for Terror: The United States and Islam. Algora Publishing. ISBN 978-1-892-94120-6. 

    (13) Ali, Abbas J. (Fall 1990). “Management Theory in a Transitional Society: The Arab’s Experience”. International Studies of Management & Organization. 20 (3): 7–35. JSTOR 40397141

    (14) Ahmad, Muhammad Idrees (2014). The Road to Iraq: The Making of a Neoconservative War. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-748-69304-7. 

    (15) Heard, Linda S. (26 April 2006). “Is the US Waging Israel’s Wars?”. CounterPunch. Retrieved 9 October 2016. 

    (16) Tilley, Virginia (2010). The One-State Solution: A Breakthrough for Peace in the Israeli-Palestinian Deadlock. University of Michigan Press. ISBN 978-0-472-02616-6. 

    (17) Ahmad, Muhammad Idrees (2014). The Road to Iraq: The Making of a Neoconservative War. Edinburgh University Press. ISBN 978-0-748-69304-7. 

    (18) Chossudovsky, Michel (6 September 2015). Shahak, Israel, ed. “Editorial note”. Global Research.

     Youtube

    [ODED YINON PLAN] THE GREATER ISRAEL PROJECT (Sheikh Imran Hosein)

    The Oded Yinon Plan : Greater Israel in never seen before detail

    WHISTLEBLOWERS!: 'The Greater Israel Project' Explained by Ken O'Keefe

    NATO's Plan to Divide the Middle East, Oded Yonin, Bernard Lewis

    Comments

    Post a Comment